Monolog Pagi

June 30, 2008 / by / 14 Comments

Sorot matahari telah menembus melalui kisi-kisi jendela kamar, mencakar-cakar wajah lelaki itu. Dia menggeliat, pelan-pelan membuka kedua kelopak matanya. Masih memicing karena silau sinar yang seperti menyorot ke dirinya. Menyorot ketelanjangan dan dosa-dosanya. Perlahan dia angkat tubuhnya, menyisihkan selimut yang menutup hingga ujung dadanya. Dada bidang yang telah menjadi sandaran wanita-wanita yang tak kurang suatu apapun kecuali pelampiasan hasrat. Pelampiasan hasrat yang berkedok kesepian dalam hidup disaat semua impian telah terengkuh dalam pelukan.

Lelaki yang tersorot matahari itu bersandar di ujung peraduan. Menepis helai rambut yang menggantung di dahinya dan menyingkap sinar mata yang tajam. Sinaran yang mampu membuat wanita-wanita yang tampak bermartabat itu luruh dan larut dalam gelora nafsu. Puluhan wanita telah tersesat dalam tatapannya. Mereka haus perhatian, kemudian memuaskan dahaganya dengan cinta semu hingga akhirnya mabuk dalam desah yang saling berpacu menuju puncak kenikmatan dosa. Namun kenikmatan itu berbayar. Ada lembaran-lembaran merah yang harus ditinggalkan di atas seprei kusut sisa pergumulan semalam. Ada topeng yang harus segera dipakai begitu melangkahkan sepatu hak tinggi mereka keluar dari kamar hotel. Lalu masih pantaskah gelar terhormat disandangkan di atas kepalsuan mereka?

Namun ada yang berbeda dirasakan sang lelaki pagi ini. Ia menyapukan pandangan ke seluruh sudut kamar. Bias matahari membantunya menerjemahkan obyek-obyek yang remang. Otaknya menerjemahkan sesuatu yang tidak biasa. Ya, tidak biasa. Ia menyadari jika banyak pernak-pernik di kamar ini yang terasa sangat personal. Deretan botol parfum dan alat bersolek di atas meja rias, beberapa helai baju yang tergantung di belakang pintu, lalu buku-buku yang tersusun rapi di atas rak, semuanya tidak biasa. Perlahan dia memalingkan wajah melewati bahunya. Kedua matanya menangkap sesosok wanita yang masih pulas di sisinya. Tubuh wanita itu menghadap ke diri sang lelaki dengan tangan tertangkup di dada. Dalam tidur bibirnya seperti tersenyum. Sang lelaki menelusuri lekuk tubuh yang masih bergelut mimpi itu, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya saja tubuh itu terbalut selimut dari atas dada hingga ujung kakinya. Kulit mulus pundaknya seperti berkilau seiring matahari yang semakin meninggi, mengumbar sinarnya di sudut-sudut ruangan. Apakah wanita ini tidak berbusana di balik selimutnya? Darah sang lelaki itu tiba-tiba berdesir…

Sekelumit memori berkilat di benaknya. Dia ingat sedang berada dalam jeratan gemerlap lampu. Lalu apa lagi? Lelaki itu tidak ingat apa-apa lagi setelahnya. Tapi wanita di sampingnya sekarang ini, dia mengingatnya. Dia hafal gemilangnya wajah itu, dia masih ingat hitam rambut itu, dan mungkin jika selimut ini dia singkap pahatan tubuh itu juga masih terekam di sudut hatinya. Tetapi sang lelaki tidak berani melakukannya. Dia heran sendiri kenapa tidak berani melakukannya. Semua memang tidak seperti biasanya. Akhirnya dia memilih diam saja.

Wajah yang tersorot matahari di sudut peraduan dengan tubuh setengah telanjang, tangan tertumpang di atas pangkuan. Sejenak kemudian lelaki itu gelisah, dia tidak ingin diam dalam kebingungan. Dihelanya nafas seraya menatap langit-langit. Ada gemintang disitu, yang telah pudar dicerca matahari. Dipalingkannya lagi kepalanya ke paras wanita, ingin sekali dia bercakap dengan jelita ini. Ada rindu yang tiba-tiba menggelegak. Rindu bening mata di balik kelopak yang masih terkatup. Namun dia tidak bisa bertanya pada rindu, kenapa dirinya sampai di tempat ini. Pun dia tidak bisa bertanya pada paras juga bening mata, karena semuanya masih disembunyikan oleh mimpi.

Lelaki itu kemudian memutuskan untuk berbicara pada helai-helai rambut. Perlahan dia membelai mereka, lembut, dan berbicara.

Maafkan aku, sejenak hilang dari kesadaran. Tak secuil pun ingatan bisa menuntunku kesini. Aku tahu dirimu yang memegang penjelasan. Ceritakan padaku, seorang kembara yang tersesat, soal waktu yang terlewat. Aku memang tak tahu jalan menuju tempat ini. Tapi aku mengenalmu, perempuan yang tidur dalam keindahan. Tapi itu sudah berlalu delapan tahun yang lalu. Aku pernah samar melihatmu dulu, ketika nafasku tinggal satu satu. Aku pernah merasakan genggaman tanganmu di atas dipan dengan seprei putih, selimut putih, dan tirai-tirai yang juga putih. Dan aku tahu namamu, ya akhirnya aku tahu namamu, karena setiap hari kamu ada disitu. Di ujung dipanku dengan sebuah buku, menunggu bilamana aku terjaga.

Aku tak tahu kenapa hanya ada kamu, selain orang-orang berseragam putih yang sering mengganggu nyenyak tidurku. Seminggu kemudian aku dipindahkan ke panti rehabilitasi. Orangtuaku yang memindahkanku. Mereka baru saja pulang dari Eropa kemudian menjemput anaknya. Menyerahkanku ke tangan ahlinya, bukan kembali ke rumah, bukan. Karena mereka bukan ahlinya. Mereka hanya mau anaknya dibengkelkan lebih dulu hingga betul seperti mau mereka. Tak masalah berapa biayanya. Mereka mampu, asal tidak membuat malu. Dan kamu, masih setia muncul di hadapanku. Namun kali ini tidak di ujung dipan lagi. Kamu datang tiap minggu pagi, menyapa di depan pintu kaca yang berbingkai jati. Selalu ada sekotak nasi kuning dengan sepotong ayam dan sejumput sambal yang kamu bawa beserta seulas senyum manis dan binar mata yang gemilang. Ah, bening mata itu sungguh aku menyukainya. Lalu kau ajak aku menuruni beranda menuju taman depan rumah. Rumah yang berisi orang-orang yang murtad dari zat-zat pemberi kenikmatan sesaat. Di bawah angsana sekotak nasi kuning itu selalu tandas di mulutku. Duduk berdua seraya kamu bercerita. Tentang nakalnya adik-adikmu, cerewetnya ibumu, dan gurau ayahmu yang sering menanyakan siapa gerangan pacarmu.

Ya, kamu memang cantik. Wajar jika dirimu sudah punya seorang pacar. Seharusnya pacarmu mengajakmu jalan-jalan di hari minggu begini. Tapi kenapa setiap hari minggu aku selalu menjumpaimu di tempat itu? Ah, aku tak pernah menanyakannya padamu. Aku terlalu asyik mendengar celotehmu. Sesungguhnya aku iri. Aku tidak punya seorang adik ataupun kakak. Aku punya Mama dan Papa, tapi kehadiran mereka hampir selalu digantikan dengan uang. Akhirnya dengan uang itu aku beli semua perhatian yang mampu aku beli. Namun sayang aku tak bisa membeli kesetiaan. Semua kenikmatan itu hanya sesaat, semua perhatian itu hanya sekejap. Kamu lihat sendiri, hanya ada kamu saat itu yang bahkan tak kukenal di duniaku sebelumnya. Seniari, perempuan yang lahir di senja hari, begitu namamu. Rembulan yang menggantikan matinya matahariku, begitu artimu untukku.

Gerak jemari sang lelaki yang gemulai membelai terhenti. Memori mengusik hatinya, memberinya pertanyaan yang menggelisahkan.

Mengapa aku memilih terjatuh lagi? Ya, jika aku jatuh lagi kali ini memang karena aku memilihnya. Memang bukan jalan yang sama seperti yang kupilih dulu. Tetapi sama gelapnya. Mengapa? Padahal ada banyak jalan lain yang terang? Apakah aku merasa bertanggungjawab atas matahariku yang mati? Sehingga jalan gelap ini yang kupilih sebagai ziarah atas kematiannya.

Jemarinya melayang, sejenak kemudian mendarat di pelipis rembulannya yang pernah hilang. Menyibak poni yang menutupi alis yang melengkung seperti pelangi. Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Seperti ingin menyimpan nafas sebanyak-banyaknya di paru-paru sebelum terjun menyelami memorinya lebih dalam.

Enam bulan aku ada di panti itu, sedangkan waktu tak menungguku. Semuanya bergulir dengan cepat. Celotehmu di bawah angsana pun seperti diary yang mengisi lembaran-lembaran baru. Terus berganti setiap kali kita berjumpa. Aku masih ingat ceritamu tentang ujian SMA dan rencana kuliah. Betapa beruntungnya dirimu yang mampu menata masa depan. Sedangkan aku, SMA saja aku tak mampu menyelesaikan. Kamu pasti juga tahu, bubuk iblis itu telah membujukku untuk terjun ke jurang. Lalu ketika aku tersadar dalam remuk redam, pelan-pelan aku harus mendaki lagi sebelum bisa menatap langit. Menyesal? Tentu. Tapi ada kamu yang dengan sekotak nasi kuning beserta seulas senyum manis dan binar mata yang gemilang menyapa di depan pintu kaca berbingkai jati tiap minggu pagi. Ada kamu yang tak pernah lelah berbagi sinar. Lalu kenapa aku harus menyerah? Tidak ada alasan untuk itu.

Bintang-bintang plastik di langit-langit kamar yang bisa berpendar kian pudar. Ketika cahaya matahari bergelimang, plastik-plastik itu nampak sangat biasa dan teracuhkan. Namun mereka dengan sepenuh hati membuka diri dengan hadirnya sinar. Menyerap sebanyak-banyaknya yang mereka mampu. Ketika tabir gelap tiba, mereka sudah punya cukup sinar untuk menjaga eksistensi. Punya martabat yang tak mudah larut dalam gelap. Karena mereka bintang, yang selalu tampak bersinar di tiap malam, meski hanya terbuat dari plastik sekalipun.

Kemudian aku kehilanganmu. Di suatu pagi, tapi bukan di hari Minggu. Aku heran, tak biasanya kamu datang bukan di hari Minggu. Kali inipun tak ada sekotak nasi kuning, tak ada pohon angsana, dan tak ada senyum ceria. Kamu bilang mungkin tak akan sempat menjengukku lagi. Kamu bilang jika kamu diterima kuliah di lain kota. Kamu bilang aku harus bertekad untuk kembali meniti hidup. Kamu bilang matahariku akan hidup kembali. Kamu bilang jika seluruh dunia tak percaya maka kamu yang satu-satunya selalu percaya padaku. Lalu kamu bilang…CINTA… Dan aku kehilanganmu bahkan sebelum sempat menalar semua kata-kata.

Matahari yang telah sangat renta merangsek naik. Mendaki dengan susah payah ke atas langit. Mungkin lelah, namun dia sadar, kematiannya adalah hak sepenuhnya Sang Pencipta. Dan pagi ini dia menyaksikan seorang pecundang berjingkat-jingkat menuruni beranda di sebuah rumah kontrakan, menoleh sebentar ke jendela yang masih tertutup dimana pot-pot kembang tertata rapi di bawahnya, lalu setengah berlari menghilang di belokan.

Ketika sosok indah di balik selimut itu nanti bangun, secarik kertas post it yang tertempel di kaca rias akan memberitahunya bahwa cinta itu terbang lagi. Sepertinya kali ini dia harus siap kepakkan sayap yang lebih kuat untuk mencari dan menyelamatkan cintanya yang akan menghujam bumi. Absurd.

::repost dari http://tukangkopi.wordpress.com


ABOUT THE AUTHOR