Naga di secangkir kopi

June 30, 2008 / by / 10 Comments

Bandung, 20:45, di kedai kopiku, hujan gerimis di luaran.

“Minta Americano kaya’ biasa aja, Ren”, pinta seorang wanita yang baru datang kepadaku dan langsung terbayang di otakku secangkir black coffee.

Sejurus kemudian aku sudah memasukkan biji-biji kopi ke dalam grinder. Biji-biji itu menimbulkan keributan sesaat ketika grinder kunyalakan dan hanya dalam beberapa detik mereka hancur menjadi bubuk yang semerbaknya memenuhi bar. Kulepaskan portafilter dari mesin kopi, kutakar 14 gram bubuk coklat itu ke dalamnya dan kupadatkan dengan tamper. Kupasang kembali sejoli dari brew head itu pada posisinya semula, kusediakan cangkir di bawahnya, dan kutekan tombol double shot pada mesin kopi dengan mesra. Cairan hitam kecoklatan mengucur ke dalam cangkir seperti air terjun, namun tenang. Tidak bergemuruh. Tangan kananku menumpang di atas mesin kopi, menunggui sari-sari kenikmatan itu bermuara semuanya di dalam cangkir. Sekilas sosok wanita yang menunggu pesanannya di bar tampak dari ekor mataku. Cantik, modis, berkelas, tapi murung…

Kupenuhi secangkir double espresso tadi dengan air panas hingga batas bibir, berharap akan mengurangi pahit yang akan ia teguk dalam hidupnya. Dan secangkir kopi yang kuseduh dengan segenap cinta seperti cangkir-cangkir sebelumnya itu kusajikan di atas meja bar. Di hadapan wanita sendu itu. Sesaat bola-bola mata kami saling beradu. Aku mencoba membaca apa yang telah bergulir di harinya. Dan dia seperti mencoba mencari keteduhan dan kehangatan pada tangan yang menyeduhkan kopi hampir setiap malam kepadanya ini. Mungkin.

“Americano yang kaya’ biasa”, ucapku seraya menyorongkan kopi pesanannya.

“Gue udah capek Ren..”

“Jangan..!”

“Kenapa harus…?”, wanita itu sedikit terkejut mendengar ucapan spontanku.

“Karena itu adalah janjimu ketika memulai.”

“Tapi…”, dia menahan ucapannya.

“Kenapa harus ada tapi? Sedangkan dulu kata itu tak pernah sedikitpun kudengar terucap darimu.”

“Huh..lo bener, Ren. Tapi…”

“Eits..Sudah dua kali kata ‘tapi’ kamu ucapkan dalam lima detik ini..”, kupotong perkataannya seraya tersenyum. Dia juga tersenyum. Perlahan wanita itu menyesap kopi dari cangkir yang tadi dia lingkari dengan kedua tangannya di atas meja bar. Kopi pahit, tanpa gula. Memang begitu kesukaannya sedari dulu, ketika aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Dia suka kopi yang jujur, tanpa gula maksudnya, walaupun dia tahu itu pahit tapi dia tidak pernah mencercanya. Katanya kopi yang pahit itu bisa memberikan rasa hangat buatnya. Bisa memberinya semangat, dan selalu mendengarkan keluh kesahnya setiap hari. Aromanya juga memberikan ketenangan. Aku sempat berpikir kalau dia itu gila. Masa berkeluh kesah kok ke secangkir kopi. Tapi itulah menurutnya. Kopi selalu menemaninya melewatkan hari. Meski pahit dia selalu kembali padanya. Dia menolak melarutkan gula dalam kopinya karena dia tidak ingin kembali karena manisnya gula tetapi karena citarasa kopi itu sendiri. Dan dia selalu ingin disuguhkan kopi yang jujur. Ah, aneh pikirku.

Namun saat ini dihadapanku, di depan kopi hitamnya, kulihat dia sedang menyesali kejujuran yang dulu pernah dibuangnya. Kejujuran yang disisihkan demi sebuah ketenangan karena seseorang mampu memberinya kemapanan. Ketika dia menghindar dari sulur-sulur cinta yang tanpa tendensi dan menimbunnya dengan realita dan logika.

Keyakinan yang selalu kulihat selama lima tahun bersamanya dulu tak berbekas ketika datang lelaki mapan ini dalam kehidupannya. Bukan salah dia sepenuhnya jika dia goyah, bukan keinginan dia sepenuhnya juga untuk membuka hati kepada yang lain. Aku yang tidak bisa memberi jawaban pasti. Dan aku tidak menyalahkannya yang ingin sebuah kepastian. Wanita tidak hanya ingin dicintai, tetapi dia juga mau kepastian bahwa dialah yang dicintai. Satu-satunya dan selamanya.

“Janjimu ketika memulai dengannya adalah sekali untuk selamanya. Cintamu telah paripurna untuk kamu persembahkan kepadanya. Dan semestinya cinta itu adalah bentuk kejujuran hati yang mengawali pagi-pagi indah ketika kamu terbangun dan menyadari bahwa yang berada di sampingmu adalah sang pangeran pujaanmu”, ucapku kemudian setelah beberapa saat kami terdiam. Aku memalingkan tubuh darinya, melepaskan portafilter dari mesin dan membuang ampas kopi yang menghitam. Ritual biasa setelah membuat kopi yang tadi lupa kulakukan gara-gara pelanggan setiaku yang satu ini sedang meminta perhatian. Kubilas benda berbentuk gayung dari logam itu dengan air dan kupasangkan lagi pada tempatnya.

“Heh, pangeran pujaan?”, cibir si wanita.

“Ya, pangeran pujaan yang kemaren sore udah mati-matian bertarung dengan naga yang menculikmu. Yang udah nekat menyelamatkanmu di tengah hujan deras. Yang nggak takut mati konyol. Hehehe…”

“Ah, dasar tukang ngayal. Lagian kok kemaren sore si? Aku kawin kan udah dua tahun yang lalu.”

“Namanya juga ngayal. Dasar orang lagi sensitif. Susah diajak bercanda”, godaku.

“Kalo kamu mau nggak?”

“Mau apa?”

“Nyelamatin aku kalo misalnya sore-sore pas lagi ujan aku diculik ama naga.”

“Males ah, kamu kan udah punya suami. Bisa digebukin ampe jadi dendeng aku ntar.”

Dan kami berdua pun tertawa terbahak-bahak.

“Kalo misalnya aku belom punya suami?”, lanjutnya.

“Males juga. Mending tiduran di rumah pake selimut sambil bikin kopi panas. Mau ujan kek, mau enggak kek. Yang namanya ngelawan naga mah sama aja cari mati. Hahaha…”

Dan kami pun tertawa kembali, kali ini lebih lepas. Tidak ada orang lain di kedai ini selain kami berdua. Seperti kembali ke malam-malam bertahun-tahun yang lalu. Ketika masing-masing dari kami masih saling memiliki. Hanya berdua saja bercengkerama, ditemani dengan cangkir kopi kami masing-masing. Malam ini kedai kopiku memang agak sepi dari hari biasanya, mungkin hujan deras sesorean tadi membuat orang-orang malas nongkrong di luar rumah. Aku juga tidak ambil pusing, lagian sebentar lagi kedaiku juga mau tutup. Aku melirik ke jam tanganku, 21:40.

“Boleh nggak aku kembali ke kamu?”

“Elis!”, sontak aku menyebut namanya. Terkejut mendengar pertanyaannya. Pertanyaan yang menusuk hati. Pemintaan yang mengusik nurani. Pengharapan yang menghempaskan aku kembali kepada ingatan dua tahun yang lalu. Sebuah kenyataan yang tidak bisa aku hindari ketika aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Mungkin lebih tepatnya takut untuk memenuhi harapannya. Lalu ketika seorang pangeran dari negeri antah berantah datang melamarnya tak lagi kuasa dia menolak mimpi-mimpi yang digenggamkan dalam tangannya.

“Lis, satu-satunya tempatmu harus kembali saat ini adalah ke sofa di rumahmu yang hangat. Bercumbu dengan pangeranmu di depan TV dan berlanjut ke balik selimut di peraduan cinta kalian. Bukan kembali kepadaku!”, aku menatap kedua matanya lekat-lekat. Menyadari emosiku yang sedikit meninggi dan tatapan tajamku dia tertunduk. Kami tidak berbicara untuk beberapa saat, aku kemudian menyibukkan diri dengan membersihkan dan membereskan semua perkakas di bar. Elis sendiri tampak sibuk menghabiskan sisa-sisa kenikmatan di dalam cangkirnya.

“Ren, maafin aku kalo pernah khianati cinta kita.”

“Udah nggak penting lagi kamu ngomong kaya’ gitu. Udah basi. Toh kita sudah melewatinya dengan sangat baik. Buktinya kamu masih ada disini kan? Hampir tiap hari malah. Kaya’ nggak ada kerjaan aja di rumah”, ujarku sambil membersihkan mesin kopi. Dia terkikik di balik telapak tangan yang menutup bibirnya. Aku tersenyum saja melihatnya.

“Ah, suamiku itu pengertian sekali kok. Dia anggap kamu tu sebagai sahabatku, bukan sebagai mantan pacar. Aku selalu bilang ke dia kalo ke kedai kopi kamu ini buat nyari inspirasi. Untungnya dia ngerti banget profesiku sebagai penulis. Dan dia percaya sepenuhnya kepadaku.”

“Dan kamu mencintainya karena itu?”

“Salah satunya..”, senyumnya mengembang. Kedua bola matanya yang bening menerawang. Akupun tersenyum, bahagia bisa selalu ada bersamanya, walaupun tidak harus saling memilki. Bahagia karena bisa ada untuknya. Ketika dia kehilangan arah dan aku ada untuk menuntunnya kembali.

“Ren, anterin pulang..”, pintanya dengan manja.

“Boleh, tapi bantuin beresin kafe dulu!”

“Ah, kamu…”

Episode secangkir kopi malam ini pun berakhir apa adanya. Seperti yang sudah seharusnya terjadi. Tanpa ada pemanis yang membuat kami ingin kembali menikmatinya malam esok. Tidak perlu kristal-kristal itu untuk membuat kami kembali dan kembali lagi membuka episode secangkir kopi yang baru di malam-malam nanti.

::repost dari http://tukangkopi.wordpress.com dengan sedikit perubahan.


ABOUT THE AUTHOR