Archive for July, 2008

22 Jul

Bahkan saya tidak tau harus memilih judul apa

By / on My Story

Hari ini…Sudah lima hari saya tidak menulis. Sama sekali tidak menulis. Padahal lima hari terakhir ini saya sedang menikmati badai rasa. Manis, asem, asin ramai rasanya. Banyak ungkapan-ungkapan baru yang saya temukan dalam lima hari terakhir kehidupan saya yang sepertinya bagus kalo dijadikan bahan tulisan.

.

Tapi…Saya masih belum ingin menulis. Belum ada bisikan yang menyuruh saya untuk melarikan pena di lembar putih. Ya, saya memang masih sering menulis di atas kertas sebelum dipindahkan ke layar monitor. Ada sebuah romantisme antara saya, pena, dan kertas yang belum ingin saya tinggalkan sepenuhnya.

.

Jadi…Ya sudah, seperti biasa. Saya biarkan saja dunia kata saya tidur dulu. Tidak lama nanti juga saya akan merindu. Seperti kalender saya yang sudah dilipat rindu cahaya purnama selanjutnya di kotamu. Bingung? Jangan dipikirkan… 😀

READ MORE
17 Jul

Moon illusion

By / on My Imagination

curhat lagi Bre…;))

From: “Arimbi” <riri_cute@yahoo.com> ………………………Friday, October 20, 2005 10:00 PM

To: bre.handojo@yahoo.com

.

Akhirnya aku sadar, Bre. Bulan itu memang sudah tercipta pada jarak yang semestinya. Tiga ratus delapan puluh empat ribu kilometer terentang sudah cukup untuk mengatakannya indah. Namun pendar cahaya dari jauh itu juga men-sekresi-kan rindu dari sel-sel kehidupanku. Rindu itu menguraikan sisa-sisa asa, memecah pesimis yang mengungkung tentang harapan yang masihkan ada. Kehadirannya di langitku memberikan kesempatan aku merasakan bahagia. Seringkali sebenarnya aku berharap dia menyapa dan mendekat. Aku mengkhayalkan wajahnya yang cahaya akan menenangkan bila dia hadir lebih dekat. Kalau dia dekat tentu saja aku tidak perlu mendongakkan kepala ke langit tiap dia ada. Capek tau, Bre. Hahaha…

(more…)

READ MORE
10 Jul

Coffee affair

By / on My Imagination

Demi gelas-gelas kopi tidak berampas yang merekatkan kita di malam-malam sepi bersumpahlah, bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku. Jika kamu tidak mencintaiku maka sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu. Cinta hanya menambah pelik kebersamaan. Kita sedang berusaha untuk menawarkan rasa pahit hidup yang membekas di pangkal lidah. Jadi yang hanya perlu kita lakukan adalah menerima kepahitan itu sampai menjadi tawar. Mungkin tetap tinggal sebagai sebuah senyawa pahit yang sama, tapi setelah waktu berlalu tak akan lagi menjadi getir yang mengganggu rasa kita. Renungkan lagi, kita tercipta satu sama lain hanya sebagai peredam amarah dan gelisah. Kita adalah dua atom dari unsur berbeda dengan elektronegativitas sama yang berbagi elektron dalam satu molekul. Kita disatukan oleh kepedihan yang sama. Aku dan kamu saling mengisi ruang dan bertukar simpati. Hati yang kecil ini tidak bisa dibiarkan hampa sebab kesadaran kita bisa hilang. Kalau kesadaran kita hilang kita tidak bisa berpura-pura bahagia di luar sana. Sedangkan keberadaan kita satu sama lain hanyalah sebuah substitusi yang temporer. Disini kita hanya sedang berbagi beban, bukannya bercinta. Cinta hanya menambah beban di atas titian yang kita bangun dan kita tidak ingin titian itu patah karena beban cinta yang kian hari kian membesar. Aku, kamu, dan cinta bisa terluka, lumpuh atau bahkan mati. Lalu siapa nanti yang akan menjadi jemaat renungan kopi kalau kita mati? Sudahlah, kita tidak perlu cinta. Bersumpahlah bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku dan sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu.

.

~ sebuah fragmen dari khayalan panjang

READ MORE
06 Jul

Waktunya kembali

By / on My Imagination

Sudah kulipat Tuhan dalam sajadah titipan ibu dan tersimpan rapi dalam lemari. Sudah kugencet Tuhan yang terlipat dalam sajadah dengan tumpukan jeans, kemeja, t-shirt, dan sebagainya. Berlagak melupa.

Tiap hari kupakai baju dunia. Berlari kesana kemari mengejar kejayaan. Jilat sana sini mencari celah biar bisa berdiri paling depan. Oh iya, senang-senang keluar masuk klab juga wajib. Bersyukur atas segala kemenangan.

Hidup tidak mungkin lebih sempurna dari ini. Tidak ingat bahwa ada yang sengaja aku lupa. L. U. P. A. Hingga akhirnya aku kehilangan keseimbangan di lantai dansa dan jatuh terjerembab.

Entah siapa menarik dan memeluk tubuhku. Lalu kutemukan wajahMu di hadapanku.

Tuhan, kenapa Engkau bisa ada disini?

Lupa. Aku lupa Tuhan dimana-mana.

Haruskah aku pulang sekarang?

Tiba-tiba aku rindu tersungkur di atas sajadahku.

READ MORE