Coffee affair

July 10, 2008 / by / 37 Comments

Demi gelas-gelas kopi tidak berampas yang merekatkan kita di malam-malam sepi bersumpahlah, bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku. Jika kamu tidak mencintaiku maka sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu. Cinta hanya menambah pelik kebersamaan. Kita sedang berusaha untuk menawarkan rasa pahit hidup yang membekas di pangkal lidah. Jadi yang hanya perlu kita lakukan adalah menerima kepahitan itu sampai menjadi tawar. Mungkin tetap tinggal sebagai sebuah senyawa pahit yang sama, tapi setelah waktu berlalu tak akan lagi menjadi getir yang mengganggu rasa kita. Renungkan lagi, kita tercipta satu sama lain hanya sebagai peredam amarah dan gelisah. Kita adalah dua atom dari unsur berbeda dengan elektronegativitas sama yang berbagi elektron dalam satu molekul. Kita disatukan oleh kepedihan yang sama. Aku dan kamu saling mengisi ruang dan bertukar simpati. Hati yang kecil ini tidak bisa dibiarkan hampa sebab kesadaran kita bisa hilang. Kalau kesadaran kita hilang kita tidak bisa berpura-pura bahagia di luar sana. Sedangkan keberadaan kita satu sama lain hanyalah sebuah substitusi yang temporer. Disini kita hanya sedang berbagi beban, bukannya bercinta. Cinta hanya menambah beban di atas titian yang kita bangun dan kita tidak ingin titian itu patah karena beban cinta yang kian hari kian membesar. Aku, kamu, dan cinta bisa terluka, lumpuh atau bahkan mati. Lalu siapa nanti yang akan menjadi jemaat renungan kopi kalau kita mati? Sudahlah, kita tidak perlu cinta. Bersumpahlah bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku dan sudah pasti aku tidak perlu memikirkan bagaimana aku harus mencintaimu.

.

~ sebuah fragmen dari khayalan panjang


ABOUT THE AUTHOR