Moon illusion

July 17, 2008 / by / 32 Comments

curhat lagi Bre…;))

From: “Arimbi” <riri_cute@yahoo.com> ………………………Friday, October 20, 2005 10:00 PM

To: bre.handojo@yahoo.com

.

Akhirnya aku sadar, Bre. Bulan itu memang sudah tercipta pada jarak yang semestinya. Tiga ratus delapan puluh empat ribu kilometer terentang sudah cukup untuk mengatakannya indah. Namun pendar cahaya dari jauh itu juga men-sekresi-kan rindu dari sel-sel kehidupanku. Rindu itu menguraikan sisa-sisa asa, memecah pesimis yang mengungkung tentang harapan yang masihkan ada. Kehadirannya di langitku memberikan kesempatan aku merasakan bahagia. Seringkali sebenarnya aku berharap dia menyapa dan mendekat. Aku mengkhayalkan wajahnya yang cahaya akan menenangkan bila dia hadir lebih dekat. Kalau dia dekat tentu saja aku tidak perlu mendongakkan kepala ke langit tiap dia ada. Capek tau, Bre. Hahaha…

.

Bulan memang pernah kukagumi sebagai sosok yang romantis. Jika sedang hadir di belahan bumiku kemanapun aku pergi dia selalu ada. Wajahnya tidak pernah berpaling dari tiap langkahku di gelap malam. Kadangkala dia muncul lebih dekat ke horizon sehingga tampak lebih besar dan gagah tapi lembut seperti selimut di kamarku. Aku suka tersipu-sipu sendiri kalau dia sedekat itu. Berkhayal dicium olehnya yang tak kunjung menyapa.

.

Sudah sering aku titipkan pesan untuknya pada angin yang kebetulan lewat di depan rumah. Tapi kutunggu dan kutunggu tak jua datang bulanku yang tampan dan menggoda itu menerobos masuk kamarku. Padahal tiap malam sebelum lelap jantungku selalu berdebar kacau, wajahku panas, dan keringat dingin membasahi telapakku menantikan kamu yang akan datang dengan tiba-tiba untuk memperkosa hatiku. Menyusup dengan membabi buta ke balik dasterku. Sumpah Bre, aku sudah hampir gila membayangkannya menggerayangiku. Sayang, mungkin dia terlalu jauh untuk dicapai angin.

.

Lalu seperti yang sudah kamu lihat kan, Bre? Aku nekat meskipun kamu sudah memperingatkannya. Karena perasaan ini susah buat meredamnya. Aku menderita insomnia, gelisah, eksitasi, tremor, takikardi, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi urine, dan gangguan pencernaan sebagai efek samping dari menelan cinta buta. Menurut informasi di kemasan, penggunaan dosis besar dan jangka panjang cinta ini bahkan bisa menyebabkan kerusakan hati. Aku tidak mau dihancurkan oleh ketidakpastian, Bre. Kalau aku tidak bisa buat dia turun ke bumi, maka aku yang akan naik ke langit. Jadi aku pergi, terbang ke bulan. Ingin menyudahi penantian yang tak menentu ini. Tapi ternyata…

.

Bulan itu sunyi ya, Bre. Aku tidak disambut. Sesaat aku merasa takut. Aku lihat lautan kering dan dataran tinggi diselimuti bebatuan yang pecah menyerpih dimana-mana. Tapi kemudian timbul iba. Sisi lain dari cahayanya adalah luka. Ratusan ribu komet dan asteroid sudah menggores wajahnya. Dan kenyataannya dia memang tidak setampan ketika kulihat dari bumi. Jadi khayalanku kandas setelah begitu jauh jarak kutempuh. Hehehe…Tapi bukan itu yang membuatku kecewa. Sungguh, aku rela kalaupun dia ingin aku tinggal. Aku sudah jatuh hati padanya sejak lama sekali. Masa lalunya adalah pelajaran, dan aku bersedia melewati hari demi hari bersamanya, merajut helai demi helai udara menjadi selimut atmosfir yang akan melindunginya dari bintang-bintang jatuh. Akan kurawat lukanya hingga sembuh dan menemaninya memilih jalan takdirnya.

.

Yang membuatku kecewa adalah karena dia tidak berusaha menarikku lebih kuat, tidak ingin memelukku erat. Aku merasa tertolak dan tidak diharapkan, Bre. Begitu besar resiko kupertaruhkan untuk lebih dekat dengannya tapi dia bergeming, dingin. Gravitasinya terlalu lemah untuk mempertahankanku menjejak di atasnya. Tiba-tiba aku rindu sebutir kelereng biru yang memantul di mataku, bumi.

.

Jadi begitulah, Bre. Akhirnya aku kembali ke sini. Di kamarku yang nyaman di bumi. Menulis e-mail buatmu di balik selimutku yang hangat. Aku jadi teringat sebuah quote manis dari Eugene Cernan, commander of Apollo 17:

We went to explore the Moon, and in fact discovered the Earth

.

Perjalanan Bumi-Bulan-Bumi dengan selamat dan sentosa akan mustahil tanpa pelindung. Dan aku baru menyadari bahwa kamulah pelindungku selama ini. Tanpamu tubuhku tidak akan mampu menahan kesadaran dalam kekosongan dan hanya dengan hitungan menit aku akan mati karena hypoxia. Lalu besoknya akan ada namaku terpampang di headline koran-koran beroplah besar sebagai pahlawan yang gugur demi mengharumkan nama bangsa. Hahahakhakhakz….

Ah, aku beruntung memiliki pelindung yang dengan sabar dan setia menjagaku. Membiarkanku untuk mengambil keputusan-keputusan sendiri tapi juga menjadi jaring pengamanku ketika perempuan bodoh tapi imut ini terjatuh. Hidup ini kan belajar, katamu. Makasih Bre. You’re my flight suit. 😉


ABOUT THE AUTHOR