perjalanan

August 04, 2008 / by / 52 Comments

And the risk that might break you
is the one that would save
A life you don’t live is still lost
So stand on the edge with me
Hold back your fear and see
Nothing is real ’til it’s gone

Sepotong lirik lagu dari Goo Goo Dolls berjudul Before It’s Too Late yang saya tuliskan di halaman pertama sebuah lembaran kertas bergaris yang masih kosong dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang, Semarang, 1 Agustus 2008. Tidak ada suatu benda spesial apapun yang saya bawa untuknya. Hanya sebuah buku catatan kecil dan sebatang pensil yang telah teraut tajam.

.

Dan ujung grafit itupun mulai menggoresi halaman-halaman kosong yang ada di pangkuan saya sesaat setelah gerbong kereta bergerak. Kereta api Argo Sindoro yang berangkat dari Gambir, gerbong 1, kursi dekat jendela. Warna langit ketika itu masih biru yang tak benar-benar biru ketika saya mulai menulis. Ada rasa ragu sebenarnya ketika hendak memulai. Malu apabila diperhatikan oleh penumpang lain yang duduk di sebelah serta guncangan di dalam kereta ini yang terasa cukup membuat tidak nyaman . Tapi tampaknya bapak separuh baya di sebelah saya sedang sibuk sendiri membaca sebuah buku, jadi dengan berusaha keras saya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan guncangan dan mulai konsentrasi mencoretkan kata.

.

Kereta bergerak, masih pelan karena di kiri kanan rel masih penuh dengan pemukiman dan persimpangan yang berpalang. Di atas kursi nomer 5A, Jakarta bagai slide foto yang diputar di layar kaca. Seperti slide foto juga memori yang ada di kepala saya urai. Kejadian demi kejadian saya tumpahkan di atas buku, lembar demi lembar. Tidak lengkap tapi membantu saya menuntun untuk menegaskan alasan perjalanan ini.

.

Buku catatan yang sudah saya beli dari sejak lama namun tak pernah terpakai dan sebatang pencil gratisan dari kantor ini memang sama sekali tampak tidak berharga untuk diberikan kepada seseorang perempuan yang istimewa. Tapi dengan ini saya mencoba untuk mendifinisikan kembali makna sebuah benda berharga. Buku dengan tulisan ceker ayam di dalamnya ini adalah saya. Saya dengan segala ketidaksempurnaan yang akhirnya melihat labuhan setelah sekian lama berlayar. Kalimat-kalimat yang terajut adalah semua keraguan dan pertanyaan yang timbul serta jawaban dan alasan yang saya temukan. Buku ini adalah perasaan saya yang dari jam ke jam semakin disesaki rindu yang terbendung oleh jarak.

.

Lalu roda-roda besi kereta yang setia pada relnya akhirnya sampai juga di Tawang. Dan ketika tatapan mata seorang perempuan jelita memaku langkah saya di depan pintu keluar, buku ini adalah sebuah surat permohonan ijin untuk bisa melangkah dan menetap di hatinya.


ABOUT THE AUTHOR