dalam sebuah rentang waktu yang sangat sempit menuju keberangkatan saya ke kota lain tiba-tiba terbetik satu keinginan untuk membubuhkan kata terlebih dahulu di jurnal online saya ini. satu penanda bahwa hari ini, untuk ke sekian kali dalam hidup saya mencoba untuk tidak berpikir akan sebuah ketakutan yang di hari-hari sebelumnya selalu saya seret dalam tiap langkah.
saat ini saya adalah pemula yang membayangkan begitu banyak kemungkinan di depan sana. antara tersungkur atau bisa menggenggam piala, bisa jadi peluang saya lebih besar pada kemungkinan yang pertama. meski nomer kursi pulang pergi telah saya genggam, tapi pada hakikatnya bagi saya yang akan saya lakukan ini adalah sebuah tiket sekali jalan. yang manapun kemungkinan baik ataupun buruk yang lebih besar, saya akan menjalaninya untuk menguji keberuntungan. karena buat saya keberuntungan tidak akan bersuara tanpa perbuatan.
jadi, inilah titik awal episode lain dari sebuah hidup yang ingin coba saya tuliskan. jika ketakutan ternyata tidak menghasilkan apa-apa, ada baiknya saya mencoba dan melihat bagaimana hasilnya.
yang sedang jatuh cinta….
lebih baik mencoba dan merasakan sakit daripada hanya berandai-andai dan tidak menghasilkan apapun
[Reply]
mau kemana to??
[Reply]
mau kemana niy..?
ke lapangan kah (kembali ke dunia geologist?)
hehe.. *sok tau dot com*
[Reply]
moci goreng!
[Reply]
jadi diterima apa ditolak?
[Reply]
“pesen kopi”
[Reply]
kok diriku ra dijak??
[Reply]
semoga berhasil
[Reply]
smoga sukses!!! ada frappuccino di kulkas lagi gag..???
[Reply]
ketakutan yang terbesar adalah ketika kita tak berani menghadapi ketakutan itu.
[Reply]
udah jadian yah?
[Reply]
dan akhirnya kau menggenggam piala yang maniez ya? selamat, yud!
[Reply]
pokonya berangkat. tidak penting apa yang akan kau temukan di ujung sana.
piala yg manis ?
*membayangkan ndoro kakung menjilat logam*
[Reply]