Pada Desember yang lain

December 10, 2008 / by / 13 Comments

Pada Desember kutitipkan dia, yang matanya bening meretak lalu pecah berkecai-kecai. Di ujung pertemuan ini ciuman yang paling manis pun takkan  mampu meredakan sengguk yang mengguncangkan pundaknya. Aku tergugu, ragu meninggalkannya dalam rindu. Padahal sedari awalnya aku sudah merapal  janji bahwa mencintaimu adalah juga mencintai bentang jarak dan sejumput waktu pelepas rindu yang datang bersamamu.

Pada Desember kutinggalkan dia dalam arena kehidupan tanpa kata perpisahan. Karena kita semua harus berlari mengejar, bukannya berlari menghindar. Maka aku dan kamu semestinya juga mencari sebuah kata pengertian bahwa cinta disatukan oleh hati. Tanpa janji , akan tetap ada banyak  alasan mengapa Desember setia berulang. Dan hanya hati yang bisa memerintahkan untuk meraihmu kembali nanti. Pada satu Desember yang lain. I’m not saying goodbye.


ABOUT THE AUTHOR