Pada Desember kutitipkan dia, yang matanya bening meretak lalu pecah berkecai-kecai. Di ujung pertemuan ini ciuman yang paling manis pun takkan mampu meredakan sengguk yang mengguncangkan pundaknya. Aku tergugu, ragu meninggalkannya dalam rindu. Padahal sedari awalnya aku sudah merapal janji bahwa mencintaimu adalah juga mencintai bentang jarak dan sejumput waktu pelepas rindu yang datang bersamamu.
Pada Desember kutinggalkan dia dalam arena kehidupan tanpa kata perpisahan. Karena kita semua harus berlari mengejar, bukannya berlari menghindar. Maka aku dan kamu semestinya juga mencari sebuah kata pengertian bahwa cinta disatukan oleh hati. Tanpa janji , akan tetap ada banyak alasan mengapa Desember setia berulang. Dan hanya hati yang bisa memerintahkan untuk meraihmu kembali nanti. Pada satu Desember yang lain. I’m not saying goodbye.
Ckckck…dua bulan saya semaput dan sekarang cuma nulis seuprit gini??
[Reply]
oh jadi udah ciuman?
[Reply]
*ngakak mampus baca komeng edy*
[Reply]
*ikutan ngakak bareng Tante
btw, Ndutz ngerti perasaan seperti itu
[Reply]
Desember lain itu Desember tahun kapan Dis? kok ya ga pasti gitu sih? hiihihihihihi
*ikut ngakak bareng chika dan ndutz*
[Reply]
hah ciuman? (woot)
[Reply]
@ALL
INI BUKAN TENTANG SAYA! *tabokin yang komen ngawur*
[Reply]
APA?? CUMA BARU CIUMAN???
*ESORRY CAPSLOCK RUSAK*
[Reply]
apa kebanyakan minum kopi. desember ada tahun ini ada brapa?
@pemilik warung
kopi pait atu bang. Lah suruh yang punya curhat bikin diblog sendiri lah
[Reply]
jadi blm ciuman? rugi hihihii
[Reply]
wooogh!! ada ALYAK!
[Reply]
ciuman????
cuma itu???
we want more… we want more???
*demo bawa poster segede gaban*
[Reply]
kowe kangen aku to dis?
[Reply]