Sampai nanti, tak usah menanti

September 22, 2010 / by / 20 Comments

sosin_leadJakarta yang dilabur hujan, ketika orang-orang sudah terbebas dari kubikel-kubikel. Halte ini dipenuhi mereka, yang dengan rela menjalani garis waktu berulang setiap matahari berganti. Dan petang ini, peluh keikhlasan mereka dihadiahi hujan yang aromanya memadamkan lelah. Aku tersenyum, tak sanggup rasanya bergabung dengan kerumunan itu. Kerumunan yang mengalir pelan menuju pintu bis-bis yang akan mengantarkan hingga tiba di rumah-rumah hangat. Maka berdiamlah aku di satu sudut yang kosong. Mungkin seperti pengecut yang menolak maju berperang. Persetan! Biarlah kamar kos menunggu kepulanganku lebih malam. Sesekali hujan mungkin asyik untuk dikencani dalam halte busway.

Kaca sudut halte yang basah oleh bulir-bulir air. Di sela detik yang malas ku coba menangkapnya tapi, hei…! Tak sopan sekali kaca bening ini jadi penyekat di antara kami! Hujan pun urung bisa kuremas dengan mesra. Kuketuk kaca dengan punggung telunjukku. Sebutir kristal yang melekat padanya luruh.

Seketika aku melihat bayang kristal-kristal yang meluruh di pipinya kemarin malam, ketika hidup mengharuskan kita untuk memilih dan berkompromi.

Sekarang bulan September tahun 2010. Hujan tak jua berhenti menyambangi. Bagaimana bisa dia turun dari langit Jakarta sepanjang tahun ini? Siapa yang meminta? Bisakah aku juga ikut meminta? Meminta supaya tetap bisa menghirup udara Jakarta. Atau meyakinkan hati bahwa jalan ini adalah awalnya?

Sebab hidup yang ada di benakku tak sesederhana ucapanmu dalam kencan malam yang lalu.

“Tidak ada yang perlu dirisaukan. Aku akan menunggu hingga jemariku kamu genggam kembali. Pada-Nya akan kumohonkan keselamatan dan kegemilanganmu selalu.”

Di sempurnanya bulat bola matamu aku berkaca. Ada yang berkecamuk dahsyat memantul sebagai gambar bergerak. Aku tahu itu adalah aku yang memilih diri sendiri sebagai musuh, bertarung melawan pertarungan yang salah. Lalu ketika bening itu pecah berkecai-kecai aku tersadar bahwa kamu juga sedang bertarung, demi aku. Jadi tidak pantas dielu-elukan kalau memang aku harus berjuang demi kita.

Dalam guyuran hujan semua yang ada di jalan terus merangsek maju meski tertinggal oleh lesatan waktu. Detikku masih merambat malas karena dunia lamunan menciptakan rotasinya sendiri. Hingga sebuah pesan cinta tanpa kata cinta sampai di layar Blackberry-ku.

“Jangan pulang terlalu malam. Besok penerbangan pertama bukan?”

Aku tersenyum, tersadar bahwa malam memang terus berjalan. Tiba-tiba aku merasa lupa kalau ada Tuhan di sepanjang waktuku berjibaku. Jodoh kita hadir atas perkenan-Nya. Tak usah menanti, berdoa saja cinta kita tidak disesatkan angin benua agar bisa kembali.

image source: Bill Sosin


20 Responses
  1. lil

    :)
    tulisannya keren-keren..
    sederhana tapi keren

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Makasih udah menyempatkan waktu buat baca tulisan sederhana ini ya :D

    [Reply]

    Sep.27.2010 at 9:53 am
  2. arni

    Aaah tersirat kata sepakat untuk tidak sepakat, just like me.. ;) )

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    kata sepakat untuk tidak sepakat? hmm… :D

    [Reply]

    Oct.13.2010 at 1:55 pm
  3. rara

    Sedap.. suka suka suka! ;)

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    makasiiihhh…. :D

    [Reply]

    Oct.13.2010 at 2:02 pm
  4. venus

    wow…ini yg buat uwrf kemaren ya? keren banget! *menjura* :D

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    iya, mbok. karena nggak ada yang nge-vote tak publish di sini aja :D

    [Reply]

    Oct.14.2010 at 4:00 pm
  5. Andi Ayu

    Saya suka gaya bahasanya :) punya khas tersendiri.. hehe..

    [Reply]

    Oct.28.2010 at 2:30 am
  6. fitrifie

    ingin bisa menulis kayak kakak…

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Halo Fitri, makasih. Tulisan saya masih jauh dari istimewa :D

    [Reply]

    Nov.02.2010 at 9:40 am
  7. Tetua G.092-0906654683

    Nice story Dis…mengingatkan aku ketika harus berjuang masuk bussway. Demi buah hati yang menunggu di rumah…Oh beginilah Jakarta benci tapi rindu…cinta tapi sengsara dibuatnya.

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Hohoho… Makasih Pak Dono :) )

    [Reply]

    Nov.22.2010 at 3:28 pm
  8. dhie

    Nice..
    aku suka tulisan-tulisan mu mas, mengalir dan indah. Apa lagi tentang hujan dan kopi, aku selalu suka dua hal itu, nyaris tanpa alasan. yahh, seperti layak-nya orang yang jatuh cinta, seringkali tak butuh alasan bukan? hehe.
    salam hangat dari Jogja:)

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Hai halo.. thanks ya udah nyempatin baca tulisan ini. Belum sempet nulis2 lagi :D

    [Reply]

    Dec.12.2010 at 2:32 am
  9. Tutorial Blog : Simple a Blog for Sharing a Information

    blognya mempunyai khas tersendiri…
    gaya bahasanya sederhana tapi keren..
    just a simple of blog for sharing

    [Reply]

    Dec.16.2010 at 4:11 pm
  10. annisa

    Tulisannya bagus2,mas.. Apalagi tentang hujan2 ini,apikkk.. Terus berkarya :)

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Makasih ya, Annisa :)

    [Reply]

    Feb.06.2011 at 10:47 am
  11. ichi

    keren sekali bahasa n isinya…biasanya klo pencitraan seperti itu kan terbatasasi larik dan lain sebagainya…tp yg ini mengalir bebas, saya suka…..he..

    [Reply]

    tukangkopi Reply:

    Terima kasih banyak, Ichi :)

    [Reply]

    Jun.02.2011 at 12:21 am
Leave a Comment