Archive for October, 2010

07 Oct

Pemburu bintang

By / on My Imagination

Position_Alpha_CenAl terpekur di sudut kamarnya, ia biarkan kamarnya benderang tak seperti biasanya, karena malam ini ia memang sedang ada di bumi, tak seperti biasanya. Dia biarkan suara televisi dan radio bersahut-sahutan di sudut lain, memang sengaja ia biarkan menyala dengan volume yang bisa sedikit mengganggu pendengaran tetangga sebelah. Tetapi sepertinya tidak ada yang peduli, karena Al, TV, dan radionya sudah dalam keadaan begitu selama berjam-jam, dan belum ada yang mengetuk pintunya dan memamerkan muka yang jelek karena kesal. Sebenarnya Al tidak bermaksud membuat tetangga sebelah kamarnya kesal. Dia hanya merasa takut, Al takut malam ini dia akan ketahuan orang lain jika sampai menangis tersedu-sedu atau mungkin sampai bergulung-gulung dan meraung-raung. Tapi air mata itu tak sebutir pun ada yang berniat untuk keluar dari kedua matanya, padahal sedari tadi dia sudah meringkuk di sudut kamar dengan wajah tertunduk, harusnya bulir-bulir air itu tunduk pada hukum gravitasi.

Sebenarnya Al memang sama sekali bukan lelaki cengeng. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya menangis sesenggukan adalah jika rindu dengan ibunya di kampung halaman. Tetapi kali ini Al merasa bahwa ia berhak untuk menangis. Mungkin hal itu bisa sedikit mendamaikan perasaannya. Pemburu bintang itu kini telah menyadari bahwa cinta memang tak bisa dipetik sesuka hati, cinta memilih takdirnya sendiri.

Sungguh Al ingin terbang ke Alpha Centaury, bintang favoritnya di langit selatan, menumpahkan galau rindu. Tapi ia baru saja kembali dari sana membawakan segenggam debu bintang paling terang untuk seorang perempuan yang namanya selalu menghentak-hentak dadanya, yang senyumnya selalu menghangatkan hatinya. Perempuan yang juga kemudian membuatnya jadi cengeng sekarang.

Maia membuka kantung katun putih yang Al berikan hingga berpendar cahaya bintang yang diambil dari kaki sang centaurus itu. Tersenyumlah sang gadis dari balik bingkai jendelanya.

“Thanks Al, kantung bintang ini sangat spesial buatku. Kamu memberi aku simbol sebuah pengorbanan manusia biasa yang begitu luar biasa untuk menyanjung cinta….”

Al nanar, cemas menanti Maia menyelesaikan kalimatnya.

Tapi kamu bukan manusia biasa, Al. Kamu pemburu bintang.

“Jadi, aku belum pantas dihadiahi cintamu?”

Maia mengecup kening Al.

“Maaf, Al. Hatiku sudah berlabuh pada karibmu. Dia menghadiahiku saputangan lusuh dari rantau seminggu yang lalu.”

image source

READ MORE