Archive for January, 2012

28 Jan

Kambing Bakar Non Kolesterol

By / on All You Can Eat

Beneran nih non kolesterol? Setidaknya begitulah yang diklaim oleh sang pemilik. Di belakang meja kasir terpampang poster besar dengan tulisan yang memberikan informasi mengapa menu kambing bakar yang disajikan bebas kolesterol. Alasan pertama adalah karena Ā mereka memakai bahan dasar daging kambing muda yang mengandung kadar lemak dan kolesterol lebih rendah. Diperkuat dengan bumbu rempah-rempah khas timur tengah dan dibakar kering, membuat kolesterol dapat dinetralisir. Kenyataannya? Ya jangan tanya saya. šŸ˜†

Tetapi terus terang saya agak heran juga ketika mencoba mampir di tempat makan bernama Kambing Bakar Cairo ini. Cukup banyak pengunjungnya yang berusia paruh baya. Terlintas di pikiran saya apakah mereka tidak memiliki masalah kolesterol atau memang kambing bakar di restoran ini benar-benar bebas kolestrol? Ya, apapun jawabannya memang rasa kambing bakar ini menurut saya spesial. Soal harga juga wajar lah. Satu porsi kambing bakar dengan berat 350 gr ditukar dengan selembar uang Rp 50ribuan. Saya puas dan kenyang.

Oiya, kenapa namanya Kambing Bakar Cairo? Memangnya yang ada di Melawai ini cabang dari Kairo? Mungkin saja ya. Hahaha… Soalnya restoran ini punya tagline “Terlezat ke-2 setimur tengah”!

Saya langsung membayangkan yang terlezat nomer satu seperti apa ya rasa kambing bakarnya? šŸ˜€

READ MORE
26 Jan

Brewing for Charity (bagian 2)

By / on Coffee Event

Setelah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, dan Body, mari kita lanjutkan membahas:

Balance, didefinisikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek: flavor, aftertaste, acidity, dan body dari sampel kopi. Jika ada komponen yang begitu dominan maka aspek balance akan dinilai lebih rendah.

Sweetness mengacu pada ada tidaknya rasa manis yang muncul dalam kopi. Buat orang awam mungkin agak aneh ya, perasaan rasa kopi tanpa gula itu pahit saja tapi kok bisa ada aspek sweetness yang dinilai? Menurut SCAA, persepsi rasa manis tersebut muncul karena adanya senyawa karbohidrat tertentu di dalam kopi.

Clean Cup, dievaluasi dengan memperhatikan keseluruhan citarasa sejak awal kopi diseruput hingga melewati kerongkongan atau diludahkan. Munculnya rasa atau aroma apapun selain kopi (misalnya aroma apek, rasa sabun, atau minyak) bisa mendiskualifikasi sampel kopi.

Uniformity mengacu pada konsistensi rasa dari cangkir yang berbeda untuk sampel yang sama. Protokol standar SCAA menyebutkan bahwa untuk satu sampel kopi harus dibuat paling tidak sebanyak 5 cangkir. Namun karena di kegiatan cupping kali ini untuk satu sampel hanya dibuat satu cangkir (paper cup) maka penilaian di aspek ini diabaikan.

Selain kedelapan aspek penilaian di atas sebenarnya ada lagi aspek lain yang dinilai yaitu Overall dan Defects. Tapi jujur saya belum mengerti apa maksud dari istilah tersebut dan bagaimana cara mengevaluasi dan memberikan penilaian. Mas Arif hanya menerangkan bahwa nilai di kolom Overall merepresentasikan preferensi kita terhadap masing-masing sampel kopi. Sampel kopi yang kita sukai akan diberi nilai lebih tinggi dibanding sampel kopi lain yang kurang atau tidak kita sukai. Sedangkan untuk aspek Defects sepertinya luput dijelaskan oleh Mas Arif. Namun jika membaca di SCAA Protocols untuk cupping, penjelasan mengenai aspek Overall dan Defects jauh lebih detil daripada itu dan cukup sulit untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Jadi mengenai Overall dan Defects infonya nanti akan saya update lagi kalau sudah berhasil mengerti. šŸ˜€

Waktu dua jam yang digunakan untuk belajar cupping di acara Brewing for Charity terasa sangat cepat berlalu. Saya merasa masih belum berhasil dalam memberikan penilaian yang sesuai untuk masing-masing kopi yang saya cicipi, tetapi setidaknya pengetahuan saya dan juga teman-teman yang lain tentang kopi sedikit bertambah. Untuk bisa melakukan cupping dengan benar memang perlu latihan rutin dan percaya dengan indera penciuman dan pengecap kita sendiri.

Oh iya, di akhir sesi semua peserta diminta menebak asal dari kopi berlabel A, B, dan C tersebut. Tebakan saya: A = Sumatera, B = Bali, C = Papua (walaupun kurang yakin rasa kopi Papua seperti itu). Nah, jawaban yang benar adalah: A = Sumatera, B = Bali, dan C = Toraja. šŸ˜‰

READ MORE
25 Jan

Brewing for Charity (bagian 1)

By / on Coffee Event

Lupakan dulu mengenai cara memberikan nilai yang merepresentasikan kualitas untuk masing-masing kopi yang ada di dalam gelas kertas di atas meja. Buat peserta acara cupping yang sebagian besar awam, mengerti istilah-istilah yang ada di lembar penilaian kopi dengan standar SCAA (Specialty Coffee Association of America) saja sudah sulit. Tapi penjelasan dari Mas Arif, trainer dari Anomali Coffee, bukannya tidak perlu disimak, anggap saja untuk menambah pengetahuan. Hal yang paling penting dari belajar cupping kali ini adalah untuk menyelami keunikan kopi sedikit lebih dalam lagi, lebih dari sekedar memilih kopi mana yang enak dan tidak enak sesuai selera kita.

Tiga gelas kertas yang disajikan di depan masing-masing peserta cupping session berisi bubuk kopi dari tiga daerah penghasil kopi yang berbeda di Indonesia. Dilabeli dengan huruf A, B, dan, C, masing-masing kopi ini punya karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama asli Indonesia. Selain itu cupping form dan sebatang pena disediakan agar ketiga kopi tersebut bisa dinilai citarasanya. Komponen-komponen yang ada di dalam cupping form yang mengambil standar SCAA adalah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, Body, Balance, Uniformity, Clean Cup, dan Sweetness.

Fragrance/Aroma menilai aspek aromatik kopi. Fragrance didefinisikan sebagai bau dari bubuk kopi saat belum diseduh. Aroma didefinisikan sebagai bau kopi ketika diseduh dengan air panas.

Flavor merepresentasikan karakter utama kopi. Penilaian untuk flavor memperhitungkan intensitas, kualitas, dan kompleksitas dari kombinasi rasa dan aroma yang bisa dinikmati ketika menyeruput kopi . Bahasa mudahnya menurut Mas Arif adalah menilai kekayaan rasa kopi.

Aftertaste didefinisikan sebagai rasa yang tersisa di langit-langit bagian belakang dari rongga mulut setelah kopi diminum. Jika ada rasa yang kurang menyenangkan maka penilaiannya lebih rendah.

Acidity menilai tingkat keasaman kopi. Pada tingkatan yang pas, keasaman bisa membuat kopi terasa menyenangkan, manis, dan berkarakter buah segar. Tingkat keasaman kopi yang terlalu intens akan terasa kurang menyenangkan meskipun kembali lagi pada selera pribadi. Masing-masing kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sendiri punya karakter keasaman yang berbeda. Kopi dengan karakter keasaman yang tinggi seperti kopi Bali bisa saja memiliki skor yang sama tinggi dengan kopi Sumatera dengan karakter keasaman yang rendah. Skor akhir acidity harus menggambarkan kualitas keasaman yang dirasakan penguji relatif terhadap rasa yang diharapkan berdasarkan karakter asal kopi dan atau faktor lainnya.

Body mungkin bisa didefinisikan dengan kelekatan atau viskositas. Karakter ini bisa dirasakan dengan mendiamkan kopi beberapa saat di rongga mulut dan kemudian menggosokkan lidah ke bagian langit-langit rongga mulut. Body memiliki tingkatan dari thin, light, hingga heavy sebagai representasi dari kandungan lemak dalam kopi.

(bersambung…)

READ MORE
16 Jan

Christine dan Sapan Coffee

By / on Profile

Christine Tandibua, perempuan kelahiran Toraja ini datang ke Jakarta pertama kali di tahun 2006. Sempat bekerja di beberapa perusahaan swasta sebelum akhirnya memutuskan untuk banting stir menjadi seorang pengusaha. Christine memilih berdagang Ā biji kopi yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri, Sapan Minanga, Toraja. Meskipun latar belakang pendidikannya sebagai seorang sarjana elektro mungkin nggak nyambungĀ dengan dunia kopi tetapi Christine tidak gentar. Kebetulan ayahnya adalah pensiunan dari Dinas Perkebunan dan pernah bekerja untuk sebuah perusahaan pengekspor kopi terbesar di Toraja, sehingga Christine sebenarnya tidak benar-benar asing di industri kopi meskipun mengaku masih terus belajar untuk meningkatkan dan menjaga kualitas kopi yang dijualnya. Di Toraja sana, ayahnya membantu mengumpulkan dan menyortir biji kopi dari para petani di desa Sapan sebelum dikirim ke Jakarta. Dimulai dengan berjualan dari rumah kontrakan di tahun 2008, saat ini Christine sudah menyewa sebuah kios di pasar modern dan diberi nama Dapoer Kopi.

Saya pertama kali mengetahui sosok Christine dari artikel di blog cikopi dan kemudian berkenalan di sebuah acara bincang kopi pada bulan Oktober tahun lalu, tetapi baru minggu kemarin saya bisa meluangkan waktu untukĀ singgah di kios kopinya. Menurut saya, Christine adalah orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol dan diskusi. Saya rasa hal ini juga bisa dirasakan oleh para pembeli di Dapoer Kopi karena ketika saya datang ada beberapa pelanggan yang juga sedang asyik berbincang dengannya.

Omset Pembeli kopi Sapan dari Dapoer Kopi sudah cukup banyak, baik dari kafe, roaster, ataupun untuk konsumsi pribadi. Awalnya dengan idealismenya, Christine agak enggan melayani pembeli ritel, tetapi karena banyak juga pembeli ritel yang sudah rela datang jauh-jauh akhirnya sekarang Christine dengan senang hati melayani dan berbincang dengan siapapun pembelinya. Kalo dipikir-pikir, Ā makin banyak orang yang datang ke Dapoer Kopi untuk membeli atau mencicipi kopi Sapan, terlepas dari banyak sedikitnya kopi yang dibeli, akan membantunya mengenalkan kopi ini lebih luas. Begitulah katanya.

Kalau Anda penggemar kopi Toraja dengan karakter yang beraroma wangi, pekat, dan acidity sedangĀ boleh coba mampir ke Dapoer Kopi di Pasar Modern Santa Lantai Dasar Blok A No. 33, Jl. Cipaku I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bisa juga add FB-nya diĀ http://www.facebook.com/sapancoffeeĀ kalau ingin pesan antar. Saya sendiri sudah merasakan kopi asli Indonesia ini. Mantap!

READ MORE

13 Jan

That’s Life

By / on Cafe Story

Secangkir kopi Java menemani saya menyelesaikan sebuah pekerjaan siang itu di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Lokasinya agak sulit ditemukan kalau baru datang untuk pertama kali. Pokoknya kalau sudah menemukan gerai KFC ketika melintasi Jl. Gunawarman kurangi kecepatan kendaraan dan melipir saja di sisi kiri jalan. Kedai kopi ini berada di sebuah rumah bernomer 24 di sebelah salon Carina. Dari depan memang tampak seperti sebuah rumah biasa, namun kita bisa langsung masuk melalui pintu paling kanan dan naik ke lantai dua. Ā Yang menarik ketika menaiki anak tangga adalah melihat banyak pigura dengan gambar figur kartun gadis kecil polos dalam berbagai pose tergantung di dinding. Mungkin karya dari sang pemilik karena saya mendengar bahwa pemilik kedai ini adalah juga seorang ilustrator.

That’s Life Coffee, nama yang unik untuk sebuah kedai kopi walaupun frase tersebut sering diucapkan dalam dialog kita sehari-hari. Menurut barista yang menyajikan saya kopi, kedai ini telah beroperasi sejak 2010. Suasana interiornya nyaman dengan sudut favorit dekat dinding kaca yang menghadap jalan. Soal menu sebenarnya cukup variatif dan bisa diintip dulu di websitenya ini,Ā tetapi ketika saya temukan black coffee Ā dan singkong goreng maka itu sudah cukup. Selain ituĀ WiFi gratis yang berlari kencang melengkapi Ā fasilitas “kantor” yang saya butuhkan. :p

Sepiring singkong goreng keju yang saya pesan rupanya cukup besar porsinya. Secangkir kopi mungkin tidak akan bertahan sampai sore, tapi sepiring singkong ini cukuplah untuk bahan bakar otak menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai beberapa jam.

Sepertinya That’s Life akan jadi salah satu kedai kopi favorit saya untuk dijadikan “kantor alternatif”. Selain lokasinya dekat dengan jalur hilir mudik saya sehari-hari, kopi dan singkong gorengnya juga enak. Walaupun bukan yang terbaik tapi setidaknya harganya ramah untuk dompet.

That’s life

That’s what all the people say

You’re riding high in April, shot down in May

But I know I’m gonna change that tune

When I’m back on top, back on top in June

(That’s Life – Frank Sinatra)

READ MORE
07 Jan

Coffee Day di Atamerica

By / on Coffee Event

Saya memperhatikan diskusi tentang kopi makin marak di Jakarta, baik yang diadakan oleh komunitas maupun kedai kopi sendiri dalam rangka mengedukasi pelanggannya. Berbicara tentang kopi memang sangat menarik apalagi jika ditelusuri prosesnya dari kebun hingga ke cangkir. Diskusi kopi yang dibuka untuk umum tentunya akan semakin membuat para penikmat kopi awam (seperti saya) semakin menyadari bahwa apa yang tertuang di cangkir saya adalah sebuah hasil karya kolektif. Selayaknya sebuah hasil karya, penghargaan terhadapnya tentu akan membuat yang berada di balik karya tersebut terpacu untuk terus memberikan yang terbaik.

Salah satu diskusi kopi menarik baru-baru saja diadakan oleh @america, sebuah pusat kebudayaan Amerika yang berlokasi di mall Pacific Place. Mengambil judul Coffee Day, diskusi kopi ini menampilkan sosok yang memiliki passionĀ besar terhadap dunia kopi dan sudah berkutat lama di dalamnya. Dia adalah Mirza Luqman Effendi (@mirzaluqman), Learning Specialist dari Starbucks Coffee Indonesia.

Bahan diskusi yang diangkat Mas Mirza cukup ringan dicerna karena disesuaikan dengan audience. Informasi tentang tanaman kopi, cara panen dan pengolahan, roasting, hingga praktik menyeduh kopi yang mudah dan praktis disajikan dengan menarik.

Audience antusias mengikuti dan banyak pertanyaan menarik dilemparkan. Dari jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut bisa kita ketahui bahwa perlakuan terhadap kopi dari setiap prosesnya akan menentukan hasil akhir di cangkir. Masing-masing metode yang diterapkan bisa menghasilkan rasa kopi yang unik. Hasil akhir yang terbaik pun bisa berbeda-beda bagi tiap orang karena lidah dan selera juga berbeda. šŸ˜€

Pada akhirnya kesimpulan yang bisa diambil adalah, mengutip dari kata-kata Mas Mirza, bahwa kopi itu lebih layak untuk dinikmati daripada diperdebatkan. Pastinya tidak sekedar menikmati, tapi juga menghargai kopi Indonesia dan bersama-sama menjaga dan meningkatkan kualitasnya.

 

READ MORE
05 Jan

Jamaican Blue Mountain Coffee

By / on Cafe Story

Saya pernah memberikan sedikit cerita mengenai Jamaican Blue Mountain Coffee di tulisan ini, dan ternyata ada salah satu kafe di Jakarta yang memasukkan salah satu kopi terbaik di dunia ini di menunya.

Terus terang ketika saya mampir ke kafe Excelso yang berlokasi di Plaza Grand Indonesia tidak berharap ada sesuatu yang istimewa. Biasanya kafe Excelso hanya menyajikan kopi-kopi dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun kali ini mata saya tiba-tiba berbinar menatap sederetan menu berjudul “World’s Most Celebrated Coffee” dan menemukan Jamaican Blue Mountain di posisi paling atas. Tanpa pilih-pilih lagi saya langsung pesan yang itu. šŸ˜€

Menurut saya rasa kopi Blue Mountain memang mirip dengan Papua Wamena yang merupakan kopi favorit saya. Aromanya kuat, rasa kopinya cukup nendang, tidak terlalu pahit, terasa ringan di mulut dengan kadar keasaman ringan. Saya sebenarnya penasaran juga soal kapan kopi ini diroasting danĀ dari mana Excelso mendapatkannya. Tapi karena saya bingung harus bertanya ke siapa, jadi ya sudahlah.

Teman buat minum kopi kali ini adalah menu baru yang dinamakan Banana Dates Nachos. Jadi ini adalah perpaduan manisnya pisang berbalut saus karamel dengan nachos dan keju yang gurih. Ada potongan kurma juga yang membuat rasanya tambah unik. Jika membahas soal selera, buat saya sih cemilan ini kurang pas disandingkan dengan rasa kopi Blue Mountain. Yah, kalau lain kali mampir lagi saya harus mencoba pasangan minum kopi yang lain deh.

Pengalaman pertama di Excelso GIĀ yang cukup bagus buat saya. Setidaknya saya punya pilihan tempat kalo inginĀ meeting di Grand IndonesiaĀ sambil ngopi-ngopi. šŸ™‚

 

READ MORE
02 Jan

Warung Talaga

By / on All You Can Eat

Warung Talaga terletak di Downtown Walk Summarecon Mall Serpong. Mengetengahkan konsep yang “warung banget” di tengah suasana mall yang modern. Saya selalu tertarik jika menemui tempat makan yang mengklaim dirinya spesialis di makanan tertentu karena akan lebih mudah menentukan menu untuk kunjungan yang pertama kali.

Warung Talaga Spesialis Tahu menawarkan berbagai menu cemilan tahu. Sebut saja tahu sumpel, tahu bala, tahu buntel, tahu gondrong, tahu bodo, dan masih banyak lagi menu tahu dengan nama yang unik. Tahu bodo adalah cemilan tahu yang paling favorit menurut Mas Pelayan. Langsung saja saya pesan itu, ditambah nasi bumbung dan juga empal kendil. Untuk minumnya saya pesan teh sereh dan es cendol. Saya tidak datang sendiri sih, ada istri yang menemani. šŸ˜€

Sayangnya saya harus menunggu cukup lama sampai pesanan datang, dan menu yang pertama datang adalah tahu bodo. Tahunya padat dengan tekstur yang lembut. Rasanya enak, dipenyet dengan sambal dan dimakan bersama nasi bumbung. Nasi bumbung sendiri sebenarnya adalah nasi uduk tetapi dimasak dalam bambu.

Bagaimana dengan empal kendilnya? Enak juga meskipun tidak istimewa rasanya. Begitu juga dengan es cendolnya. Tapi es teh serehnya yang awalnya tidak saya perhitungkan menurut saya rasanya segar dan menggoda. Agak-agak mirip lemon tea begitu ya rasanya? Entahlah, ini juga pertama kalinya saya minum teh sereh. šŸ˜€

Soal harga tidak terlalu bersahabat dengan kantong. Tapi saya kira itu wajar karena letaknya yang di dalam mall. Total yang harus diikhlaskan untuk makan siang berdua adalah IDR 77.000. Ya, sekali-sekali saja lah. šŸ˜†

READ MORE
01 Jan

Kopi Es Tak Kie

By / on Cafe Story

Ada sebuah kedai dengan minuman kopi es sebagaiĀ signature drink-nya yang sudah bertahan puluhan tahun di sebuah sudut kota Jakarta. Kedai Kopi Es Tak Kie, barangkali sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang. Entah apakah sudah pernah mengunjunginya langsung, mendengar ceritanya dari teman, membaca di kolom salah satu media massa, atau dari review yang bertebaran di internet.

Terletak di sebuah gang kecil yang disebut gang Gloria, lokasi kedai ini berbaur dengan puluhan penjual makanan lain yang berderet sepanjang gang tersebut. Saya sendiri, beberapa hari lalu, menemukan lokasi Tak Kie dengan bantuan petunjuk dari tukang parkir di Jalan Pancoran, Glodok. Sampai di kedai saya menemukan teman saya, Pak Toni Wahid, sudah sampai lebih dahulu dan sedang asyik jepret sana jepret sini mengabadikan suasana jadul yang begitu kental bagaikan terlempar ke puluhan tahun silam.

Segelas kopi es diantarkan ke meja sesaat setelah saya memesan. Kopi es yang telah ada di menu selama lebih dari 80 tahun tentu punya sesuatu yang istimewa. Memang benar, citarasa kopi dingin ini enak dan menyegarkan. Selain kopi es, Tak Kie juga menyediakan menu minuman lain dan juga makanan.

Jika diperhatikan, cara menyeduh kopi di kedai ini tampaknya sudah berubah. Mungkin karena ramainya pengunjung, untuk menghemat waktu maka kopi diseduh menggunakanĀ percolator, seperti yang biasa kita temukan saatĀ coffee breakĀ di tengah-tengah seminar. Tetapi dijamin racikan bubuk kopinya masih menggunakan Ā warisan pendahulunya.

Tak Kie sendiri saat ini dikelola oleh generasi ketiga. Uniknya, menurut penuturan A Yauw sang pemilik, ada seorang pelanggan setia yang masih rajin datang sejak dirinya masih kecil hingga sekarang ini dan selalu duduk di kursi yang sama. Sebuah kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. Sama seperti kesetiaan A Yauw menjaga kedai Kopi Es Tak Kie untuk terus bertahan supaya tidak hilang ditelan jaman.

 

 

READ MORE