Brewing for Charity (bagian 1)

January 25, 2012 / by / 0 Comment

Lupakan dulu mengenai cara memberikan nilai yang merepresentasikan kualitas untuk masing-masing kopi yang ada di dalam gelas kertas di atas meja. Buat peserta acara cupping yang sebagian besar awam, mengerti istilah-istilah yang ada di lembar penilaian kopi dengan standar SCAA (Specialty Coffee Association of America) saja sudah sulit. Tapi penjelasan dari Mas Arif, trainer dari Anomali Coffee, bukannya tidak perlu disimak, anggap saja untuk menambah pengetahuan. Hal yang paling penting dari belajar cupping kali ini adalah untuk menyelami keunikan kopi sedikit lebih dalam lagi, lebih dari sekedar memilih kopi mana yang enak dan tidak enak sesuai selera kita.

Tiga gelas kertas yang disajikan di depan masing-masing peserta cupping session berisi bubuk kopi dari tiga daerah penghasil kopi yang berbeda di Indonesia. Dilabeli dengan huruf A, B, dan, C, masing-masing kopi ini punya karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama asli Indonesia. Selain itu cupping form dan sebatang pena disediakan agar ketiga kopi tersebut bisa dinilai citarasanya. Komponen-komponen yang ada di dalam cupping form yang mengambil standar SCAA adalah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, Body, Balance, Uniformity, Clean Cup, dan Sweetness.

Fragrance/Aroma menilai aspek aromatik kopi. Fragrance didefinisikan sebagai bau dari bubuk kopi saat belum diseduh. Aroma didefinisikan sebagai bau kopi ketika diseduh dengan air panas.

Flavor merepresentasikan karakter utama kopi. Penilaian untuk flavor memperhitungkan intensitas, kualitas, dan kompleksitas dari kombinasi rasa dan aroma yang bisa dinikmati ketika menyeruput kopi . Bahasa mudahnya menurut Mas Arif adalah menilai kekayaan rasa kopi.

Aftertaste didefinisikan sebagai rasa yang tersisa di langit-langit bagian belakang dari rongga mulut setelah kopi diminum. Jika ada rasa yang kurang menyenangkan maka penilaiannya lebih rendah.

Acidity menilai tingkat keasaman kopi. Pada tingkatan yang pas, keasaman bisa membuat kopi terasa menyenangkan, manis, dan berkarakter buah segar. Tingkat keasaman kopi yang terlalu intens akan terasa kurang menyenangkan meskipun kembali lagi pada selera pribadi. Masing-masing kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sendiri punya karakter keasaman yang berbeda. Kopi dengan karakter keasaman yang tinggi seperti kopi Bali bisa saja memiliki skor yang sama tinggi dengan kopi Sumatera dengan karakter keasaman yang rendah. Skor akhir acidity harus menggambarkan kualitas keasaman yang dirasakan penguji relatif terhadap rasa yang diharapkan berdasarkan karakter asal kopi dan atau faktor lainnya.

Body mungkin bisa didefinisikan dengan kelekatan atau viskositas. Karakter ini bisa dirasakan dengan mendiamkan kopi beberapa saat di rongga mulut dan kemudian menggosokkan lidah ke bagian langit-langit rongga mulut. Body memiliki tingkatan dari thin, light, hingga heavy sebagai representasi dari kandungan lemak dalam kopi.

(bersambung…)


ABOUT THE AUTHOR