Antipodean

February 23, 2012 / by / 2 Comments

Siang itu saya ngopi secangkir kopi Papua Wamena di salah satu kafe di sudut Kemang. Wamena yang satu ini agak berbeda dari yang biasa saya rasakan, rasa kopinya lebih intens dan acidity-nya hampir tidak terasa. Entah apakah ini adalah ciri khas dari Merdeka Coffee dalam “menggoreng” Wamena, atau lidah saya yang sedang keseleo. ūüėܬ†Tetapi dengan ditemani manisnya sepotong Caramel Apple Raisin, dua sejoli ini serasi menemani aktivitas kerja saya.

Memilih nama Antipodean, kafe ini memang memposisikan diri sebagai Australian style of cafe yang menyajikan kopi berkualitas dan juga santapan untuk para ekspatriat di Jakarta. Di jam makan siang, kafe ini penuh oleh pengunjung yang datang dan pergi. Kebanyakan adalah bule-bule yang mungkin tinggal di sekitar Kemang. Dengan menu makanan bercitarasa internasional yang sangat beragam, tidak heran jika banyak yang singgah untuk makan siang selain ngopi.

Dalam ruangan dengan luas yang tidak lebih dari 50 meter persegi, kafe ini bisa dikatakan berukuran mungil. Ruangan akan terasa sempit jika semua kursi terisi, namun dibalik itu suasana hangat dan akrab akan lebih terasa.

Harga minuman kopi berkisar dari Rp 18ribu – 25ribu, cukup premium mengingat harga tersebut adalah untuk kopi hitam dan espresso based tanpa tambahan sirup beraneka rasa. Tapi mengingat konsumennya adalah para ekspatriat, harga premium mungkin terkait dengan usaha untuk menjaga kualitas tanpa kompromi.

Jika Anda sedang melewati Kemang, mampirlah ke Antipodean di komplek supermarket Hero dan temukan sebuah cafe culture. Sebuah budaya yang berasal dari Eropa dimana kafe menjadi titik sentral, tempat orang-orang atau komunitas yang ada di sekitarnya berkumpul dan bersosialisasi. Menyenangkan!


ABOUT THE AUTHOR