Archive for May, 2012

18 May

La Marzocco Strada

By / on Coffee Lab

Menyeduh kopi bisa menjadi sebuah urusan yang sederhana ataupun ritual yang rumit. Dunia kopi sendiri bukan merupakan dunia yang stagnan. Inovasi-inovasi baru lahir seiring perkembangan jaman demi untuk mendapatkan citarasa yang terbaik. Salah satu inovasi yang terus bergulir adalah di mesin pembuat espresso atau espresso machine.

Saya beruntung bisa mencoba mesin kopi yang akan saya ceritakan ini, La Marzocco Strada. Mungkin ini adalah Strada yang pertama yang akan digunakan untuk kafe di Indonesia. Dirancang oleh La Marzocco, perusahaan pembuat espresso machine dari Florence, Italia, bersama dengan “tim jalanan” yang terdiri dari para jawara barista, teknisi, dan ahli pemasaran dari berbagai belahan dunia. Tim ini berpartisipasi untuk memberikan masukan dalam hal desain mesin dan ergonomi, ekstraksi dan kualitas yang dihasilkan dalam cangkir, serta programmability dan serviceability.

Strada sendiri adalah bahasa Italia dari Jalanan. Dinamakan seperti itu mungkin sebagai refleksi sumbangsih La Marzocco Street Team dalam pengembangannya. La Marzocco Strada diproduksi dalam dua versi yaitu Manual Paddle dan Electronic Paddle. Mesin yang ada dalam tulisan saya ini adalah versi Electronic Paddle.

Makhluk apalagi itu Manual Paddle dan Electronic Paddle? ūüėÜ

Ketika mesin kopi ini dikeluarkan dari kotak kayunya untuk pertama kali terlihat lekuk desainnya yang sederhana, tidak seintimidatif harganya yang saya dengar mencapai 9 digit. Setting awal dilakukan oleh teknisi dari Singapura, tempat mesin ini dibeli. Salah satu yang saya perhatikan adalah pengaturan suhu boiler¬†untuk masing-masing grup. Ya, tiap brew group¬†memiliki individual boiler¬†dengan jumlah total 4¬†boiler. Masing-masing boiler¬†bisa diatur suhunya hingga akurasi 0,1¬įC dengan memutar kenop dan memperhatikan indikator LCD.

Sesuatu yang nampak sangat berbeda dari mesin kopi lain yang pernah saya lihat adalah adanya paddle di setiap group. Fitur ini berfungsi untuk mengatur tekanan air yang akan melewat bubuk kopi. Dengan menggunakan Strada, para barista bisa bermain-main dengan pressure profile, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan dengan mesin kopi bertekanan konstan 9 bar. Strada yang didatangkan ke Jakarta ini adalah versi Electronic Paddle dengan 3 grup. Paddle-nya bisa mengatur tekanan dari 0 hingga 12 bar. Nama electronic paddle disematkan karena di versi ini pressure profile bisa direkam dan paddle bisa secara otomatis mengikuti profil tertentu ketika digeser secara penuh. Untuk yang versi manualnya, barista harus menggeser paddle di posisi-posisi tertentu untuk mendapatkan tekanan tertentu selama waktu yang diinginkan. Mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk membiasakan diri dan mendapatkan hasil yang konsisten dengan manual paddle.

Seperti yang sudah saya katakan di atas, saya beruntung bisa mencoba “bermain-main” dengan mesin mewah ini. Memang belum bermain dengan profil tekanan yang berbeda-beda sih, karena untuk mendapatkan espresso yang baik dengan satu profil tertentu saja butuh berkali-kali percobaan. Pada saat mencoba, saya menggunakan paddle¬†secara manual dengan mengatur tekanan di 4 bar selama 7 detik pertama dan ditingkatkan hingga 9 bar setelahnya sampai 25 detik. Karena awam, saya belum bisa membedakan apa perbedaan rasa espresso yang dihasilkan dengan metode ini dengan yang dihasilkan dari mesin espresso dengan tekanan konstan. Tapi saya melihat mesin ini bisa menghasilkan espresso dengan crema¬†yang bagus sekali.

Tidak banyak yang bisa saya bahas mengenai La Marzocco Strada karena keterbatasan pengetahuan dan memang bukan tugas saya untuk ngulik kemampuannya.

La Marzocco Strada direncanakan akan mulai melayani para peminum kopi di akhir Mei 2012. Barista yang akan ada di balik mesin ini juga tidak main-main, salah satunya adalah jawara Indonesia Barista Championship 2011. Lokasi kafenya ada di Jalan Gandaria I. Lagi-lagi, beruntungnya saya karena lokasinya dekat sekali dengan kantor. Akan selalu ada waktu yang saya luangkan untuk mampir dan belajar lebih banyak tentang kopi dan barista. Siapa tahu saya nanti boleh jadi guest barista? Hahaha…

READ MORE
05 May

Oleh-oleh dari Australia di Lante Satu

By / on Cafe Story

Menghabiskan waktu dengan ngopi bersama teman-teman adalah salah satu cara refreshing murah buat saya. Seringkali acara ngopi-ngopi tersebut tidak direncanakan sebelumnya, seperti kali ini yang dipicu oleh tweet Pak Hendri, teman saya yang memamerkan sekantong biji kopi yang didapatkannya dari Australia. Tidak seberapa lama setelah percakapan di twitter, saya langsung meluncur menuju lokasi dimana dia berada demi sekedar mencicipi kopi impor tersebut.

Kami bertemu di sebuah kafe yang terbilang baru daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, dekat dengan kampus Universitas Bina Nusantara. Kafe ini dinamakan Kedai Lante Satu, nama yang sederhana dan mudah diingat. Pemiliknya adalah seorang fotografer bernama Timur Angin, dan saya tahu dari Pak Hendri bahwa ia adalah putra dari Seno Gumira Ajidarma. Dua-duanya adalah seniman hebat menurut saya. Siapa yang tidak kenal tulisan-tulisan SGA, dan Timur Angin, karya fotografinya selalu memukau mata saya. Cukup sampai situ saja sih, saya tidak akan melanjutkan bercerita tentang kedua orang tersebut. Hahaha…

Kedai Lante Satu menempati sebuah ruko di lantai satu, sedangkan lantai duanya digunakan sebagai studio foto. Saat saya datang terasa suasana yang hangat karena interior yang sebagian besar terdiri dari furniture dan pernak-pernik yang terbuat dari kayu, demikian juga coffee-bar-nya.

Ada sesuatu yang sangat menarik di kafe ini. Ada sebuah sofa yang terbuat dari jok belakang mobil Volvo 264GL, lengkap dengan bagasinya! Awesome! Saya ingin sekali punya yang seperti ini untuk di rumah. ūüėÜ

Yang saya jumpai di Kedai Lante Satu ternyata bukan hanya Pak Hendri, sudah ada Doddy Samsura juga ketika saya datang. Doddy yang datang dari Yogyakarta adalah juara satu Indonesia Barista Championship 2011, dan ketika itu sedang berkunjung ke Jakarta untuk persiapan dalam rangka mengikuti Asia Barista Championship 2012 di Singapura (saat ini Doddy sudah menyabet peringkat 2 di ajang tersebut). Tidak berapa lama kemudian menyusul beberapa teman lainnya. Ternyata acara icip-icip kopi ini jadi ramai. Asyik!

Biji kopi yang dikirim dari Australia ternyata adalah biji kopi yang berasal dari El Salvador. Biji kopi ini di-roast oleh Mecca Espresso, sebuah coffeebars and roastworks di negeri aborigin tersebut. Saya yang awam ini merasa kagum ketika melihat kemasan kopi dari Mecca ini. Informasi yang tertera di labelnya sangat lengkap. Kita jadi bisa mengetahui dengan cukup detil darimana biji kopi tersebut berasal hingga ke nama petaninya. Traceability seperti ini, yang saya ketahui, sangat penting untuk roaster agar bisa mendapatkan kualitas kopi yang konsisten. Untuk konsumen seperti saya, informasi seperti ini tentu menambah cerita dalam cangkir kopi selain juga rasa hormat kepada petani-petani yang dengan penuh dedikasi berusaha menghasilkan biji-biji kopi terbaik.

Kopi El Salvador ini dikirim oleh Trisatya Dharmawan, seorang WNI yang bekerja menjadi barista di Australia. Kopi yang sama dengan yang akan digunakannya dalam event Australian Barista Championship di awal Mei ini. Meskipun di labelnya tertulis “roasted for espresso” tetapi sore itu kami tidak berniat menggunakan mesin espresso untuk menyeduh kopi ini. Kami sepakat untuk menggunakan metode Fench press¬†saja yang simpel. Rasa kopinya sangat mild menurut saya, baik dari bitterness maupun acidity. Selain itu saya mendapatkan juga citarasa fruity di dalamnya.

Tidak cukup kopi El Salvador saja, kami juga menyeduh espresso dengan menggunakan kopi Kintamani. Kopi Kintamani ini adalah pilihan yang akan digunakan Doddy selain kopi Toraja dalam kompetisi Asia Barista Championship. Doddy yang membuatkan kopinya menggunakan mesin ECM Giotto berukuran mungil yang ada di bar.

Seperti biasa, kalau ngopi bareng teman-teman para maniak kopi tidak pernah bisa sebentar. Selalu saja ada bahasan tentang kopi yang mengalir seakan tidak ada habisnya. Namun begitu, saya merasa beruntung mengenal teman-teman yang punya passion  sangat besar di dunia kopi. Dari acara ngopi-ngopi seperti ini saya hampir selalu mendapatkan pengalaman dan wawasan baru. Tidak jarang juga mendapatkan kenalan baru.

Mari ngopi!

READ MORE

01 May

The Blue Lotus Coffeehouse

By / on Cafe Story

Mencari tempat ngopi di Semarang yang bisa memuaskan selera saya itu cukup sulit. Selain karena memang saya tidak tinggal di Semarang, teman-teman saya yang ada di kota ini pun selama ini tidak bisa memberikan rekomendasi yang pas. Hahaha… Nah, kebetulan beberapa waktu lalu saya membaca twitter Kang Adi Taroepratjeka yang sedang syuting untuk acara Coffee Story di sekitar daerah Semarang dan Beliau menyebut sebuah coffeehouse bernama Blue Lotus.¬†Seminggu kemudian saya terbang ke Semarang dan memastikan diri mampir ke lokasi ini.

Lokasi The Blue Lotus Coffeehouse tidak sulit untuk ditemukan karena berada di pusat kota, dekat dengan rumah makan Soto Bangkong yang legendaris. Menempati bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa, Blue Lotus memiliki ruangan yang sangat luas jika dibandingkan dengan rata-rata coffeehouse lainnya di Semarang atau bahkan di Jakarta. Meskipun ruang utama ada di lantai dasar, tetapi tampaknya lantai di atasnya juga bisa digunakan untuk menampung pengunjung.

Banyak sofa besar yang nyaman di dalam ruangan Blue Lotus, selain juga kursi-kursi kayu yang melingkari meja dengan jarak yang cukup jarang antara satu dengan yang lain. Sudut paling favorit tentu saja sofa biru yang ada di dekat rak buku. Selain bisa dengan mudah memilih-milih bahan bacaan untuk teman ngopi juga bisa dengan bebas menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan termasuk memperhatikan tingkah polah barista di balik bar.

Di atas bar bertengger manis sebuah mesin espresso La Marzocco FB70 berwarna merah metalik. Selain itu berbagai perlengkapan untuk menyeduh kopi juga dipajang di sepanjang meja bar. Dari perbincangan dengan sang barista, saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya Blue Lotus punya campuran kopi sendiri untuk espresso yang dinamakan Bimantoro blend tetapi pada saat saya berkunjung, mereka menggunakan kopi Kintamani sebagai alternatif.

Kopi Mandhailing jadi pilihan saya di sore itu, diseduh dengan syphon oleh sang barista. Menyeduh kopi dengan alat ini selalu menjadi atraksi kecil yang menarik. Kopi bagaikan sebuah ramuan ajaib yang diracik dalam bejana kaca oleh sang penyihir.

Saya tidak tahu seberapa sering orang Semarang memesan syphon coffee, tapi saya memperhatikan bahwa barista Lotus Coffee cukup terampil dalam menyajikannya. Mungkin juga karena mereka dilatih dengan sangat baik oleh sang pemilik yang juga memiliki passion yang mendalam terhadap kopi.

Pak Hardjono, pemilik Blue Lotus sendiri tidak memiliki latarbelakang di industri kuliner ataupun kopi sebelum membuka coffeehouse ini. Namun saat menimba ilmu di New York, beliau sangat tertarik dengan kultur kopi di kota tersebut. Ketika kembali ke Semarang, Pak Hardjono sempat berkarir di sebuah perusahaan sebelum akhirnya melihat peluang untuk menghadirkan tempat ngopi berkualitas. Dengan bekal semangat belajar yang tinggi dan juga pelayanan yang baik dan personal, kini Pak Hardjono dan Blue Lotus, menurut saya adalah ikon independent coffeehouse di Semarang.

READ MORE