Oleh-oleh dari Australia di Lante Satu

May 05, 2012 / by / 7 Comments

Menghabiskan waktu dengan ngopi bersama teman-teman adalah salah satu cara refreshing murah buat saya. Seringkali acara ngopi-ngopi tersebut tidak direncanakan sebelumnya, seperti kali ini yang dipicu oleh tweet Pak Hendri, teman saya yang memamerkan sekantong biji kopi yang didapatkannya dari Australia. Tidak seberapa lama setelah percakapan di twitter, saya langsung meluncur menuju lokasi dimana dia berada demi sekedar mencicipi kopi impor tersebut.

Kami bertemu di sebuah kafe yang terbilang baru daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, dekat dengan kampus Universitas Bina Nusantara. Kafe ini dinamakan Kedai Lante Satu, nama yang sederhana dan mudah diingat. Pemiliknya adalah seorang fotografer bernama Timur Angin, dan saya tahu dari Pak Hendri bahwa ia adalah putra dari Seno Gumira Ajidarma. Dua-duanya adalah seniman hebat menurut saya. Siapa yang tidak kenal tulisan-tulisan SGA, dan Timur Angin, karya fotografinya selalu memukau mata saya. Cukup sampai situ saja sih, saya tidak akan melanjutkan bercerita tentang kedua orang tersebut. Hahaha…

Kedai Lante Satu menempati sebuah ruko di lantai satu, sedangkan lantai duanya digunakan sebagai studio foto. Saat saya datang terasa suasana yang hangat karena interior yang sebagian besar terdiri dari furniture dan pernak-pernik yang terbuat dari kayu, demikian juga coffee-bar-nya.

Ada sesuatu yang sangat menarik di kafe ini. Ada sebuah sofa yang terbuat dari jok belakang mobil Volvo 264GL, lengkap dengan bagasinya! Awesome! Saya ingin sekali punya yang seperti ini untuk di rumah. ūüėÜ

Yang saya jumpai di Kedai Lante Satu ternyata bukan hanya Pak Hendri, sudah ada Doddy Samsura juga ketika saya datang. Doddy yang datang dari Yogyakarta adalah juara satu Indonesia Barista Championship 2011, dan ketika itu sedang berkunjung ke Jakarta untuk persiapan dalam rangka mengikuti Asia Barista Championship 2012 di Singapura (saat ini Doddy sudah menyabet peringkat 2 di ajang tersebut). Tidak berapa lama kemudian menyusul beberapa teman lainnya. Ternyata acara icip-icip kopi ini jadi ramai. Asyik!

Biji kopi yang dikirim dari Australia ternyata adalah biji kopi yang berasal dari El Salvador. Biji kopi ini di-roast oleh Mecca Espresso, sebuah coffeebars and roastworks di negeri aborigin tersebut. Saya yang awam ini merasa kagum ketika melihat kemasan kopi dari Mecca ini. Informasi yang tertera di labelnya sangat lengkap. Kita jadi bisa mengetahui dengan cukup detil darimana biji kopi tersebut berasal hingga ke nama petaninya. Traceability seperti ini, yang saya ketahui, sangat penting untuk roaster agar bisa mendapatkan kualitas kopi yang konsisten. Untuk konsumen seperti saya, informasi seperti ini tentu menambah cerita dalam cangkir kopi selain juga rasa hormat kepada petani-petani yang dengan penuh dedikasi berusaha menghasilkan biji-biji kopi terbaik.

Kopi El Salvador ini dikirim oleh Trisatya Dharmawan, seorang WNI yang bekerja menjadi barista di Australia. Kopi yang sama dengan yang akan digunakannya dalam event Australian Barista Championship di awal Mei ini. Meskipun di labelnya tertulis “roasted for espresso” tetapi sore itu kami tidak berniat menggunakan mesin espresso untuk menyeduh kopi ini. Kami sepakat untuk menggunakan metode Fench press¬†saja yang simpel. Rasa kopinya sangat mild menurut saya, baik dari bitterness maupun acidity. Selain itu saya mendapatkan juga citarasa fruity di dalamnya.

Tidak cukup kopi El Salvador saja, kami juga menyeduh espresso dengan menggunakan kopi Kintamani. Kopi Kintamani ini adalah pilihan yang akan digunakan Doddy selain kopi Toraja dalam kompetisi Asia Barista Championship. Doddy yang membuatkan kopinya menggunakan mesin ECM Giotto berukuran mungil yang ada di bar.

Seperti biasa, kalau ngopi bareng teman-teman para maniak kopi tidak pernah bisa sebentar. Selalu saja ada bahasan tentang kopi yang mengalir seakan tidak ada habisnya. Namun begitu, saya merasa beruntung mengenal teman-teman yang punya passion  sangat besar di dunia kopi. Dari acara ngopi-ngopi seperti ini saya hampir selalu mendapatkan pengalaman dan wawasan baru. Tidak jarang juga mendapatkan kenalan baru.

Mari ngopi!


ABOUT THE AUTHOR