Lentera jiwa Hideo Gunawan

February 26, 2013 / by / 8 Comments

Saya teringat ketika itu kali pertama saya berkunjung ke Pasar Santa dan singgah di toko kopi milik Christine Tandibua. Saat itu ada seorang pria yang sedang tidur-tiduran di dekat tumpukan karung kopi Toraja Sapan. Saya pikir dia adalah saudaranya karena bentuk wajah yang mirip, yang baru saya ketahui kemudian bahwa sang pria tersebut juga berasal dari Makassar, sama dengan daerah asal Christine.

Setelah berkenalan, saya tahu namanya adalah Hideo Gunawan. Seingat saya, ketika kenal di bulan Januari tahun 2012 itu, dia masih bekerja di sebuah perusahaan yang berhubungan dengan audio. Hideo ternyata juga seorang alumni ITB, sama seperti saya, hanya saja angkatannya lebih muda dan berbeda jurusan. Saya lulus dari jurusan Geologi sedangkan Hideo dari Fisika Teknik.

Obrolan panjang tentang kopi di Pasar Santa antara saya, Christine, Hideo, dan satu pria lagi bernama Levy, membuat saya bisa menangkap bahwa Hideo ini punya passion yang mendalam tentang kopi. Pengetahuannya tentang kopi pun dapat saya bilang cukup luas untuk anak muda seperti dia yang bahkan saat itu belum berkutat di bisnis kopi.

Sejak pertama bertemu tersebut saya kemudian lama tidak pernah ngobrol lagi dengan Hideo sampai empat bulan kemudian saya mendengar kabar bahwa dia telah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memutuskan untuk menjadi seorang coffee roaster. Hideo akhirnya mengikuti suara hati dan menemukan lentera jiwanya.

hideo gunawan

Keputusan Hideo untuk terjun penuh menjadi seorang roaster tentunya bukan hanya modal nekat. Setahu saya, sebelum membuka kiosnya di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Hideo memantapkan terlebih dahulu ilmunya dengan belajar ilmu menyangrai kopi di Singapura. Sekarang, berbekal sebuah roasting machine buatan lokal berkapasitas 1 kg sebagai jantung operasinya, Hideo berkreasi, mencurahkan cinta dan pengetahuan, untuk mengeluarkan aroma dan citarasa kopi yang terbaik.

Eksperimen Hideo tidak sebatas pada biji kopi lokal saja, tetapi juga biji kopi impor. Salah satu metode belajar Hideo adalah menjadikan kopi impor hasil karya roaster asing yang terkenal sebagai acuan dan kemudian membeli biji kopi yang sama untuk diulik di mesin penyangrainya hingga menghasilkan kualitas citarasa yang setidaknya mendekati kopi acuannya tersebut. Dia menyebut proses ini sebagai reverse engineering.

Tentu saja kegiatan menyangrai yang dilakukan di kios sederhana miliknya tidak hanya bertujuan untuk eksperimen. Hideo juga sudah memiliki pelanggan cukup banyak yang cukup menyibukkannya karena saat ini dia hanya bekerja seorang diri.

roasted bean

roasting

Sekitar satu minggu lalu ketika saya iseng-iseng main ke kiosnya, kebetulan Hideo sedang akan menyangrai biji kopi grade AA dari Kenya. Saya hanya memperhatikan apa yang dibicarakan dan dilakukannya selama proses penyangraian dilakukan. Menyangrai biji kopi itu bermain-main dengan suhu dan waktu. Naik turunnya suhu diatur dengan seksama dan dicatat setiap menitnya. Tingkat kematangan biji kopi dikontrol setiap interval tertentu melalui “tongkat pengintip”. Telinga ditajamkan untuk mendengarkan pada menit ke berapa mulai terdengar suara gemeretak biji kopi untuk pertama kali. Semuanya harus terekam dengan baik agar mudah diduplikasi untuk batch berikutnya demi menghasilkan kopi dengan kualitas rasa yang seragam. Tentu saja proses yang diduplikasi adalah yang memang memberikan citarasa terbaik setelah dilakukan uji citarasa kopi atau cupping.

Menariknya, ketika biji kopi Kenya tersebut telah selesai disangrai dan saya cicipi dengan cara menggigit dan mengunyah langsung, ternyata tidak terasa pahit. Malah ada sensasi rasa anggur yang tertinggal di lidah, dan sedikit asam yang menyenangkan.

Tanpa saya minta, Hideo langsung mengemas 100 gram kopi Kenya tersebut dan dihadiahkan untuk saya. Sudah pasti saya senang sekali menerima kopi premium gratisan. 😆

“Kopi yang ini nggak gw jual. Khusus untuk belajar dan dinikmati sendiri”, katanya.

termometer

*Lentera jiwa terinspirasi dari lagu Nugie yang bercerita tentang seseorang yang berani memilih untuk mengerjakan apa yang menjadi passionnya.


ABOUT THE AUTHOR