Sama Tapi Tak Serupa: One Fifteenth & Pandava

March 17, 2013 / by / 1 Comment

Jakarta Selatan mungkin masih menjadi surga bagi penikmat kopi, setidaknya ini menurut pengalaman pribadi saya. Jualan kopi tidak sekedar menjual kafein dalam cangkir, tetapi juga idealisme, semangat, suasana, bahkan sebuah pengalaman yang paripurna. Setiap kedai kopi punya sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan kepada pengunjung. Diferensiasi yang dapat diterima dengan baik oleh konsumen tentunya akan mampu membuat bisnis terus berjalan.

Memiliki mesin kopi yang cantik dengan teknologi yang ciamik, dan bahkan mungkin merupakan kedai kopi yang pertama atau satu-satunya yang memilikinya adalah salah satu cara untuk menonjolkan diri di tengah persaingan. Tentu saja tetap harus didukung oleh barista yang terampil dan kemasan pemasaran yang bagus agar pengunjung dapat merasakan pengalaman ngopi yang memang berbeda.

One Fifteenth - Pandava

1/15 Coffee dan Pandava Coffee adalah contoh kedai kopi yang ingin tampil beda dengan menghadirkan mesin kopi yang tidak dimiliki oleh kedai kopi lainnya. La Marzocco Strada yang jadi jantungnya 1/15 Coffee sudah pernah saya bahas di sini. Sedangkan Pandava Coffee memilih untuk memboyong Slayer Espresso. Bagi para coffee geek, melihat mesin-mesin molek ini tampil di bar tentu saja memberikan sebuah kesenangan sendiri, apalagi jika diperbolehkan untuk menjajalnya. Untuk yang terakhir ini mungkin hanya bisa dilakukan jika Anda diijinkan oleh sang barista atau pemilik kafenya. ūüėÜ

Strada - Espresso

Slayer - close up

Jika membahas mesin espresso yang digunakan kedua kedai kopi ini, buat saya pribadi, desain mesin espresso Slayer lebih memikat meskipun Strada EP memiliki teknologi yang lebih canggih. Slayer memiliki¬†lekuk body yang tampak futuristik, mencolok dengan warna oranye yang tampil wet look,¬†digabungkan dengan elemen klasik seperti material kayu untuk¬†paddle dan pengukur tekanan analog. Sungguh cantik! Sayangnya saya belum berkesempatan untuk bermain-main sedikit dengan mesin ini. ūüėÄ

Slayer espresso

Mesin kopi yang eksotik bukan menjadi satu-satunya “jualan” kedua kedai kopi tersebut. Hal lain yang menyenangkan adalah keduanya menawarkan biji-biji kopi dari luar Indonesia yang disangrai oleh para¬†roaster¬†kenamaan. Menyenangkan karena memberi kesempatan bagi penggemar kopi seperti saya untuk mencicipi berbagai karakter dan citarasa kopi dunia. ¬†Anda juga tidak akan bosan ngopi di 1/15 atau Pandava karena kopi-kopi spesial yang Anda temukan mungkin akan berbeda-beda dari satu kunjungan ke kunjungan lainnya, dan biasanya hanya tersedia dalam waktu dan jumlah yang terbatas.

pandava coffee 02

Pandava - slow bar

Menggunakan alat manual atau bukan mesin ketika menyeduh kopi sudah jelas bukan hal baru. Hanya saja saya perhatikan trennya makin meningkat dalam tiga tahun belakangan ini. Sekarang juga sudah banyak kedai kopi yang menawarkan cara seduh manual selain menggunakan french press yang sudah sangat umum.

Di 1/15 dan Pandava, lagi-lagi ada kesamaan dari kedua kopi yang saya bahas tersebut. Desain bar-nya yang panjang, selain menyajikan  espresso bar di satu sisi, Anda juga akan menemukan slow bar di sisi lain dengan deretan berbagai alat seduh manual terpajang. Untuk pilihan alat seduh manual, sepertinya 1/15 lebih unggul dari Pandava. Pandava coffee memiliki koleksi V60, smart drip, chemex, dan syphon, sedangkan 1/15 selain yang sudah disebutkan juga ada kalita wave, kone filter, dan cold drip. Jika Anda seorang penggemar berat kopi, mungkin akan merasakan bahwa jenis alat seduh juga akan mempengaruhi karakter kopi di cangkir yang kita sesap.

Bluebottle - Guatemala

One Fifteenth - brewing tools

Mesin kopi mewah, biji kopi terbaik dari berbagai negara, dan berbagai pilihan alat seduh manual yang unik, bisa menjadi nilai jual sebuah kedai kopi di mata seorang penggemar kopi. Namun begitu elemen-elemen tersebut akan terasa hampa ketika tidak bisa bercerita, dan akhirnya secangkir kopi yang tersaji dalam cangkir pelanggan hanya sekedar kopi enak atau tidak enak.

Barista, sang peracik kopi, menurut saya juga harus menjadi seorang pendongeng ulung. Dengan begitu dia bisa bercerita mengenai mesin espresso yang jadi senjata andalannya, tentang alat seduh yang menjadi atraksinya, atau juga cerita dari setiap biji kopi yang dituangkannya dalam mesin penggiling kopi dan bagaimana kopi tersebut akan mengesankan peminumnya. Pelanggan yang bisa memahami dongeng sang barista, secara tidak langsung akan dapat menangkap diferensiasi yang ditawarkan kedai kopi yang dikunjunginya.

Buat saya, untuk dapat mendengar dongeng dari seorang barista tentang kopi yang saya pesan, paling tepat adalah dengan duduk di depan bar. Jangan sungkan melontarkan pertanyaan, karena dari situ Anda juga dapat menilai seberapa baik pelayanan yang Anda dapatkan. Sejauh ini, pengalaman berbincang dengan para barista 1/15 maupun Pandava tentang kopi selalu mengasyikkan. Kopi enak tentu saja membuat saya senang, tetapi pelayanan yang prima dan personal akan memberikan pengalaman ngopi yang sempurna. Sudah tentu, saya masih akan kembali dan kembali lagi untuk secangkir kopi di 1/15 coffee dan Pandava coffee.

P1100003

One Fifteenth Coffee
Jalan Gandaria I no. 63
Jakarta Selatan
Senin ‚Äď Jumat 10.00 ‚Äď 22.00
Sabtu & Minggu 9.00 ‚Äď 22.00
(021) 7225678

Pandava Coffee
Epiwalk 119, Superblok Rasuna Epicentrum
Jakarta Selatan
Senin ‚Äď Minggu 9.00 ‚Äď 22.00
(021) 29941042


ABOUT THE AUTHOR