Archive for May, 2013

12 May

Faema E61 Legend

By / on Coffee Lab

Di tahun 2006, saya pertama kali dikenalkan dengan istilah E61 grouphead. Saat itu pemilik kafe tempat saya bekerja bercerita bahwa mesin ECM Michaelangelo yang kami gunakan mengadopsi teknologi grouphead milik Faema E61 yang legendaris. Saya tidak pernah melihat secara langsung mesin yang disebut-sebut itu hingga tujuh tahun kemudian.

Tanggal 1 Mei 2013 lalu, sebuah mesin espresso Faema E61 Legend tiba di sebuah kafe di Jakarta. Mesin ini merupakan sebuah kelahiran kembali dari mesin asli Faema E61 yang legendaris, oleh karena itu disematkanlah nama “Legend” di belakangnya. Betapa senangnya saya ketika teman mengajak untuk ikut menyaksikan pemasangan dan uji coba mesin menyeduh espresso untuk pertama kalinya. Ini adalah Faema E61 Legend pertama yang pernah saya lihat digunakan untuk kafe di Indonesia.

Faema E61 006

Desain E61 Legend sungguh menggetarkan hati saat pertama kali melihatnya. Sudut-sudut membulat dari body stainless-steel berlapis chrome dan sederet paku keling sebagai penyambung bagian satu dengan lain sungguh terlihat klasik. Aksen warna keemasan dan tempered glass dengan backlight warna merah menambah kesan mewah sekaligus genit menggoda. Menurut saya, Faema E61 Legend adalah Cadillac-nya mesin espresso, atau bahkan bisa dipersonifikasikan layaknya seorang gadis Cadillac di poster ini. :p

Source: vintage-ads.livejournal.com via Jim on Pinterest

Desain E61 Legend ini sangat membaur dengan desain interior kafe. Ketika mesin sudah terpasang dengan baik di atas bar, sesaat saya terbayang nuansa film barat dengan setting tahun 1950an atau poster-poster iklan di era tersebut. Seandainya saja ketika itu ada perempuan cantik dengan dandanan vintage seperti gadis Cadillac ikut nimbrung di coffee bar, pasti suasana klasik akan lebih terasa. 😆

Faema E61 001

Faema E61 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1961. Pada masanya, E61 hadir dengan membawa inovasi-inovasi terbaru dalam perkembangan teknologi mesin espresso. Di berbagai website yang membahas mengenai mesin espresso,  E61 sering disebut sebagai mesin yang revolusioner karena menggabungkan beberapa teknologi terbaru dalam satu mesin. Teknologi yang dimaksud adalah pompa elektrik untuk menghasilkan tekanan yang konstan sesuai kebutuhan, heat exchanger yang mampu memanaskan air yang masuk ke group head, dan yang menjadi mahakarya inovasi dari mesin ini adalah grouphead E61 dengan saluran internal  yang menyirkulasikan air dalam sebuah sirkuit thermosyphon untuk menjaga grouphead tetap panas. Dan mekanisme passive pre-infusion  dalam grouphead tersebut memungkinkan ekstraksi kopi yang lebih merata .

Faema E61 002

Faema E61 003

Kelahiran kembali E61 yang menitis dalam E61 Legend tidak mengubah sedikitpun tampilan aslinya. Bahkan steam wand pun masih mengikuti desain awal yang tanpa ball joint. Barista yang sudah terbiasa dengan steam wand yang dapat digerakkan atau diputar pun harus membiasakan dengan sudut yang tidak fleksibel. Meskipun tampilan klasik tetap dipertahankan, E61 Legend tetap mendapatkan update dari sisi teknologi. E61 yang baru kini menghadirkan sebuah pengisi boiler otomatis untuk mempertahankan volume air dalam boiler. Barista kini tidak perlu selalu mengawasi indikator volume boiler Pompa volumetrik yang efisien juga telah digunakan dalam heat exchange system sehingga memungkinkan desain boiler yang lebih optimal.

Faema E61 005

Kalau Anda bingung dengan istilah-istilah teknis di atas, jangan kuatir, karena begitu juga dengan saya. Jika tertarik mengetahui informasi lebih detil mengenai teknologi yang ada di E61, beberapa tautan di atas dapat memberikan penjelasan yang cukup mudah dimengerti dan dibantu dengan ilustrasi sederhana.

Intinya adalah, Faema E61 memungkinkan para barista untuk membuat espresso berkualitas tanpa memerlukan keahlian yang tinggi. Saya sudah membuktikan bahwa mesin cantik ini bisa menghasilkan espresso yang cantik pula secara tampilan maupun citarasa. Menjadi pemilik sebuah Faema E61 Legend merupakan sebuah prestis dan menurut saya juga menjadi sebuah pernyataan bahwa sang pemilik kafe berkomitmen menyajikan espresso terbaik untuk para pelanggannya. Semoga saja.

Faema E61 007

 

READ MORE
03 May

Meracik Signature Drink Dengan Kopi Dolok Sanggul

By / on Coffee Lab

Menurut Wikipedia, Dolok Sanggul adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Kota ini terletak di dataran tinggi berhawa dingin sejuk. Warganya mayoritas berpenghidupan sebagai petani. Menurut informasi di sini, tanaman andalan di Humbang Hasundutan adalah kopi, sayur mayur, dan kemenyan.

Bagi orang awan, kopi Dolok Sanggul mungkin tidak seterkenal kopi Lintong yang juga berasal dari Sumatera Utara. Saya sendiri baru mulai akrab dengan namanya sekitar 4 bulan belakangan. Nah, kopi Dolok Sanggul yang ingin saya ceritakan kali ini adalah dari Morph Coffeecoffee roaster berbasis di Jakarta yang bisa dibilang cukup baru dalam memulai operasinya.

Sedikit cerita tentang asal muasal kopinya, Dolok Sanggul yang disangrai oleh Morph ditanam pada ketinggian 1.400 – 1.600 dpl. Proses pengolahannya menggunakan metode fully washed dan wet hulled. Setelah buah kopi dipetik, kulitnya dikupas dan difermentasikan selama kurang lebih 16 jam dalam kantung plastik tertutup dengan kondisi tidak terkena cahaya. Setelah proses fermentasi, biji kopi dicuci dan dikeringkan selama sehari untuk kemudian dikupas kulit kopi tanduknya ketika kandungan air dalam kopi tinggal sekitar 36%. Proses dilanjutkan dengan mengeringkan biji kopi hingga benar-benar kering dan kandungan air hanya tinggal 12% – 13%. Biji kopi kemudian diistirahatkan selama beberapa hari sebelum dilakukan sorting menggunakan mesin maupun manual dengan tangan lalu dikemas.

Pertama kali mencoba Dolok Sanggul milik Morph, saya memilih Kalita wave untuk menyeduhnya.  Di kesempatan yang lain, saya berkesempatan mencoba espresso Dolok Sanggul yang diseduh langsung oleh Anggara Rizki, barista dari 1/15 Coffee. Pada IBC 2013 lalu, Rizki mengandalkan kopi ini untuk espresso yang berakhir dengan prestasi cukup membanggakan, yaitu menyabet peringkat keempat. Dolok Sanggul ini, menurut Rizki memiliki rasa asam khas buah stroberi. Kita juga bisa menemukan rasa dark chocolate dan manis palm sugar ketika meminumnya.

Dolok Sanggul - Espresso

Apakah benar saya bisa menemukan apa yang dideskripsikan oleh Rizki? Bagi penikmat kopi yang indera pengecapnya belum terlatih dengan baik seperti saya, meskipun bisa merasakan perbedaan citarasa kopi satu dengan yang lain namun agak sulit untuk menerjemahkan rasa apa saja yang saya temukan dalam kopi yang saya minum. Nah, untuk membuktikan apa yang telah dideskripsikannya, Rizki membuatkan sebuah signature drink yang konsepnya adalah memperkuat citarasa espresso Dolok Sanggul.

Bahan-bahan yang dipersiapkan adalah buah stroberi, dark chocolate, dan gula. Ketiga bahan ini dicampur dan diolah menggunakan Thermomix. Rizki menceritakan bahwa ia membutuhkan lima kali percobaan sebelum akhirnya mendapatkan paduan komposisi bahan dan pengaturan suhu dan waktu yang pas agar campuran yang dibutuhkan memiliki rasa dan tekstur seperti yang diinginkan. Rumus akhir inilah yang kemudian ia bawa ke final IBC 2013 untuk diubah menjadi sebuah minuman pamungkas, penutup penampilannya.

ingredients

Campuran dari bahan stroberi, dark chocolate, dan gula tersebut dipadukan dengan satu shot espresso Dolok Sanggul dalam sebuah gelas dengan perbandingan entah-berapa-saya-lupa. 😀

Dolok Sanggul - signature 01

Hasilnya adalah sebuah minuman dengan citarasa kopi Dolok Sanggul yang tidak berubah namun elemen-elemen rasa di dalamnya terasa lebih mencuat di lidah. Otak saya pun merekam, “Oohh… Asam yang terasa di espresso Dolok Sanggul itu sama dengan asamnya strawberry toh.” Saya juga bisa mengidentifikasi rasa manis dan rasa dark chocolate yang sama dari espresso Dolok Sanggul dengan intensitas lebih tinggi pada racikan signature drink ini. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menarik bagi seorang penikmat kopi awam.

Dolok Sanggul - signature 02

Terima kasih kepada 1/15 Coffee dan Morph Coffee yang telah mengundang untuk ikut merasakan pengalaman para juri Indonesian Barista Competition, yaitu mencicipi espresso dan signature drink para barista terbaik.

Mari ngopi!

 

READ MORE