Archive for March, 2014

Espresscoffee_bar
26 Mar

Espress Coffee

By / on Cafe Story

Espress Coffee collage01 Espress Coffee collage02

Penat setelah seharian berkutat sebagai relawan di acara ILAC 2014 harus diobati dengan berjalan-jalan menikmati atmosfer Bali. Kebetulan di suatu malam, adik saya yang tinggal di Denpasar bersedia mengantar saya untuk melakukan ziarah kopi, mengunjungi kedai-kedai kopi di Bali yang belum pernah saya singgahi sebelumnya. Malam itu saya memisahkan diri dengan para relawan lainnya yang diundang oleh sponsor untuk sebuah perjamuan. (more…)

READ MORE
DeKoffievarian
18 Mar

Take your best shot!

By / on Advertorial

Menikmati akhir pekan bersama keluarga di mall mungkin adalah sebuah kegiatan yang sangat umum dilakukan oleh kaum #kelasmenengahngehek seperti saya ini. Bukan bermaksud sok-sokan sih, tapi sekarang ini memang banyak mall yang memiliki taman bermain untuk balita dan anak-anak. Jadi paling tidak dua atau tiga minggu sekali saya mengajak anak saya untuk bermain di playground  yang ada di mall. 😆

Kebetulan ketika pada hari Sabtu lalu sedang jalan-jalan ke Senayan City bersama keluarga, di atriumnya sedang ada sebuah aktivitas yang menarik perhatian saya. Di atrium yang luas itu tampak ada dua pop-up bar dan sebuah panggung dengan dekorasi tiga botol minuman raksasa. Ketika saya akan mendekat ke bar untuk menghilangkan rasa penasaran, seorang SPG langsung mendekat dan menawarkan sebuah produk minuman baru yang ternyata adalah kopi siap minum dengan nama De’Koffie.

DeKoffiebar

Mbak SPG yang cantik menyodorkan kepada saya tiga varian De’Koffie, yaitu Original, Latte, dan Mocha. “Pilih satu, Mas. Gratis!”, katanya. Saya pun memilih varian yang Original karena berdasarkan pengalaman saya mencoba minuman kopi ready-to-drink selalu terasa manis sekali buat saya. Sedangkan sehari-harinya saya tidak pernah menambahkan gula di setiap cangkir kopi yang saya minum. Jadi setidaknya dalam benak saya, varian yang Original tidak akan semanis dua varian lainnya. 😆

“Silahkan dikocok dulu sebelum diminum, Mas. Soalnya ada micro grind coffee di dalam De’Koffie. Jadi Mas akan mendapatkan citarasa kopi yang lebih kaya.” Saya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Mbak tersebut.

DeKoffieSPG

Menurut saya rasa De’Koffie enak. Manis sih, tapi masih pas dengan selera saya. Jangan dibandingkan dengan rasa kopi arabika premium, jelas beda. Tapi dibandingkan kopi siap minum lain yang ada di pasaran, saya lebih suka De’Koffie. Apalagi ukurannya juga cukup kecil, hanya 130 ml. Buat apa minum kopi banyak-banyak, bukannya mengembalikan fokus, yang ada nanti malah kembung. 😛

Di acara launching De’Koffie itu saya juga membeli satu paket promo berisi tiga varian De’Koffie supaya bisa mencoba rasa yang lain. Eh, bukan ding, saya beli paket promo yang dijual di bar supaya bisa mendapatkan voucher foto. Habis foto boothnya keren sih! 😆

DeKoffiephoto

Tidak hanya industri kopi spesial (specialty coffee) yang makin bergairah tiap tahunnya. Pasar kopi siap minum ternyata juga mampu tumbuh di atas 10% tiap tahun, meskipun pangsa pasarnya masih sangat kecil dibandingkan dengan kopi siap saji. Informasi ini saya dapatkan dari Pak William Tang, brand manager De’Koffie yang juga hadir di acara. Pak William mengatakan bahwa persaingan di segmen kopi siap saji cukup tinggi, namun Beliau yakin bahwa De’Koffie menawarkan sesuatu yang berbeda yang akan disukai oleh konsumen, terutama mereka yang butuh ngopi namun tidak sempat meluangkan waktu karena kesibukan yang sangat padat.

DeKoffieOriginalmeme

READ MORE
ILAC2014stage
17 Mar

Indonesia Latte Art Championship 2014

By / on Coffee Event

Merupakan sebuah momen yang membanggakan ketika pada bulan Oktober tahun 2013 yang lalu, Bali dapat menjadi tuan rumah sebuah pertemuan tingkat tinggi para pemimpin seAsia-Pasifik. Tahun ini, menempati lokasi yang sama dengan pertemuan APEC, tepatnya di Bali Nusa Dua Convention Center, pada tanggal 5 hingga 8 Maret 2013 yang lalu diadakan sebuah kompetisi nasional mempertandingkan keahlian membuat latte art yang pertama di Indonesia. Sebuah gelaran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia.

Mendarat di Bandara Ngurah Rai pagi hari pada tanggal 5 Maret, saya bergegas menuju lokasi acara di Nusa Dua dengan rute melewati tol di atas laut. Sebuah struktur megah yang awalnya dipersiapkan sebagai jalur bebas hambatan bagi para peserta konvensi APEC 2013. Tol Ngurah Rai – Nusa Dua ini merupakan salah satu karya asli Indonesia yang pantas menjadi kebanggaan bangsa.

Setibanya di Bali Nusa Dua Convention Center saya langsung berbaur dengan para sukarelawan dan panitia untuk membantu menyiapkan babak pertama Indonesia Latte Art Championship 2014.

5 Maret 2014 jam 15.00 – 17.00 – ART BAR STAGE

ArtBarILAC2014

Di babak ini, 24 orang kontestan yang sudah disaring dari 60an orang pendaftar berdasarkan video latte art yang diunggah melalui YouTube, memiliki kesempatan sepanjang 10 menit untuk membuat satu cangkir latte art terbaik. Hasil terbaik dari masing-masing kontestan tersebut kemudian difoto untuk kemudian dinilai oleh para juri. Ini bukan babak eliminasi, jadi tidak ada peserta yang tersingkir. Sayangnya pada babak ini ternyata tidak semua kontestan dapat hadir dengan lengkap. Ada satu orang yang tidak hadir dan membatalkan keikutsertaannya sehingga total peserta ILAC 2014 yang bertanding di Bali adalah 23 orang.

6 Maret 2014 jam 11.00 – 15.00 WITA – ELIMINATION STAGE DAY 1

Bezzera Galatea

Panasnya cuaca di Nusa Dua tidak menyurutkan semangat baik panitia maupun peserta untuk menyukseskan gelaran bergengsi ini. Saya menyebut ILAC 2014 ini gelaran bergengsi karena juaranya akan diberangkatkan ke Melbourne, Australia, mewakili Indonesia dalam ajang World Latte Art Championship 2014. ILAC 2014 juga mendapatkan validasi dari WLAC sehingga membuka jalan kontestan Indonesia untuk berpartisipasi di World Latte Art Championship tersebut. Hadir sebagai perwakilan dari WLAC, Emma Markland Webster yang berasal dari New Zealand.

Di tahap eliminasi hari pertama, 12 orang akan beraksi di hadapan juri, menunjukkan kemampuan teknik dan imajinasi mereka dalam seni menuangkan susu di atas espresso. Para kontestan akan dinilai dari segi teknik pembuatan espresso dan visual dari latte art yang dibentuk di atas cangkir.

ILAC 2014 yang diadakan bersamaan dengan acara Food, Hotel, & Tourism expo 2014 ini menarik cukup banyak perhatian pengunjung expo, selain para coffee enthusiast yang memang datang khusus untuk menonton kejuaraan latte art nasional pertama ini. Terlepas dari cuaca yang panas, karena lokasi yang berada di area semi outdoor, para penonton dapat menyaksikan aksi para barista dengan baik, terutama pada saat tangan terampil mereka menari, menuangkan susu di atas espresso. Ini dimungkinkan karena adanya kru video yang merekam secara close-up dan ditayangkan langsung di dua LCD TV yang ditempatkan di bagian kiri dan kanan panggung kompetisi.

Bersamaan dengan kompetisi latte art ini sebenarnya digelar juga Indonesia Cup Taster Championship 2014. Seperti halnya ILAC, ICTC juga merupakan kejuaraan cup taster yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Detil cerita mengenai ICTC 2014 akan saya tuturkan dalam artikel blog berikutnya.

MC yang cantik dan interaktif membawa cair suasana. Ditambah lagi dengan segmen unjuk kemampuan para barista langsung di depan para penonton. Jadi setelah para barista tersebut selesai bertanding di panggung, MC akan meminta mereka untuk turun panggung dan membuat latte art di hadapan penonton. Terkadang penonton juga ditantang untuk ikut membuat latte art dengan iming-iming hadiah merchandise.

7 Maret 2014 jam 10.00 – 15.00 WITA – ELIMINATION STAGE DAY 2

VikiWarkopSruput

Di tahap eliminasi hari kedua hanya ada 11 peserta yang bertanding untuk meraih poin tertinggi. Dibekali dengan mesin Espresso Bezera Galatea dan Anfim sebagai grindernya, masing-masing peserta diberi kesempatan 5 menit untuk persiapan dan kemudian 6 menit untuk membuat 4 cangkir kopi berhiaskan tuangan susu yang dibentuk sedemikian rupa. Empat cangkir tersebut terdiri dari dua pasang cangkir dengan gambar yang identik. Untuk membuat latte art, peserta diperbolehkan menggunakan dua teknik yaitu free pouring dan free design. Untuk menambah tingkat kesulitan, sebelumnya setiap peserta diharuskan menunjukkan foto latte art yang akan dibuat kepada juri. Peserta kemudian harus membuat model latte art yang sama dengan yang ada di foto tersebut.

Kompetisi berjalan seseru hari pertama, dan penampilan pamungkas dari Aga (Tanamera Coffee) berhasil mencuri perhatian banyak penonton termasuk saya.

7 Maret 2014 jam 16.00 WITA – FINALISTS ANNOUNCEMENT 

Bagaimanakah akhirnya peta pertarungan setelah keduapuluhtiga peserta ILAC 2014 usai berlaga di babak eliminasi? Hanya enam kontestan dengan nilai tertinggi yang akan maju ke babak final. Dari atas panggung, ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia mengumumkan keenam finalis tersebut. Inilah nama-namanya:

  1. Arief Rachman dari My Kopi O!, Surabaya.
  2. Fiki Irama Nur Rahardja dari Warung Sruput, Jakarta.
  3. Iqbal Fadilah dari Noah’s Barn, Bandung.
  4. Iwan Setiawan dari Pandava Coffee, Jakarta.
  5. Mimi Alawiyah dari Anomali Coffee, Jakarta.
  6. Muhammad Aga dari Tanamera Coffee, Jakarta.

ILAC 2014 Finalists

8 Maret 2014 jam 10.00 – 15.00 WITA – FINAL STAGE!

ILAC2014Final

Masih dengan prosedur dan aturan yang sama, enam finalis bertarung di hari terakhir ILAC 2014 memperebutkan hadiah uang tunai lima juta rupiah dan tiket ke Melbourne untuk bertanding di World Latte Art Championship 2014. Transportasi dan akomodasi ke WLAC 2014 ditanggung sepenuhnya oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia.

Mungkin karena persiapan yang matang, hampir semua finalis terlihat tampil dengan percaya diri dan tenang, meskipun ada sedikit ketegangan yang tersirat di balik senyum mereka ketika bersalaman dengan para juri.

Dan siapakah yang akhirnya menjadi sang juara?

ILAC2014Champion

Keputusan juri secara mutlak akhirnya menganugerahkan gelar Juara Indonesia Latte Art Championship 2014 kepada Iwan Setiawan dari Pandava Coffee. Iwan mendapatkan nilai total 322, tertinggi dari keenam finalis, dan berhak mewakili Indonesia ke Melbourne pada tanggal 15 – 18 Mei 2014 untuk bertanding di World Latte Art Championship. Berikut ini adalah peringkat akhir di final ILAC 2014

  1. Iwan Setiawan (322 poin)
  2. Muhammad Aga (313 poin)
  3. Iqbal Fadilah (297,5 poin)
  4. Mimi Alawiyah (277 poin)
  5. Fiki Irama Nur Rahardja (256 poin)
  6. Arief Rachman (254,5 poin)

Selamat untuk Iwan Setiawan dan maju terus dunia kopi Indonesia!

[No pictures in galley] READ MORE