Author Archives | tukangkopi

Backyard Coffee

Backyard Coffee

Ngopi buat sebagian orang erat kaitannya dengan proses pencarian ide. Mungkin itulah tujuan para personel Maliq & D’Essentials mendirikan kedai kopi ini di ruang bawah studio musik mereka. Backyard Coffee terletak di daerah Bintaro Jaya, sebuah kota satelit yang berkembang dengan pesat. Lokasi tempat tinggal saya sendiri dekat dengan daerah tersebut, dan selama ini saya merasa memang kedai kopi yang asyik buat nongkrong dekat rumah sangat jarang. Adanya Backyard Coffee tentu membuat pilihan tempat saya ngopi sambil kerja atau nongkrong bertambah.

Ruangan dalam kedai kopi ini tidak terlalu luas dengan desain interior yang sederhana. Ada sebuah bar yang tersusun dari kaset bekas dengan mesin kopi Sanremo dan grinder yang tidak saya ketahui mereknya. Berbagai pernak-pernik menarik dari piano tua hingga karya desain grafis bergaya pop art memberikan suasana yang hangat dan menyenangkan. Kalau mau ngopi dengan suasana outdoor juga bisa memilih untuk duduk di bangku yang ada di teras kedai.

Di kunjungan perdana saya memesan Hazelnut Latte. Mbak Barista pun segera beraksi meracik pesanan. Menariknya, mbak Barista yang saya lupa namanya ternyata adalah seorang eks bartender dan baru belajar jadi Barista ketika bekerja di Backyard Coffee. Eh, tapi Hazelnut Latte buatannya mantap lho rasanya. Layernya rapi dan busa susunya lembut sekali.

Soal harga? Mmm.. Saya rasa walaupun tidak bisa dibilang murah, tetapi setimpal dengan waktu yang bisa kita habiskan di sini ber-wifi ria atau sekedar ngobrol ngalor ngidul. Hahaha… Siapa tahu juga bisa bertemu atau malah nge-jam bareng dengan Maliq. :p

Posted in Coffee Journey0 Comments

Kambing Bakar Non Kolesterol

Kambing Bakar Non Kolesterol

Beneran nih non kolesterol? Setidaknya begitulah yang diklaim oleh sang pemilik. Di belakang meja kasir terpampang poster besar dengan tulisan yang memberikan informasi mengapa menu kambing bakar yang disajikan bebas kolesterol. Alasan pertama adalah karena  mereka memakai bahan dasar daging kambing muda yang mengandung kadar lemak dan kolesterol lebih rendah. Diperkuat dengan bumbu rempah-rempah khas timur tengah dan dibakar kering, membuat kolesterol dapat dinetralisir. Kenyataannya? Ya jangan tanya saya. :lol:

Tetapi terus terang saya agak heran juga ketika mencoba mampir di tempat makan bernama Kambing Bakar Cairo ini. Cukup banyak pengunjungnya yang berusia paruh baya. Terlintas di pikiran saya apakah mereka tidak memiliki masalah kolesterol atau memang kambing bakar di restoran ini benar-benar bebas kolestrol? Ya, apapun jawabannya memang rasa kambing bakar ini menurut saya spesial. Soal harga juga wajar lah. Satu porsi kambing bakar dengan berat 350 gr ditukar dengan selembar uang Rp 50ribuan. Saya puas dan kenyang.

Oiya, kenapa namanya Kambing Bakar Cairo? Memangnya yang ada di Melawai ini cabang dari Kairo? Mungkin saja ya. Hahaha… Soalnya restoran ini punya tagline “Terlezat ke-2 setimur tengah”!

Saya langsung membayangkan yang terlezat nomer satu seperti apa ya rasa kambing bakarnya? :D

Posted in All You Can Eat3 Comments

Brewing for Charity (bagian 2)

Brewing for Charity (bagian 2)

Setelah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, dan Body, mari kita lanjutkan membahas:

Balance, didefinisikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek: flavor, aftertaste, acidity, dan body dari sampel kopi. Jika ada komponen yang begitu dominan maka aspek balance akan dinilai lebih rendah.

Sweetness mengacu pada ada tidaknya rasa manis yang muncul dalam kopi. Buat orang awam mungkin agak aneh ya, perasaan rasa kopi tanpa gula itu pahit saja tapi kok bisa ada aspek sweetness yang dinilai? Menurut SCAA, persepsi rasa manis tersebut muncul karena adanya senyawa karbohidrat tertentu di dalam kopi.

Clean Cup, dievaluasi dengan memperhatikan keseluruhan citarasa sejak awal kopi diseruput hingga melewati kerongkongan atau diludahkan. Munculnya rasa atau aroma apapun selain kopi (misalnya aroma apek, rasa sabun, atau minyak) bisa mendiskualifikasi sampel kopi.

Uniformity mengacu pada konsistensi rasa dari cangkir yang berbeda untuk sampel yang sama. Protokol standar SCAA menyebutkan bahwa untuk satu sampel kopi harus dibuat paling tidak sebanyak 5 cangkir. Namun karena di kegiatan cupping kali ini untuk satu sampel hanya dibuat satu cangkir (paper cup) maka penilaian di aspek ini diabaikan.

Selain kedelapan aspek penilaian di atas sebenarnya ada lagi aspek lain yang dinilai yaitu Overall dan Defects. Tapi jujur saya belum mengerti apa maksud dari istilah tersebut dan bagaimana cara mengevaluasi dan memberikan penilaian. Mas Arif hanya menerangkan bahwa nilai di kolom Overall merepresentasikan preferensi kita terhadap masing-masing sampel kopi. Sampel kopi yang kita sukai akan diberi nilai lebih tinggi dibanding sampel kopi lain yang kurang atau tidak kita sukai. Sedangkan untuk aspek Defects sepertinya luput dijelaskan oleh Mas Arif. Namun jika membaca di SCAA Protocols untuk cupping, penjelasan mengenai aspek Overall dan Defects jauh lebih detil daripada itu dan cukup sulit untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Jadi mengenai Overall dan Defects infonya nanti akan saya update lagi kalau sudah berhasil mengerti. :D

Waktu dua jam yang digunakan untuk belajar cupping di acara Brewing for Charity terasa sangat cepat berlalu. Saya merasa masih belum berhasil dalam memberikan penilaian yang sesuai untuk masing-masing kopi yang saya cicipi, tetapi setidaknya pengetahuan saya dan juga teman-teman yang lain tentang kopi sedikit bertambah. Untuk bisa melakukan cupping dengan benar memang perlu latihan rutin dan percaya dengan indera penciuman dan pengecap kita sendiri.

Oh iya, di akhir sesi semua peserta diminta menebak asal dari kopi berlabel A, B, dan C tersebut. Tebakan saya: A = Sumatera, B = Bali, C = Papua (walaupun kurang yakin rasa kopi Papua seperti itu). Nah, jawaban yang benar adalah: A = Sumatera, B = Bali, dan C = Toraja. ;)

Posted in Coffee Journey1 Comment

Brewing for Charity (bagian 1)

Brewing for Charity (bagian 1)

Lupakan dulu mengenai cara memberikan nilai yang merepresentasikan kualitas untuk masing-masing kopi yang ada di dalam gelas kertas di atas meja. Buat peserta acara cupping yang sebagian besar awam, mengerti istilah-istilah yang ada di lembar penilaian kopi dengan standar SCAA (Specialty Coffee Association of America) saja sudah sulit. Tapi penjelasan dari Mas Arif, trainer dari Anomali Coffee, bukannya tidak perlu disimak, anggap saja untuk menambah pengetahuan. Hal yang paling penting dari belajar cupping kali ini adalah untuk menyelami keunikan kopi sedikit lebih dalam lagi, lebih dari sekedar memilih kopi mana yang enak dan tidak enak sesuai selera kita.

Tiga gelas kertas yang disajikan di depan masing-masing peserta cupping session berisi bubuk kopi dari tiga daerah penghasil kopi yang berbeda di Indonesia. Dilabeli dengan huruf A, B, dan, C, masing-masing kopi ini punya karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama asli Indonesia. Selain itu cupping form dan sebatang pena disediakan agar ketiga kopi tersebut bisa dinilai citarasanya. Komponen-komponen yang ada di dalam cupping form yang mengambil standar SCAA adalah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, Body, Balance, Uniformity, Clean Cup, dan Sweetness.

Fragrance/Aroma menilai aspek aromatik kopi. Fragrance didefinisikan sebagai bau dari bubuk kopi saat belum diseduh. Aroma didefinisikan sebagai bau kopi ketika diseduh dengan air panas.

Flavor merepresentasikan karakter utama kopi. Penilaian untuk flavor memperhitungkan intensitas, kualitas, dan kompleksitas dari kombinasi rasa dan aroma yang bisa dinikmati ketika menyeruput kopi . Bahasa mudahnya menurut Mas Arif adalah menilai kekayaan rasa kopi.

Aftertaste didefinisikan sebagai rasa yang tersisa di langit-langit bagian belakang dari rongga mulut setelah kopi diminum. Jika ada rasa yang kurang menyenangkan maka penilaiannya lebih rendah.

Acidity menilai tingkat keasaman kopi. Pada tingkatan yang pas, keasaman bisa membuat kopi terasa menyenangkan, manis, dan berkarakter buah segar. Tingkat keasaman kopi yang terlalu intens akan terasa kurang menyenangkan meskipun kembali lagi pada selera pribadi. Masing-masing kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sendiri punya karakter keasaman yang berbeda. Kopi dengan karakter keasaman yang tinggi seperti kopi Bali bisa saja memiliki skor yang sama tinggi dengan kopi Sumatera dengan karakter keasaman yang rendah. Skor akhir acidity harus menggambarkan kualitas keasaman yang dirasakan penguji relatif terhadap rasa yang diharapkan berdasarkan karakter asal kopi dan atau faktor lainnya.

Body mungkin bisa didefinisikan dengan kelekatan atau viskositas. Karakter ini bisa dirasakan dengan mendiamkan kopi beberapa saat di rongga mulut dan kemudian menggosokkan lidah ke bagian langit-langit rongga mulut. Body memiliki tingkatan dari thin, light, hingga heavy sebagai representasi dari kandungan lemak dalam kopi.

(bersambung…)

Posted in Coffee Journey0 Comments

Christine dan Sapan Coffee

Christine dan Sapan Coffee

Christine Tandibua, perempuan kelahiran Toraja ini datang ke Jakarta pertama kali di tahun 2006. Sempat bekerja di beberapa perusahaan swasta sebelum akhirnya memutuskan untuk banting stir menjadi seorang pengusaha. Christine memilih berdagang  biji kopi yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri, Sapan Minanga, Toraja. Meskipun latar belakang pendidikannya sebagai seorang sarjana elektro mungkin nggak nyambung dengan dunia kopi tetapi Christine tidak gentar. Kebetulan ayahnya adalah pensiunan dari Dinas Perkebunan dan pernah bekerja untuk sebuah perusahaan pengekspor kopi terbesar di Toraja, sehingga Christine sebenarnya tidak benar-benar asing di industri kopi meskipun mengaku masih terus belajar untuk meningkatkan dan menjaga kualitas kopi yang dijualnya. Di Toraja sana, ayahnya membantu mengumpulkan dan menyortir biji kopi dari para petani di desa Sapan sebelum dikirim ke Jakarta. Dimulai dengan berjualan dari rumah kontrakan di tahun 2008, saat ini Christine sudah menyewa sebuah kios di pasar modern dan diberi nama Dapoer Kopi.

Saya pertama kali mengetahui sosok Christine dari artikel di blog cikopi dan kemudian berkenalan di sebuah acara bincang kopi pada bulan Oktober tahun lalu, tetapi baru minggu kemarin saya bisa meluangkan waktu untuk singgah di kios kopinya. Menurut saya, Christine adalah orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol dan diskusi. Saya rasa hal ini juga bisa dirasakan oleh para pembeli di Dapoer Kopi karena ketika saya datang ada beberapa pelanggan yang juga sedang asyik berbincang dengannya.

Omset Pembeli kopi Sapan dari Dapoer Kopi sudah cukup banyak, baik dari kafe, roaster, ataupun untuk konsumsi pribadi. Awalnya dengan idealismenya, Christine agak enggan melayani pembeli ritel, tetapi karena banyak juga pembeli ritel yang sudah rela datang jauh-jauh akhirnya sekarang Christine dengan senang hati melayani dan berbincang dengan siapapun pembelinya. Kalo dipikir-pikir,  makin banyak orang yang datang ke Dapoer Kopi untuk membeli atau mencicipi kopi Sapan, terlepas dari banyak sedikitnya kopi yang dibeli, akan membantunya mengenalkan kopi ini lebih luas. Begitulah katanya.

Kalau Anda penggemar kopi Toraja dengan karakter yang beraroma wangi, pekat, dan acidity sedang boleh coba mampir ke Dapoer Kopi di Pasar Modern Santa Lantai Dasar Blok A No. 33, Jl. Cipaku I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bisa juga add FB-nya di http://www.facebook.com/sapancoffee kalau ingin pesan antar. Saya sendiri sudah merasakan kopi asli Indonesia ini. Mantap!

Posted in Coffee Journey, Profile2 Comments

That’s Life

That’s Life

Secangkir kopi Java menemani saya menyelesaikan sebuah pekerjaan siang itu di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Lokasinya agak sulit ditemukan kalau baru datang untuk pertama kali. Pokoknya kalau sudah menemukan gerai KFC ketika melintasi Jl. Gunawarman kurangi kecepatan kendaraan dan melipir saja di sisi kiri jalan. Kedai kopi ini berada di sebuah rumah bernomer 24 di sebelah salon Carina. Dari depan memang tampak seperti sebuah rumah biasa, namun kita bisa langsung masuk melalui pintu paling kanan dan naik ke lantai dua.  Yang menarik ketika menaiki anak tangga adalah melihat banyak pigura dengan gambar figur kartun gadis kecil polos dalam berbagai pose tergantung di dinding. Mungkin karya dari sang pemilik karena saya mendengar bahwa pemilik kedai ini adalah juga seorang ilustrator.

That’s Life Coffee, nama yang unik untuk sebuah kedai kopi walaupun frase tersebut sering diucapkan dalam dialog kita sehari-hari. Menurut barista yang menyajikan saya kopi, kedai ini telah beroperasi sejak 2010. Suasana interiornya nyaman dengan sudut favorit dekat dinding kaca yang menghadap jalan. Soal menu sebenarnya cukup variatif dan bisa diintip dulu di websitenya ini, tetapi ketika saya temukan black coffee  dan singkong goreng maka itu sudah cukup. Selain itu WiFi gratis yang berlari kencang melengkapi  fasilitas “kantor” yang saya butuhkan. :p

Sepiring singkong goreng keju yang saya pesan rupanya cukup besar porsinya. Secangkir kopi mungkin tidak akan bertahan sampai sore, tapi sepiring singkong ini cukuplah untuk bahan bakar otak menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai beberapa jam.

Sepertinya That’s Life akan jadi salah satu kedai kopi favorit saya untuk dijadikan “kantor alternatif”. Selain lokasinya dekat dengan jalur hilir mudik saya sehari-hari, kopi dan singkong gorengnya juga enak. Walaupun bukan yang terbaik tapi setidaknya harganya ramah untuk dompet.

That’s life

That’s what all the people say

You’re riding high in April, shot down in May

But I know I’m gonna change that tune

When I’m back on top, back on top in June

(That’s Life – Frank Sinatra)

Posted in Coffee Journey5 Comments

PHOTO BLOG

cangkir.tukangkopi.com

Kabar Twitter