Author Archives | tukangkopi

Nikmatnya sajian di Gudeg Kandjeng

Dalam aktivitas harian, saya cukup sering melewati sebuah lapangan tenis beratapkan tenda putih yang menjulang yang ada di daerah Bulungan. Kalau melewati lapangan tenis ini dari arah jalan Hang Tuah X, Jakarta Selatan, pasti akan melihat sebuah tempat dengan nama Gudeg Kandjeng di kiri jalan tepat di sebelah lapangan tenis tersebut. Meskipun sering lewat di depannya, tapi saya hampir tidak pernah singgah untuk mencoba rumah makan ini sampai seminggu yang lalu. Rasa penasaran dan juga keinginan untuk mencoba tempat makan baru membuat saya membelokkan kemudi ke area parkir di depan Gudeg Kandjeng.

Gudeg Kandjeng menempati bangunan semi permanen yang tampaknya adalah teras sebuah rumah tua. Dekorasi rumah makan ini bernuansa  jaman dulu dengan foto-foto tua banyak terpajang di dinding, lampu antik tergantung di langit-langit, dan meja kursi kayu yang diberi taplak batik.

Ketika membuka daftar menu yang diberikan pelayan, ternyata gosip yang pernah saya dengar mengenai tempat ini adalah salah. Saya sering mendengar bahwa Gudeg Kandjeng ini makanannya enak tapi harganya cukup mahal. Ternyata harga menu makanannya masih bisa ditoleransi oleh dompet, Saudara! :lol:   Saya memesan sepiring gudeg telur seharga Rp 20ribu dan segelas es beras kencur dengan harga Rp 9ribu. Sedangkan Fany memesan satu porsi garang asem, harganya Rp 19ribu.

Tekstur gudeg yang lembut disiram sedikit kuah santan yang gurih membuat sajian ini begitu nikmat. Uniknya, ada tambahan daun singkong yang bisa mengimbangi rasa manis gudeg dan menambah citarasa yang lebih segar. Bagaimana garang asemnya? Mencicipi daging ayam berkuah asam yang dibungkus daun pisang ini rasanya benar-benar WOW! Uenak buanget deh pokoknya. Citarasa asamnya pas dan menyegarkan, daging ayamnya juga lembut di mulut.

Soal dahaga, pas banget dibasuh dengan es beras kencur. Minuman tradisional yang terbuat dari beras dan kencur ini katanya berkhasiat meningkatkan nafsu makan. Memang sih, jadinya nggak cukup sepiring makan di Gudeg Kandjeng ini. :lol:

Kalau Anda suka menu masakan tradisional Jawa, silahkan mampir ke rumah makan ini di waktu makan siang atau selepas jam kantor. Buat saya, citarasa hidangan di Gudeg Kandjeng sangat memanjakan lidah. Semoga buat Anda juga. :D

Posted in All You Can Eat3 Comments

Antipodean

Siang itu saya ngopi secangkir kopi Papua Wamena di salah satu kafe di sudut Kemang. Wamena yang satu ini agak berbeda dari yang biasa saya rasakan, rasa kopinya lebih intens dan acidity-nya hampir tidak terasa. Entah apakah ini adalah ciri khas dari Merdeka Coffee dalam “menggoreng” Wamena, atau lidah saya yang sedang keseleo. :lol:  Tetapi dengan ditemani manisnya sepotong Caramel Apple Raisin, dua sejoli ini serasi menemani aktivitas kerja saya.

Memilih nama Antipodean, kafe ini memang memposisikan diri sebagai Australian style of cafe yang menyajikan kopi berkualitas dan juga santapan untuk para ekspatriat di Jakarta. Di jam makan siang, kafe ini penuh oleh pengunjung yang datang dan pergi. Kebanyakan adalah bule-bule yang mungkin tinggal di sekitar Kemang. Dengan menu makanan bercitarasa internasional yang sangat beragam, tidak heran jika banyak yang singgah untuk makan siang selain ngopi.

Dalam ruangan dengan luas yang tidak lebih dari 50 meter persegi, kafe ini bisa dikatakan berukuran mungil. Ruangan akan terasa sempit jika semua kursi terisi, namun dibalik itu suasana hangat dan akrab akan lebih terasa.

Harga minuman kopi berkisar dari Rp 18ribu – 25ribu, cukup premium mengingat harga tersebut adalah untuk kopi hitam dan espresso based tanpa tambahan sirup beraneka rasa. Tapi mengingat konsumennya adalah para ekspatriat, harga premium mungkin terkait dengan usaha untuk menjaga kualitas tanpa kompromi.

Jika Anda sedang melewati Kemang, mampirlah ke Antipodean di komplek supermarket Hero dan temukan sebuah cafe culture. Sebuah budaya yang berasal dari Eropa dimana kafe menjadi titik sentral, tempat orang-orang atau komunitas yang ada di sekitarnya berkumpul dan bersosialisasi. Menyenangkan!

Posted in Coffee Journey0 Comments

Menikmati kopi premium harga promo

Menikmati kopi enak yang paling murah bisa dilakukan di rumah. Tetapi siapa yang menolak kalau bisa ngopi murah, kualitas premium, dengan suasana kafe yang nyaman? Silahkan Anda sapa barista Starbucks di mana saja dan pesan secangkir brewed coffee ukuran tall. Anda hanya akan diminta untuk menggantinya dengan selembar uang 10ribu rupiah untuk kenikmatan kopi premium dan suasana ngopi khas Starbucks. Penawaran menyenangkan ini berlaku dari tanggal 4 Februari – 31 Maret 2012.

Ngomong-ngomong, kemarin saya sudah menikmati secangkir House Blend ekonomis sambil menikmati jalanan Melawai di depan coffee shop yang diguyur hujan sore hari..

Posted in Coffee Journey1 Comment

Backyard Coffee

Ngopi buat sebagian orang erat kaitannya dengan proses pencarian ide. Mungkin itulah tujuan para personel Maliq & D’Essentials mendirikan kedai kopi ini di ruang bawah studio musik mereka. Backyard Coffee terletak di daerah Bintaro Jaya, sebuah kota satelit yang berkembang dengan pesat. Lokasi tempat tinggal saya sendiri dekat dengan daerah tersebut, dan selama ini saya merasa memang kedai kopi yang asyik buat nongkrong dekat rumah sangat jarang. Adanya Backyard Coffee tentu membuat pilihan tempat saya ngopi sambil kerja atau nongkrong bertambah.

Ruangan dalam kedai kopi ini tidak terlalu luas dengan desain interior yang sederhana. Ada sebuah bar yang tersusun dari kaset bekas dengan mesin kopi Sanremo dan grinder yang tidak saya ketahui mereknya. Berbagai pernak-pernik menarik dari piano tua hingga karya desain grafis bergaya pop art memberikan suasana yang hangat dan menyenangkan. Kalau mau ngopi dengan suasana outdoor juga bisa memilih untuk duduk di bangku yang ada di teras kedai.

Di kunjungan perdana saya memesan Hazelnut Latte. Mbak Barista pun segera beraksi meracik pesanan. Menariknya, mbak Barista yang saya lupa namanya ternyata adalah seorang eks bartender dan baru belajar jadi Barista ketika bekerja di Backyard Coffee. Eh, tapi Hazelnut Latte buatannya mantap lho rasanya. Layernya rapi dan busa susunya lembut sekali.

Soal harga? Mmm.. Saya rasa walaupun tidak bisa dibilang murah, tetapi setimpal dengan waktu yang bisa kita habiskan di sini ber-wifi ria atau sekedar ngobrol ngalor ngidul. Hahaha… Siapa tahu juga bisa bertemu atau malah nge-jam bareng dengan Maliq. :p

Posted in Coffee Journey0 Comments

Kambing Bakar Non Kolesterol

Beneran nih non kolesterol? Setidaknya begitulah yang diklaim oleh sang pemilik. Di belakang meja kasir terpampang poster besar dengan tulisan yang memberikan informasi mengapa menu kambing bakar yang disajikan bebas kolesterol. Alasan pertama adalah karena  mereka memakai bahan dasar daging kambing muda yang mengandung kadar lemak dan kolesterol lebih rendah. Diperkuat dengan bumbu rempah-rempah khas timur tengah dan dibakar kering, membuat kolesterol dapat dinetralisir. Kenyataannya? Ya jangan tanya saya. :lol:

Tetapi terus terang saya agak heran juga ketika mencoba mampir di tempat makan bernama Kambing Bakar Cairo ini. Cukup banyak pengunjungnya yang berusia paruh baya. Terlintas di pikiran saya apakah mereka tidak memiliki masalah kolesterol atau memang kambing bakar di restoran ini benar-benar bebas kolestrol? Ya, apapun jawabannya memang rasa kambing bakar ini menurut saya spesial. Soal harga juga wajar lah. Satu porsi kambing bakar dengan berat 350 gr ditukar dengan selembar uang Rp 50ribuan. Saya puas dan kenyang.

Oiya, kenapa namanya Kambing Bakar Cairo? Memangnya yang ada di Melawai ini cabang dari Kairo? Mungkin saja ya. Hahaha… Soalnya restoran ini punya tagline “Terlezat ke-2 setimur tengah”!

Saya langsung membayangkan yang terlezat nomer satu seperti apa ya rasa kambing bakarnya? :D

Posted in All You Can Eat4 Comments

Brewing for Charity (bagian 2)

Setelah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, dan Body, mari kita lanjutkan membahas:

Balance, didefinisikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek: flavor, aftertaste, acidity, dan body dari sampel kopi. Jika ada komponen yang begitu dominan maka aspek balance akan dinilai lebih rendah.

Sweetness mengacu pada ada tidaknya rasa manis yang muncul dalam kopi. Buat orang awam mungkin agak aneh ya, perasaan rasa kopi tanpa gula itu pahit saja tapi kok bisa ada aspek sweetness yang dinilai? Menurut SCAA, persepsi rasa manis tersebut muncul karena adanya senyawa karbohidrat tertentu di dalam kopi.

Clean Cup, dievaluasi dengan memperhatikan keseluruhan citarasa sejak awal kopi diseruput hingga melewati kerongkongan atau diludahkan. Munculnya rasa atau aroma apapun selain kopi (misalnya aroma apek, rasa sabun, atau minyak) bisa mendiskualifikasi sampel kopi.

Uniformity mengacu pada konsistensi rasa dari cangkir yang berbeda untuk sampel yang sama. Protokol standar SCAA menyebutkan bahwa untuk satu sampel kopi harus dibuat paling tidak sebanyak 5 cangkir. Namun karena di kegiatan cupping kali ini untuk satu sampel hanya dibuat satu cangkir (paper cup) maka penilaian di aspek ini diabaikan.

Selain kedelapan aspek penilaian di atas sebenarnya ada lagi aspek lain yang dinilai yaitu Overall dan Defects. Tapi jujur saya belum mengerti apa maksud dari istilah tersebut dan bagaimana cara mengevaluasi dan memberikan penilaian. Mas Arif hanya menerangkan bahwa nilai di kolom Overall merepresentasikan preferensi kita terhadap masing-masing sampel kopi. Sampel kopi yang kita sukai akan diberi nilai lebih tinggi dibanding sampel kopi lain yang kurang atau tidak kita sukai. Sedangkan untuk aspek Defects sepertinya luput dijelaskan oleh Mas Arif. Namun jika membaca di SCAA Protocols untuk cupping, penjelasan mengenai aspek Overall dan Defects jauh lebih detil daripada itu dan cukup sulit untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Jadi mengenai Overall dan Defects infonya nanti akan saya update lagi kalau sudah berhasil mengerti. :D

Waktu dua jam yang digunakan untuk belajar cupping di acara Brewing for Charity terasa sangat cepat berlalu. Saya merasa masih belum berhasil dalam memberikan penilaian yang sesuai untuk masing-masing kopi yang saya cicipi, tetapi setidaknya pengetahuan saya dan juga teman-teman yang lain tentang kopi sedikit bertambah. Untuk bisa melakukan cupping dengan benar memang perlu latihan rutin dan percaya dengan indera penciuman dan pengecap kita sendiri.

Oh iya, di akhir sesi semua peserta diminta menebak asal dari kopi berlabel A, B, dan C tersebut. Tebakan saya: A = Sumatera, B = Bali, C = Papua (walaupun kurang yakin rasa kopi Papua seperti itu). Nah, jawaban yang benar adalah: A = Sumatera, B = Bali, dan C = Toraja. ;)

Posted in Coffee Journey2 Comments

PHOTO BLOG

cangkir.tukangkopi.com

Kabar Twitter