25 Jan

Toko Peralatan Kopi Philocoffee

By / on Cafe Story

Buat sebagian orang, ngopi mungkin tidak hanya menjadi bagian dari rutinitas harian. Lebih dari itu, ngopi merupakan sebuah kegiatan eksplorasi citarasa yang menyenangkan dan seringkali mengundang rasa penasaran. Seorang coffee explorer tentu membutuhkan peralatan yang dapat mendukung petualangan kopinya tersebut.

Philocoffee project adalah salah satu dari beberapa toko peralatan kopi yang saya tahu. Bermula dari sebuah online store, Philocoffee memiliki misi untuk meningkatkan kualitas pengalaman menikmati kopi bagi para peminum kopi. Jika Anda masuk ke laman www.philocoffeeproject.com, ada begitu banyak jenis barang yang dijual mulai dari grinder, alat seduh manual, espresso maker, bahkan coffee roaster. Selain dari itu Philocoffee juga menjual biji kopi dari beberapa roaster lokal yang sudah memiliki nama baik. (more…)

READ MORE
06 Jan

Getback Coffee: ngopi hangat bersahaja

By / on Cafe Story

Saya sering berkhayal ada sebuah coffee shop yang menghilangkan batas antara sang peracik kopi dan pelanggannya. Batas yang saya masuk di sini adalah batas fisik yang biasa disebut bar. Ya, saya membayangkan bagaimana jika di sebuah coffee shop, seorang peminum kopi memiliki sudut pandang yang sama dengan tukang kopi. Berbaur tanpa jarak dan pembatas sehingga tercipta suasana yang cair, tanpa rahasia.

Khayalan ini belum menemukan bentuk nyatanya hingga saya menjajal sebuah coffee shop pendatang baru di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Getback Coffee, walaupun saya tidak mengerti arti di balik nama itu, tetapi coffee shop satu ini menerjemahkan dengan baik khayalan saya tentang keakraban sebuah kedai kopi modern.

getback - bar

Tampilan luar coffee shop ini mungkin tidak mengesankan, tetapi luangkanlah waktu untuk masuk dan langkahkan terus kaki Anda hingga tiba di ruangan yang ada di balik mesin kopi La Cimbali dan rak yang memajang berbagai peralatan seduh kopi. Sebuah meja panjang dari kayu solid menjadi pusat semesta yang dikeliling oleh segala macam peralatan dan bahan untuk membuat secangkir kopi dan rak yang penuh dengan buku arsitektur dan desain.

Duduk di “dapur” Getback Coffee, saya mendapatkan sensasi serasa ngopi di rumah dengan mesin kopi dan barista pribadi. Hal lain yang bisa menambah nikmatnya ritual ngopi tentu saja jika sambil ngumpul bareng teman-teman atau bahkan ngobrol dengan orang asing yang baru kenal. Dan meja kayu panjang ini, sekali lagi adalah pusat semesta yang bisa menarik siapa saja untuk berbaur dan bercengkerama. Demi menjaga keseimbangan, sang pemilik dengan senang hati akan memutar koleksi piringan hitamnya yang mengalunkan musik-musik lawas dari berbagai genre jazz. Sempurna!

getback - cappuccino

getback - record

Interior Getback Coffee didesain dengan sangat apik. Suasananya terasa bersahaja karena dinding dan langit-langitnya dibiarkan tampil telanjang, tetapi tetap menarik karena dipadukan dengan furniture dan pernak-pernik jadul yang akan sangat jarang bisa Anda temukan di tempat lain. Zamzam, sang pemilik yang juga seorang arsitek, memang gemar mengumpulkan barang-barang lawas. Katanya selama ini barang-barang lawas tersebut banyak menumpuk di gudang. Ketika ada kesempatan untuk membuka coffee shop, Zamzam memanfaatkan kembali karya-karya warisan pendahulu yang menurut saya dipadupadankan dengan sangat cantik. Setiap sudut kedai terlihat sangat menarik untuk dijepret oleh kamera.

getback - interior

getback - zamzam

Getback

getback - paper cup

Terlepas dari buaian suasana yang hangat, cair, dan menyenangkan, Getback Coffee juga menyajikan kopi nikmat dengan harga yang terjangkau. Secangkir cappuccino (yang kebetulan saya buat sendiri) bisa dinikmati dengan harga Rp 18ribu. Cukup kompetitif jika disandingkan dengan kafe-kafe sekelas yang pernah saya kunjungi.

Apakah seperti ini juga tempat ngopi yang Anda idam-idamkan selama ini? Coba saja datang dan rasakan pengalamannya. Jika beruntung bertemu Zamzam, beliau punya banyak cerita menarik dari hobinya mengkoleksi piringan hitam.

Mari ngopi! 😉

 

Getback Coffee
Ruko Dutamas ITC Fatmawati Blok B2 / 12
Jakarta Selatan

READ MORE
31 Dec

Pengalaman masuk daftar hitam

By / on Cafe Story

Satu lagi coffeehouse di Jakarta yang memiliki mesin roasting komersial sendiri untuk menyangrai kopi yang disajikannya. Sebuah Diedrich roaster IR series berwarna oranye yang cantik tampak seperti sengaja dipamerkan di koridor mall Puri Indah, Jakarta Barat. Berkapasitas 12 kilogram dan berteknologi infrared burner, mesin ini digunakan untuk menyangrai biji-biji kopi andalan Blacklisted Coffee. Tiga kali seminggu, roaster Blacklisted Coffee menyangrai kopi Brazil, Ethiopia, Honduras, dan juga house blend secara bergantian.

blacklisted-diedrich roaster

Saya sempat berbicang dengan Pak Ong, seorang pastry chef yang juga memiliki pengalaman roasting selama 10 tahun. Menurut cerita Beliau, kafe ini menyangrai kopinya dengan profil city roast. Menurut definisi Sweet Maria, biji kopi yang disangrai dengan profil city roast akan dipanggang hingga akhir bunyi first crack terdengar, tanpa dilanjutkan hingga proses second crack. Hasilnya adalah biji kopi dengan warna coklat terang yang mampu menghantarkan aroma dan citarasa khas masing-masing varietal. Gambaran fisik biji kopi dari berbagai degree of roast  dapat dibaca di sini.

blacklisted-mr ong

blacklisted house blend

Selain mesin roasting yang “nongkrong” di depan kafe, hal lain yang menarik perhatian saya ketika mengunjungi Blacklisted adalah sederet peralatan seduh manual yang dipajang di atas chiller. Ada Hario V60, syphon, cold drip, bahkan aeropress. Tapi saya berani bertaruh bahwa alat-alat ini pasti jarang sekali digunakan. 😛

blacklisted-manual brew

Ada kejadian lucu ketika saya ingin memesan kopi Ethiopia dengan french press. Saat itu sang barista tampak agak kebingungan menerjemahkan pesanan saya. Saya sendiri juga jadi bingung, apakah ada salah ucap ataukah memang kafe ini tidak menyajikan kopi menggunakan french press. Lalu buat apa sederet french press yang berjejer di rak belakang bar? 😆

Untunglah kemudian seorang supervisor yang ada di dekatnya membantu mengatasi kebingungan yang terjadi. Dia menjelaskan ke sang barista mengenai apa yang saya maksud dan barista tersebut bisa cepat tanggap. Yah, saya anggap saja mungkin barista tersebut masih dalam masa training. 😀

blacklisted-Ethiopian

Jujur saja, kopi Ethiopia karya Blacklisted ini bukan kopi Ethiopia terbaik yang pernah saya rasakan. Citarasanya kurang berkesan, menurut saya. Sulit untuk dideskripsikan karena ketika membuat tulisan ini saya sudah lupa bagaimana rasanya. Untungnya menu chicken wing yang saya pesan enak, Anda bisa coba itu. Memang sih saya lihat kebanyakan pengunjung yang datang ke Blacklisted adalah untuk memesan menu makanan, pemandangan yang terus terang tidak sesuai dengan ekspektasi saya ketika pertama kali mendengar nama coffeehouse ini.

Kalo Anda sempat mampir ke Blacklisted Coffee mungkin harus mencoba menu pastry-nya. Berdasarkan review banyak orang sepertinya enak. Saya sendiri tidak sempat mencobanya. 

blacklisted pastry

blacklisted interior

Kesimpulannya, mungkin ini kedatangan saya untuk pertama dan terakhir kalinya di Blacklisted Coffee. Bukan, bukan karena kecewa dengan kopi, makanan, ataupun pelayanannya hingga saya masukkan daftar hitam. Hanya saja lokasi coffeehouse  ini jauh sekali dari tempat tinggal saya. Kalau bukan karena sekalian menghadiri undangan pernikahan teman yang cukup dekat dari Mall Puri Indah, mungkin saya tidak akan pernah mencoba seduhan kopi Blacklisted Coffee.

READ MORE
24 Dec

Brew Box Coffee

By / on Cafe Story

Kalau Anda adalah penduduk Jakarta, atau setidaknya bekerja di Jakarta, pasti memperhatikan kalau akhir-akhir ini convenience store tumbuh cepat bagai jamur di musim hujan. Bahkan beberapa retailer yang tadinya merupakan pemilik jaringan minimarket  pun meluncurkan brand lain ataupun mendesain gerainya dengan konsep convenience store. Salah satunya adalah Starmart yang gerainya kebanyakan berada di area perkantoran.

new starmart

Menurut info yang saya dengar, Starmart berencana untuk mendesain ulang seluruh gerainya dengan konsep baru. Gerai yang ada di area gedung BRI 2 menjadi pilot project-nya. Memang benar sih, saat saya datang ke gerai tersebut tampilan interiornya sangat jauh berbeda dari Starmart yang lama. Lebih menarik dan nyaman menurut saya. Selain itu Starmart baru juga menyediakan makanan siap saji untuk para pegawai kantoran yang mungkin mencari sarapan atau bahkan makan siang.

Tapi bukan Starmart baru ini yang menarik perhatian saya, melainkan sebuah “kotak” berukuran 2 x 3 x 3 m yang ada di pojok. Yup, di salah satu sudut gerai Starmart BRI 2 ada kios kecil yang menyajikan fresh coffee bercitarasa tinggi, diberi nama Brew Box oleh kreatornya. Meskipun kecil tetapi dibekali peralatan tempur yang tidak main-main. Sebuah mesin kopi Nuova Simonelli Appia 1 group dan grinder Mazzer Mini selalu siap dimainkan oleh tangan terampil para kru Brew Box. Bahkan di bar juga ada perangkat cold brew versi mini lho! Keren!

Satu hal yang kurang dari kios kopi ini adalah tempat duduk yang nyaman. Bisa dimaklumi karena memang konsepnya adalah untuk melayani para penikmat kopi yang memesan tidak untuk diminum di tempat, atau istilah kerennya “take away”.

crew brewbox edit

Memperhatikan harga yang tertera di papan menu, tampaknya kopi yang disajikan bukanlah kopi murahan. Tetapi harga murah atau mahal itu relatif. Jika dibandingkan dengan coffee shop putri duyung yang juga memiliki gerai di BRI 2, tentu saja Brew Box masih lebih kompetitif. Jangan dibandingkan dengan kopi yang biasa Anda dapatkan secara gratis di pantry ya, ada harga pasti ada rasa.

Kalau selera kopinya naik kelas bakal kembang kempis dong isi dompet? Ya kalau takut gaji habis cuma buat ngopi Brew Box bisa dijadikan selingan hanya ketika Anda bosan dengan kopi di pantry, atau jika sedang stress di kantor dan butuh “zat penenang” yang ampuh. 😛

cappuccino brewbox edit

papercup brewbox edit

Iri dengan mereka yang berkantor di gedung BRI 2? Sabar saja, karena direncanakan ada Brew Box lain yang akan lahir di gerai-gerai Starmart new concept. Hadirnya Brew Box yang bekerja sama dengan Starmart jelas semakin memperbanyak penyaji kopi di Jakarta dan tentu saja memanjakan para penikmat kopi, khususnya mereka yang desperate mencari pilihan kopi enak yang dekat dengan kantor.

diskon brewbox edit

Buat Anda yang saat ini berkantor di komplek gedung BRI 1, BRI 2, dan Wisma GKBI, tidak ada salahnya menyambangi Brew Box dan menjajal sajian kopi yang biasa seperti cappuccino dan latte maupun yang tidak biasa seperti menu Karbon Kopi. Mumpung masih diskon 50% untuk pembelian dengan menyertakan kartu nama. Mari ngopi!

*semua foto dalam artikel ini diambil menggunakan Nokia Lumia 800

READ MORE
02 Dec

Go local coffee di my Kopi-O!

By / on Cafe Story

Selama ini saya tidak pernah datang khusus untuk ngopi di tempat kuliner yang berlabel atau mengusung konsep kopitiam. Biasanya saya datang ke kopitiam justru untuk mencari makanan dan memesan minuman selain kopi. Namun ketika mendengar kabar bahwa pembeli kopi dengan harga tertinggi di acara Lelang Kopi Spesial Indonesia 2012 yang lalu adalah seorang pemilik jaringan salah satu kopitiam, saya segera saja tertarik untuk mampir mencoba. My Kopi-O! bukanlah nama yang asing karena saya sering melihat logonya ketika mengunjungi beberapa mall. Nah, gerai my Kopi-O! yang akan saya ceritakan di tulisan ini lokasinya ada di mall Living World, Alam Sutera.

Jujur saja menurut saya desain interior my Kopi-O! tidak istimewa. Bukan desain yang bisa mengundang ketertarikan dan rasa penasaran saya untuk singgah ketika sedang jalan-jalan di mall Living World ini. Didominasi warna putih yang dikontraskan dengan langit-langit hitam, jika Anda sudah berada di dalamnya, suasana kopitiam ini sebenarnya terasa nyaman, apalagi kalo mendapatkan posisi di kursi panjang berlapis busa. 😀

Ketika kita memilih menu di meja, akan terlihat seperti sedang membaca koran karena ukuran yang dibuat menyerupai koran namun dengan layout dan foto makanan yang menarik. Dengan menunya yang sangat variatif, my Kopi-O! memang tidak sekedar kopi. Namun begitu, kopitiam ini tetap berusaha mengedukasi pelanggannya tentang ragam dan citarasa kopi Indonesia. Bahkan di halaman pertama menu tercetak dengan ukuran huruf sangat besar “GO! LOCAL COFFEE”. Membaca tulisan ini, saya jadi maklum kenapa pemilik my Kopi-O! ngotot menawar kopi terbaik di Lelang Kopi Spesialti Indonesia 2012. Oya, my Kopi-O! juga menawarkan kopi dari beberapa daerah penghasil kopi Indonesia seperti Lampung, Jawa, Flores, dan Papua.

Saya tidak memesan menu yang aneh-aneh, hanya secangkir Nanyang Kopi O dan Kaya Toast. Maksud hati sebenarnya ingin memesan kopi hitam tanpa gula, dan seingat saya kopi o itu adalah kopi yang saya inginkan tersebut. Ternyata saya salah, jika ingin minum kopi hitam tanpa gula seharusnya memesan kopi o kosong, jika menyebut yang dicantumkan dalam menu seharusnya saya memesan Nanyang Kopi Kosong. Ya sudahlah, kopi yang saya pesan enak juga kok, mungkin karena diseduh dari biji kopi yang berkualitas. Infonya sih Nanyang Kopi O ini menggunakan biji kopi robusta jawa peaberry, atau yang biasa disebut juga dengan kopi lanang.

Teman minum kopinya sebenarnya agak kurang cocok. Ya itu tadi, seharusnya sih saya memesan kopi o kosong untuk disandingkan dengan Kaya Toast yang manis, pasti bakalan klop. Menu Kaya Toast ini sendiri rasanya sih mantap juga. Selai srikayanya agak berbeda dengan yang ada di tempat lain yang pernah saya kunjungi. Dalam setangkup Kaya Toast khas my Kopi-O! dioleskan selai srikaya yang warnanya hijau pandan, mungkin memang karena ada campuran bahan tersebut dalam proses pembuatannya.

 

Seperti yang sudah saya tulis di atas, my Kopi-O! menawarkan beberapa macam beberapa jenis biji kopi Indonesia. Para pelanggan sebenarnya tidak hanya bisa menikmati citarasa kopi favoritnya di gerai, tetapi bisa juga membeli berbagai pilihan biji kopi tersebut untuk dibawa pulang. Jika tidak memiliki grinder di rumah, my Kopi-O! bisa membantu menggilingnya untuk Anda. Soal harga, terus terang saya lupa. Saya hanya ingat dijualnya per 50 gram. Jika tertarik Anda bisa tanyakan harganya langsung kepada pelayan atau barista karena tidak tercantum di menu.

Sebenarnya ketika itu saya tertarik untuk membawa biji kopi Flores pulang ke rumah, sayang sekali stoknya sedang kosong. 🙁

Menurut saya my Kopi-O! bisa jadi alternatif pilihan jika mencari tempat ngopi yang enak tetap juga menyajikan ragam pilihan menu yang sangat variatif baik makanan atau minuman. Mungkin saja suatu saat Anda ingin ngopi bareng keluarga atau kolega yang tentu tidak semua suka kopi. Penikmat kopi sejati juga harus punya toleransi kan? 😛

 

*semua foto dalam artikel ini diambil menggunakan Nokia Lumia 800

READ MORE
23 Nov

Episode Braga

By / on Cafe Story , My Imagination

Braga Huis, Bandung. 2012.

READ MORE
14 Oct

Lelang Kopi Spesial Indonesia 2012

By / on Cafe Story

READ MORE
13 Oct

Warung Kopi Purnama

By / on Cafe Story

Saya pernah tinggal di Bandung selama kurang lebih sepuluh tahun. Sepanjang waktu itu, yang saya kenal tentang jalan Alkateri adalah lokasi para pria hidung belang mencari cinta berbayar. Ah, betapa memalukannya. Sebenarnya saya juga tidak terlalu asing dengan area kota lama Bandung, karena dulu sering juga mencari barang elektronik di jalan ABC atau makan tengah malam di warung Ceu Mar yang tidak jauh dari jalan Alkateri. Namun saya baru tahu kalau di jalan tersebut ada sebuah warung kopi tua yang menarik untuk disinggahi.

Nama warung kopi itu adalah Purnama. Anda akan dengan mudah menemukannya saat menyusuri jalan Alkateri yang sempit karena separuh badannya digunakan untuk parkir kendaraan. Menempati sebuah bangunan tua bernomer 22 yang masih terawat dengan baik meskipun warkop ini katanya sudah berdiri sejak tahun 1930. Warkop Purnama lebih dulu lahir sebelum negara Indonesia diproklamirkan, namun ia tetap tampil sederhana dan bersahaja menjaga tradisi meskipun jaman terus berubah.

Saya datang di waktu sarapan untuk mencari secangkir kopi dan setangkup roti selai yang katanya patut dicoba. Suasana warkop di pagi hari ternyata ramai juga. Beberapa meja terisi dengan sekelompok orang yang datang bersama teman atau keluarganya. Kebanyakan mungkin berusia sekitar 40 tahunan ke atas. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sudah bertahun-tahun jadi langganan warkop ini.

Tidak ada yang istimewa dari desain interior warkop Purnama yang kuno dan sederhana. Meja kursi dari kayu yang kokoh diatur selaras dengan ruangan yang memanjang ke belakang dengan jarak yang cukup rapat tapi masih dalam batas nyaman. Berbagai gambar dan lukisan digantung di dinding yang dicat warna krem. Langit-langit ruangannya tinggi, khas bangunan jaman Belanda yang ada di kota Bandung.

Kopi susu satu. Saya menulis pesanan ini karena memang sudah meniatkan diri sebelum datang ke warkop. Tambahan untuk mengisi perut adalah palm suiker dan juga roti srikaya pesanan istri.

Kopi susunya nikmat. Katanya kopi yang digunakan sejak dulu adalah kopi Aroma. Tentu semua tahu kalau Kopi Aroma adalah salah satu produsen kopi ternama di Indonesia dengan sejarah panjang yang juga berlokasi di kota Bandung, bahkan tidak jauh dari warung kopi Purnama.

Bagaimana roti palm suiker dan roti srikayanya?  O iya, roti palm suiker adalah roti yang diolesi mentega dan ditaburi palm sugar atau gula merah. Roti yang digunakan untuk kedua menu tersebut lembut dan citarasanya bisa diterima, meskipun tidak terlalu istimewa menurut saya. Kalau untuk roti srikaya, saya lebih suka yang ada di warung kopi Sabang 16, Jakarta. 😀

Menyempatkan sarapan di warkop Purnama sebelum menjelajah kota Bandung adalah pilihan yang menarik. Apalagi warung kopi ini memang buka pagi-pagi sekali, mulai jam 6. Menyenangkan menikmati secuil suasana Bandung tempoe doeloe dengan secangkir kopi hangat yang menyimpan cerita panjang pergantian jaman.

READ MORE
21 Aug

Smitten coffee and tea bar

By / on Cafe Story

Masih di Singapura, tidak jauh dari Toby’s Estate, ada kafe lain yang menarik juga untuk dikunjungi. Meskipun berada di satu area yang sama dengan Toby’s, tetapi kafe ini saya singgahi dalam kunjungan ke Singapura yang berbeda.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi Smitten Coffee and Tea Bar di area kondominium The Quayside.  Bangunan yang ditempati Smitten bentuknya memanjang ke belakang dan didesain dengan suasana seperti gudang. Material mentah seperti kayu tanpa finishing, bata ekspos bercat putih, pipa besi dan batangan baja, serta lantai semen menjadi elemen desain yang berpadu dengan menarik. Sebuah Kees Van Der Westen Mirage dengan manual lever didaulat menjadi penyaji espresso untuk para pengunjung. Sedangkan di sisi bar yang lain, berbagai peralatan seduh kopi non mesin tersedia, termasuk menara bejana untuk cold brew yang tampil menjulang.

Seperti di Toby’s, di sini Anda juga bisa menemukan kopi dari berbagai macam daerah penghasil kopi dunia yang diroasting sendiri oleh sang pemilik kafe. Eh, tapi jangan memesan flavored coffee di sini, karena Anda tidak akan menemukannya di menu. Kalau ingin mengimbangi rasa kopi yang mungkin menurut Anda pahit, sandingkan saja dengan salah satu pilihan cake yang ada. Saya jamin bakal klop deh.

Darren, sang pemilik, adalah seorang home barista sebelum akhirnya terjun secara total ke dalam bisnis kopi. Keahliannya dalam meracik kopi adalah hasil dari belajar secara otodidak. Tidak cukup sampai situ, untuk memperdalam ilmu di dunia kopi, Darren pun belajar roasting kopi di Australia.

Di bagian belakang kafe, Anda bisa menemukan sebuah mesin penggoreng kopi dan juga dua unit mesin espresso semi-commercial lengkap dengan grinder. Selain  membuka kafe dan menjual roasted bean, Darren juga membuka kursus bagi siapa saja yang ingin belajar menjadi seorang coffee roaster ataupun barista.

Menu yang saya pesan, secangkir latte dan sepotong Oreo cheesecake mengisi kekosongan perut. Thumper blend – campuran biji kopi untuk espresso khas dari Smitten – masih terasa nendang dengan karakter rasa coklatnya meskipun dipadu dengan susu. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, manisnya cheesecake melengkapi rasa jadi sempurna.

Pagi itu kafe tampak sepi. Sebenarnya banyak sih pengunjung yang datang namun kebanyakan lebih suka memesan kopi untuk dibawa pergi. Kalau kebetulan Anda sedang berada di Singapura dan ingin ngopi-ngopi, tidak ada salahnya mencoba tempat ini.

Smitten Coffee & Tea Bar
The Quayside, 60 Robertson Quay
#01-11 Singapore 238252

READ MORE
19 Aug

Toby’s Estate Singapura

By / on Cafe Story

Toby Smith adalah salah satu dari orang-orang istimewa yang memulai bisnis dari garasi dan kemudian dikenal dunia. Pria berkebangsaan Australia ini mendalami pengetahuan tentang kopi di Brazil dan Guatemala sebelum pulang kampung dan mulai membuka small independent roaster di garasi rumah ibunya di Sidney.

Toby mendirikan Toby’s Estate di tahun 1997 dengan visi menghadirkan kopi berkualitas dari daerah penghasil yang berkomitmen pada kelestarian alam kepada para penggemar kopi di Australia. Kini roastery dan kafe Toby’s Estate terus berkembang dan tersebar di Sidney, Melbourne, Perth, Brisbane, Singapura, dan Brooklyn.

Acara jalan-jalan saya kali ini membawa saya singgah di Toby’s Estate Singapura. Ini adalah cabang yang pertama di luar Australia. Terletak di Robertson Quay di tepi Singapore River, Toby’s Estate menempati sebuah komplek bangunan yang mungkin bisa disebut sebagai area kuliner dan hang out. Cukup mudah untuk menemukan lokasi kafenya karena area outdoor dengan payung hitam berlogo Toby’s Estate bisa terlihat dari kejauhan.

Begitu melangkah masuk ke dalam kafe, Anda akan disuguhi dinding mural yang menjadi background bar yang menggambarkan proses perjalanan kopi dari biji hingga sampai ke cangkir. Sebuah meja kayu panjang ditempatkan di tengah ruangan yang berlangit-langit tinggi untuk tempat para pengunjung menikmati kopi sambil bersosialisasi atau asyik sendiri. Sangat menghemat ruang dan bisa menampung lebih banyak orang.

Saya datang sekitar jam 9 pagi, dan ternyata kafe sudah dipenuhi para pengunjung yang datang menikmati kopi dan sarapan. Tidak ada tempat tersisa waktu itu kecuali kursi di depan bar. Bukan masalah sih, karena saya malah bisa menonton aksi para barista, hanya saja meja bar yang sempit membuat sarapan menjadi kurang nyaman. 😀

Saya memesan secangkir cappuccino dan roti panggang dengan selai strawberry. Biasanya saya selalu bertanya, biji kopi apa yang digunakan untuk pesanan saya. Namun karena suasana kafe yang ramai dan posisi duduk yang jauh dari tempat sang barista, saya jadi malas bertanya. Ya sudah, saya pasrah saja melihat sang barista memainkan grinder dan mesin kopi Kees Van Der Westen Mirage yang cantik itu.

Sisi tempat saya duduk ternyata adalah slow bar.  Saya perhatikan sepertinya cukup banyak pengunjung yang memesan kopi dengan metode pour over dan syphon. Jadilah di hadapan saya disuguhkan atraksi kecil para barista yang bermain-main menggunakan alat seduh tanpa mesin. Menyenangkan melihat mereka dengan terampil dan teliti, berusaha menyajikan kopi yang terbaik untuk para pelanggannya.

Toby’s Estate juga menyediakan roasted bean, teh, coklat, dan pernak-pernik serta peralatan kopi yang bisa dibeli. Berbagai produk ini dipajang di satu rak yang berada di salah satu sudut ruang, dan karena kebetulan posisi duduk saya berada di dekat rak pajang ini, akibatnya godaannya kuat sekali! Akhirnya sebuah KeepCup berlogo Toby’s Estate ikut masuk ke dalam bill. 😆

Oiya, bagaimana cappuccinonya? Tenang, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengeringkan secangkir kopi berlukiskan tulip putih itu. Rasa kopi yang kuat berpadu dengan buih susu lembut yang manis, tanpa perlu gula. Mantap! Jelas patut disinggahi kalau Anda sedang pelesir ke Singapura.

Toby’s Estate
8 Rodyk Street
Robertson Quay
Singapore 238216

READ MORE