05 May

Oleh-oleh dari Australia di Lante Satu

By / on Cafe Story

Menghabiskan waktu dengan ngopi bersama teman-teman adalah salah satu cara refreshing murah buat saya. Seringkali acara ngopi-ngopi tersebut tidak direncanakan sebelumnya, seperti kali ini yang dipicu oleh tweet Pak Hendri, teman saya yang memamerkan sekantong biji kopi yang didapatkannya dari Australia. Tidak seberapa lama setelah percakapan di twitter, saya langsung meluncur menuju lokasi dimana dia berada demi sekedar mencicipi kopi impor tersebut.

Kami bertemu di sebuah kafe yang terbilang baru daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, dekat dengan kampus Universitas Bina Nusantara. Kafe ini dinamakan Kedai Lante Satu, nama yang sederhana dan mudah diingat. Pemiliknya adalah seorang fotografer bernama Timur Angin, dan saya tahu dari Pak Hendri bahwa ia adalah putra dari Seno Gumira Ajidarma. Dua-duanya adalah seniman hebat menurut saya. Siapa yang tidak kenal tulisan-tulisan SGA, dan Timur Angin, karya fotografinya selalu memukau mata saya. Cukup sampai situ saja sih, saya tidak akan melanjutkan bercerita tentang kedua orang tersebut. Hahaha…

Kedai Lante Satu menempati sebuah ruko di lantai satu, sedangkan lantai duanya digunakan sebagai studio foto. Saat saya datang terasa suasana yang hangat karena interior yang sebagian besar terdiri dari furniture dan pernak-pernik yang terbuat dari kayu, demikian juga coffee-bar-nya.

Ada sesuatu yang sangat menarik di kafe ini. Ada sebuah sofa yang terbuat dari jok belakang mobil Volvo 264GL, lengkap dengan bagasinya! Awesome! Saya ingin sekali punya yang seperti ini untuk di rumah. 😆

Yang saya jumpai di Kedai Lante Satu ternyata bukan hanya Pak Hendri, sudah ada Doddy Samsura juga ketika saya datang. Doddy yang datang dari Yogyakarta adalah juara satu Indonesia Barista Championship 2011, dan ketika itu sedang berkunjung ke Jakarta untuk persiapan dalam rangka mengikuti Asia Barista Championship 2012 di Singapura (saat ini Doddy sudah menyabet peringkat 2 di ajang tersebut). Tidak berapa lama kemudian menyusul beberapa teman lainnya. Ternyata acara icip-icip kopi ini jadi ramai. Asyik!

Biji kopi yang dikirim dari Australia ternyata adalah biji kopi yang berasal dari El Salvador. Biji kopi ini di-roast oleh Mecca Espresso, sebuah coffeebars and roastworks di negeri aborigin tersebut. Saya yang awam ini merasa kagum ketika melihat kemasan kopi dari Mecca ini. Informasi yang tertera di labelnya sangat lengkap. Kita jadi bisa mengetahui dengan cukup detil darimana biji kopi tersebut berasal hingga ke nama petaninya. Traceability seperti ini, yang saya ketahui, sangat penting untuk roaster agar bisa mendapatkan kualitas kopi yang konsisten. Untuk konsumen seperti saya, informasi seperti ini tentu menambah cerita dalam cangkir kopi selain juga rasa hormat kepada petani-petani yang dengan penuh dedikasi berusaha menghasilkan biji-biji kopi terbaik.

Kopi El Salvador ini dikirim oleh Trisatya Dharmawan, seorang WNI yang bekerja menjadi barista di Australia. Kopi yang sama dengan yang akan digunakannya dalam event Australian Barista Championship di awal Mei ini. Meskipun di labelnya tertulis “roasted for espresso” tetapi sore itu kami tidak berniat menggunakan mesin espresso untuk menyeduh kopi ini. Kami sepakat untuk menggunakan metode Fench press saja yang simpel. Rasa kopinya sangat mild menurut saya, baik dari bitterness maupun acidity. Selain itu saya mendapatkan juga citarasa fruity di dalamnya.

Tidak cukup kopi El Salvador saja, kami juga menyeduh espresso dengan menggunakan kopi Kintamani. Kopi Kintamani ini adalah pilihan yang akan digunakan Doddy selain kopi Toraja dalam kompetisi Asia Barista Championship. Doddy yang membuatkan kopinya menggunakan mesin ECM Giotto berukuran mungil yang ada di bar.

Seperti biasa, kalau ngopi bareng teman-teman para maniak kopi tidak pernah bisa sebentar. Selalu saja ada bahasan tentang kopi yang mengalir seakan tidak ada habisnya. Namun begitu, saya merasa beruntung mengenal teman-teman yang punya passion  sangat besar di dunia kopi. Dari acara ngopi-ngopi seperti ini saya hampir selalu mendapatkan pengalaman dan wawasan baru. Tidak jarang juga mendapatkan kenalan baru.

Mari ngopi!

READ MORE

01 May

The Blue Lotus Coffeehouse

By / on Cafe Story

Mencari tempat ngopi di Semarang yang bisa memuaskan selera saya itu cukup sulit. Selain karena memang saya tidak tinggal di Semarang, teman-teman saya yang ada di kota ini pun selama ini tidak bisa memberikan rekomendasi yang pas. Hahaha… Nah, kebetulan beberapa waktu lalu saya membaca twitter Kang Adi Taroepratjeka yang sedang syuting untuk acara Coffee Story di sekitar daerah Semarang dan Beliau menyebut sebuah coffeehouse bernama Blue Lotus. Seminggu kemudian saya terbang ke Semarang dan memastikan diri mampir ke lokasi ini.

Lokasi The Blue Lotus Coffeehouse tidak sulit untuk ditemukan karena berada di pusat kota, dekat dengan rumah makan Soto Bangkong yang legendaris. Menempati bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa, Blue Lotus memiliki ruangan yang sangat luas jika dibandingkan dengan rata-rata coffeehouse lainnya di Semarang atau bahkan di Jakarta. Meskipun ruang utama ada di lantai dasar, tetapi tampaknya lantai di atasnya juga bisa digunakan untuk menampung pengunjung.

Banyak sofa besar yang nyaman di dalam ruangan Blue Lotus, selain juga kursi-kursi kayu yang melingkari meja dengan jarak yang cukup jarang antara satu dengan yang lain. Sudut paling favorit tentu saja sofa biru yang ada di dekat rak buku. Selain bisa dengan mudah memilih-milih bahan bacaan untuk teman ngopi juga bisa dengan bebas menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan termasuk memperhatikan tingkah polah barista di balik bar.

Di atas bar bertengger manis sebuah mesin espresso La Marzocco FB70 berwarna merah metalik. Selain itu berbagai perlengkapan untuk menyeduh kopi juga dipajang di sepanjang meja bar. Dari perbincangan dengan sang barista, saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya Blue Lotus punya campuran kopi sendiri untuk espresso yang dinamakan Bimantoro blend tetapi pada saat saya berkunjung, mereka menggunakan kopi Kintamani sebagai alternatif.

Kopi Mandhailing jadi pilihan saya di sore itu, diseduh dengan syphon oleh sang barista. Menyeduh kopi dengan alat ini selalu menjadi atraksi kecil yang menarik. Kopi bagaikan sebuah ramuan ajaib yang diracik dalam bejana kaca oleh sang penyihir.

Saya tidak tahu seberapa sering orang Semarang memesan syphon coffee, tapi saya memperhatikan bahwa barista Lotus Coffee cukup terampil dalam menyajikannya. Mungkin juga karena mereka dilatih dengan sangat baik oleh sang pemilik yang juga memiliki passion yang mendalam terhadap kopi.

Pak Hardjono, pemilik Blue Lotus sendiri tidak memiliki latarbelakang di industri kuliner ataupun kopi sebelum membuka coffeehouse ini. Namun saat menimba ilmu di New York, beliau sangat tertarik dengan kultur kopi di kota tersebut. Ketika kembali ke Semarang, Pak Hardjono sempat berkarir di sebuah perusahaan sebelum akhirnya melihat peluang untuk menghadirkan tempat ngopi berkualitas. Dengan bekal semangat belajar yang tinggi dan juga pelayanan yang baik dan personal, kini Pak Hardjono dan Blue Lotus, menurut saya adalah ikon independent coffeehouse di Semarang.

READ MORE
24 Mar

Coffee at Work

By / on Cafe Story

Kesibukan kantor dan secangkir kopi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kafein membantu para pekerja berkerah untuk memulai pagi dengan mata benderang dan bersemangat juang. Oleh karena itu hampir di setiap gedung perkantoran di Jakarta setidaknya ada sebuah kedai yang menyediakan kopi selain yang ada di pantry masing-masing kantor.

Salah satu kedai kopi itu adalah Coffee at Work yang saya temukan di gedung Cyber 2, Jl. Rasuna Said. Mengapa kedai kopi ini istimewa hingga saya tulis di blog ini? Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan kopi yang istimewa di sini, tetapi begitu melihat mesin ECM Michelangelo dengan cangkir berlogo Lavazza di cup tray-nya serta grinder Compak di sisinya, saya berubah pikiran. Peralatan tempur kafe ini ternyata tidak main-main, sudah sepantasnya saya mengharapkan kopi yang enak. 😀

Lavazza saya kenal punya citarasa espresso yang mantap, dan yang saya tahu, ketika dijadikan cappuccino atau latte rasa kopinya akan masih terasa nendang. Pertama kali saya mencicipi kopi racikan Italia ini adalah sekitar tahun 2006 ketika saya bekerja di sebuah kafe di Bandung yang juga menggunakan Lavazza dan mesin ECM Michelangelo untuk menyajikan espresso dan menu kopi lainnya. Melihat apa yang ada di bar Coffee at Work ini sempat sejenak membawa kilas balik kenangan enam tahun yang lalu.

Saya memesan secangkir cappuccino untuk menemani mengisi waktu sebelum meeting dengan seseorang yang bekerja di salah satu perusahaan yang berkantor di gedung ini. Sesaat kemudian sebuah cangkir berlogo Lavazza diantarkan ke meja. Buih susu warna putih berpadu dengan warna coklatnya espresso tampil kurang menggoda. Mungkin sang barista perlu jam terbang lebih panjang lagi untuk menyajikan cappuccino dengan microfoam yang lembut. Namun sesapan pertama membuat hal tersebut tidak penting lagi. Rasa cappuccino ini adalah rasa cappuccino yang selalu saya sukai, citarasa kopinya masih sangat terasa dan khas Lavazza. Hore! Saya seperti menemukan harta karun! 😆

Coffee at Work, menurut saya, pantas disinggahi jika Anda bekerja di gedung Cyber 2 atau sedang ada meeting di sini. Meskipun hanya kafe kecil, tapi Coffee at Work jelas bisa menyuguhkan kopi enak. Mari ngopi! 🙂

 

READ MORE
11 Mar

Morning Glory

By / on Cafe Story

Salah satu tujuan warga Jakarta melepaskan penat adalah kota Bandung, dan waktu yang pas buat meluncur ke kota tersebut adalah di hari Sabtu pagi. Berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi, badan masih segar, cuaca tidak panas, dan lalu lintas tidak terlalu ramai. Kalau tidak sempat ngopi di pagi hari tidak perlu kuatir. Dua setengah jam kemudian ketika Anda sudah melewati gerbang tol Pasteur, di perempatan pertama belokkan kemudi kendaraan Anda ke kiri ke arah Jalan Suria Sumantri. Ikuti saja jalan menuju arah Setrasari Mall, atau jika Anda buta daerah ini, tanya saja ke tukang jualan rokok di pinggir jalan. 😀

Ada apa di Setrasari Mall? Di sini Anda bisa menemukan tempat ngopi dengan suasana nyaman dan kualitas kopi yang tidak main-main. Cari signboard dengan nama Morning Glory. Dari depan mungkin kafe yang berada di deretan ruko ini tampak kecil, tapi masuklah ke dalam dan terus saja masuk hingga sampai ke halaman belakangnya dimana Anda bisa menikmati kopi pagi dengan suasana berbeda.

Akhir pekan yang lalu, ada sesuatu yang menarik perhatian saya begitu pertama kali memasuki kafe ini. Di atas sebuah mesin kopi La Marzocco berwarna putih terpampang tawaran menu kopi spesial, Geisha. Wow!

Geisha adalah varietas kopi yang berasal dari kota Gesha, Ethiopia. Dibawa ke Amerika Tengah pertama kali di Costa Rica sekitar tahun 1953. Geisha mulai mendapatkan popularitasnya setelah memenangkan penghargaan kompetisi cupping Best of Panama di tahun 2004 dan memecahkan rekor harga tertinggi pada lelang onlinenya. Geisha yang memiliki kualitas terbaik ini berasal dari perkebunan Hacienda La Esmeralda di bagian barat Panama. Pada tahun-tahun berikutnya Esmeralda Special selalu menyabet penghargaan di event cupping dan harga lelangnya selalu fantastis.

Menemukan Geisha di Morning Glory membuat mata saya berbinar-binar sekaligus penasaran. Apakah ini Geisha dari Hacienda La Esmeralda yang terkenal akan citarasa dan harganya yang selangit itu? Tapi kemudian ada sesuatu yang membuat dahi saya berkerut. Terbaca oleh saya tulisan “Try this Geisha Coffee from West Java”. Hmmm… Penasaran, saya tanya sang barista mengenai informasi yang ada di papan tersebut. Ternyata, menurut sang barista, biji kopi Geisha tersebut berasal di Jawa Barat, tepatnya dari perkebunan kopi di daerah Bandung Selatan. Morning Glory memang memiliki petani binaan di daerah tersebut, dan masih menurut sang barista, di area perkebunan kopi itu ada sejumlah pohon kopi dari varietas Geisha. Wah, saya jadi makin penasaran, tapi sayangnya sang barista sedang sibuk jadi saya urungkan niat untuk bertanya-tanya lebih jauh lagi. Oya, Morning Glory juga me-roasting sendiri kopinya. Di sebuah sudut kafe akan Anda temui sebuah roasting machine berwarna merah menggoda dan beberapa keranjang resin berisi green bean.

Akhirnya saya memang memesan secangkir Geisha dan menyesapnya selagi masih hangat. Saya tidak bisa mengeja dengan detil kualitas dan citarasa dari kopi ini, tetapi saya bisa merasakan citrus dalam kopi dengan light body dan good acidity. Aroma dan citarasa floral (seperti melati) yang jadi ciri khas kopi ini tidak bisa saya identifikasi karena mungkin indera saya belum terlatih. Tapi yang jelas menikmati kopi ini dengan suasana backyard di tengah cuaca pagi kota Bandung yang sejuk benar-benar membuat badan dan pikiran rileks. Agenda jalan-jalan di Bandung pun dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan. 🙂

Morning Glory

Setrasari Mall Kav. C2/31
Bandung
022 – 762 58 911
www.mg-coffee.com

READ MORE
02 Mar

Kedai kopi mungil bernama Javva

By / on Cafe Story

Letaknya agak tersembunyi di sudut sebuah showroom yang menjual berbagai perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kaca dan porselein. Ukurannya mungil, tidak seperti sosok pemiliknya yang berbadan besar, tetapi menyajikan menu kopi yang berkualitas. Setidaknya nama Adi W. Taroepratjeka, yang wajahnya bisa dilihat di acara Coffee Story yang tayang di Kompas TV setiap hari Rabu jam 9 malam, adalah jaminan Anda mendapatkan pengalaman ngopi yang memuaskan.

Dinamakan Javva, kedai kopi ini mendiferensiasikan dirinya sebagai pourover & syphon bar. Anda tidak akan menemukan mesin espresso di sini, jadi jangan mencari cappuccino ataupun latte di daftar menu. Untuk metode pourover, mungkin bisa dibilang Javva termasuk salah satu kedai kopi pelopor di Jakarta.

Ada yang baru yang dijual di Javva ketika saya singgah di hari Kamis kemarin, yaitu kopi Papua dari Ontel Coffee. Ini adalah kopi yang diambil dari perkebunan kopi di Lembah Baliem dan di-roast oleh Ephram Angga Adipura dan diberi merek Ontel Coffee. Saya sendiri belum mengenal sosok sang roaster, hanya mengetahui namanya dari label di bagian belakang kemasan Ontel Coffee.

Penasaran dengan “barang baru” ini, saya langsung meminta Mbak Rista (soalnya baristanya perempuan) untuk menyeduhnya menggunakan pourover. Hmmm.. Saya suka citarasanya, ada rasa coklat yang bisa didapatkan saat kopi memenuhi rongga mulut. Metode pourover menghasilkan kopi dengan karakter light body dan low acidity tetapi menurut saya tidak kehilangan intensitas rasa, atau setidaknya masih masuk ke selera saya. Tapi ada sesuatu yang menurut saya agak mengganggu. Saya merasakan ada sedikit rasa kurang nyaman yang tertinggal di ujung kerongkongan setelah beberapa kali meneguk kopi Papua versi Ontel ini. 😀

Anda bisa abaikan deskripsi saya di untuk kopi Papua di atas dan langsung mencoba sendiri rasanya karena saya juga masih belajar untuk bisa mendeskripsikan keunikan masing-masing kopi yang saya rasakan. Anda bebas untuk tidak sependapat bahkan juga mengkoreksi. 😉

Kalau Anda penasaran dan menyempatkan diri untuk mengunjungi kedai kopi Javva, sebaiknya mencoba juga menu makanan yang satu ini:

Saya iseng saja menyebutnya bacang jumara, singkatan dari bacang jumbo rasa juara. 😆 Dari segi ukuran, bacang ini memang mengenyangkan untuk ukuran perut saya. Rasanya juara karena mungkin bahan-bahannya berkualitas. Isi bacang bermacam-macam: ada jamur, telur asin, dan daging.

Di beberapa kesempatan, kedai kopi Javva juga mengadakan acara yang terkait dengan kopi. Biasanya diadakan secara gratis namun tempat terbatas. Kalau Anda tertarik dengan dunia kopi, bisa follow twitternya di @kopijavva supaya tidak ketinggalan info jika mereka mengadakan sharing session. Info alamat kedai kopinya juga bisa didapatkan di akun twitter tersebut.

READ MORE

23 Feb

Antipodean

By / on Cafe Story

Siang itu saya ngopi secangkir kopi Papua Wamena di salah satu kafe di sudut Kemang. Wamena yang satu ini agak berbeda dari yang biasa saya rasakan, rasa kopinya lebih intens dan acidity-nya hampir tidak terasa. Entah apakah ini adalah ciri khas dari Merdeka Coffee dalam “menggoreng” Wamena, atau lidah saya yang sedang keseleo. 😆 Tetapi dengan ditemani manisnya sepotong Caramel Apple Raisin, dua sejoli ini serasi menemani aktivitas kerja saya.

Memilih nama Antipodean, kafe ini memang memposisikan diri sebagai Australian style of cafe yang menyajikan kopi berkualitas dan juga santapan untuk para ekspatriat di Jakarta. Di jam makan siang, kafe ini penuh oleh pengunjung yang datang dan pergi. Kebanyakan adalah bule-bule yang mungkin tinggal di sekitar Kemang. Dengan menu makanan bercitarasa internasional yang sangat beragam, tidak heran jika banyak yang singgah untuk makan siang selain ngopi.

Dalam ruangan dengan luas yang tidak lebih dari 50 meter persegi, kafe ini bisa dikatakan berukuran mungil. Ruangan akan terasa sempit jika semua kursi terisi, namun dibalik itu suasana hangat dan akrab akan lebih terasa.

Harga minuman kopi berkisar dari Rp 18ribu – 25ribu, cukup premium mengingat harga tersebut adalah untuk kopi hitam dan espresso based tanpa tambahan sirup beraneka rasa. Tapi mengingat konsumennya adalah para ekspatriat, harga premium mungkin terkait dengan usaha untuk menjaga kualitas tanpa kompromi.

Jika Anda sedang melewati Kemang, mampirlah ke Antipodean di komplek supermarket Hero dan temukan sebuah cafe culture. Sebuah budaya yang berasal dari Eropa dimana kafe menjadi titik sentral, tempat orang-orang atau komunitas yang ada di sekitarnya berkumpul dan bersosialisasi. Menyenangkan!

READ MORE
12 Feb

Menikmati kopi premium harga promo

By / on Cafe Story

Menikmati kopi enak yang paling murah bisa dilakukan di rumah. Tetapi siapa yang menolak kalau bisa ngopi murah, kualitas premium, dengan suasana kafe yang nyaman? Silahkan Anda sapa barista Starbucks di mana saja dan pesan secangkir brewed coffee ukuran tall. Anda hanya akan diminta untuk menggantinya dengan selembar uang 10ribu rupiah untuk kenikmatan kopi premium dan suasana ngopi khas Starbucks. Penawaran menyenangkan ini berlaku dari tanggal 4 Februari – 31 Maret 2012.

Ngomong-ngomong, kemarin saya sudah menikmati secangkir House Blend ekonomis sambil menikmati jalanan Melawai di depan coffee shop yang diguyur hujan sore hari..

READ MORE
05 Feb

Backyard Coffee

By / on Cafe Story

Ngopi buat sebagian orang erat kaitannya dengan proses pencarian ide. Mungkin itulah tujuan para personel Maliq & D’Essentials mendirikan kedai kopi ini di ruang bawah studio musik mereka. Backyard Coffee terletak di daerah Bintaro Jaya, sebuah kota satelit yang berkembang dengan pesat. Lokasi tempat tinggal saya sendiri dekat dengan daerah tersebut, dan selama ini saya merasa memang kedai kopi yang asyik buat nongkrong dekat rumah sangat jarang. Adanya Backyard Coffee tentu membuat pilihan tempat saya ngopi sambil kerja atau nongkrong bertambah.

Ruangan dalam kedai kopi ini tidak terlalu luas dengan desain interior yang sederhana. Ada sebuah bar yang tersusun dari kaset bekas dengan mesin kopi Sanremo dan grinder yang tidak saya ketahui mereknya. Berbagai pernak-pernik menarik dari piano tua hingga karya desain grafis bergaya pop art memberikan suasana yang hangat dan menyenangkan. Kalau mau ngopi dengan suasana outdoor juga bisa memilih untuk duduk di bangku yang ada di teras kedai.

Di kunjungan perdana saya memesan Hazelnut Latte. Mbak Barista pun segera beraksi meracik pesanan. Menariknya, mbak Barista yang saya lupa namanya ternyata adalah seorang eks bartender dan baru belajar jadi Barista ketika bekerja di Backyard Coffee. Eh, tapi Hazelnut Latte buatannya mantap lho rasanya. Layernya rapi dan busa susunya lembut sekali.

Soal harga? Mmm.. Saya rasa walaupun tidak bisa dibilang murah, tetapi setimpal dengan waktu yang bisa kita habiskan di sini ber-wifi ria atau sekedar ngobrol ngalor ngidul. Hahaha… Siapa tahu juga bisa bertemu atau malah nge-jam bareng dengan Maliq. :p

READ MORE

13 Jan

That’s Life

By / on Cafe Story

Secangkir kopi Java menemani saya menyelesaikan sebuah pekerjaan siang itu di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Lokasinya agak sulit ditemukan kalau baru datang untuk pertama kali. Pokoknya kalau sudah menemukan gerai KFC ketika melintasi Jl. Gunawarman kurangi kecepatan kendaraan dan melipir saja di sisi kiri jalan. Kedai kopi ini berada di sebuah rumah bernomer 24 di sebelah salon Carina. Dari depan memang tampak seperti sebuah rumah biasa, namun kita bisa langsung masuk melalui pintu paling kanan dan naik ke lantai dua.  Yang menarik ketika menaiki anak tangga adalah melihat banyak pigura dengan gambar figur kartun gadis kecil polos dalam berbagai pose tergantung di dinding. Mungkin karya dari sang pemilik karena saya mendengar bahwa pemilik kedai ini adalah juga seorang ilustrator.

That’s Life Coffee, nama yang unik untuk sebuah kedai kopi walaupun frase tersebut sering diucapkan dalam dialog kita sehari-hari. Menurut barista yang menyajikan saya kopi, kedai ini telah beroperasi sejak 2010. Suasana interiornya nyaman dengan sudut favorit dekat dinding kaca yang menghadap jalan. Soal menu sebenarnya cukup variatif dan bisa diintip dulu di websitenya ini, tetapi ketika saya temukan black coffee  dan singkong goreng maka itu sudah cukup. Selain itu WiFi gratis yang berlari kencang melengkapi  fasilitas “kantor” yang saya butuhkan. :p

Sepiring singkong goreng keju yang saya pesan rupanya cukup besar porsinya. Secangkir kopi mungkin tidak akan bertahan sampai sore, tapi sepiring singkong ini cukuplah untuk bahan bakar otak menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai beberapa jam.

Sepertinya That’s Life akan jadi salah satu kedai kopi favorit saya untuk dijadikan “kantor alternatif”. Selain lokasinya dekat dengan jalur hilir mudik saya sehari-hari, kopi dan singkong gorengnya juga enak. Walaupun bukan yang terbaik tapi setidaknya harganya ramah untuk dompet.

That’s life

That’s what all the people say

You’re riding high in April, shot down in May

But I know I’m gonna change that tune

When I’m back on top, back on top in June

(That’s Life – Frank Sinatra)

READ MORE
05 Jan

Jamaican Blue Mountain Coffee

By / on Cafe Story

Saya pernah memberikan sedikit cerita mengenai Jamaican Blue Mountain Coffee di tulisan ini, dan ternyata ada salah satu kafe di Jakarta yang memasukkan salah satu kopi terbaik di dunia ini di menunya.

Terus terang ketika saya mampir ke kafe Excelso yang berlokasi di Plaza Grand Indonesia tidak berharap ada sesuatu yang istimewa. Biasanya kafe Excelso hanya menyajikan kopi-kopi dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun kali ini mata saya tiba-tiba berbinar menatap sederetan menu berjudul “World’s Most Celebrated Coffee” dan menemukan Jamaican Blue Mountain di posisi paling atas. Tanpa pilih-pilih lagi saya langsung pesan yang itu. 😀

Menurut saya rasa kopi Blue Mountain memang mirip dengan Papua Wamena yang merupakan kopi favorit saya. Aromanya kuat, rasa kopinya cukup nendang, tidak terlalu pahit, terasa ringan di mulut dengan kadar keasaman ringan. Saya sebenarnya penasaran juga soal kapan kopi ini diroasting dan dari mana Excelso mendapatkannya. Tapi karena saya bingung harus bertanya ke siapa, jadi ya sudahlah.

Teman buat minum kopi kali ini adalah menu baru yang dinamakan Banana Dates Nachos. Jadi ini adalah perpaduan manisnya pisang berbalut saus karamel dengan nachos dan keju yang gurih. Ada potongan kurma juga yang membuat rasanya tambah unik. Jika membahas soal selera, buat saya sih cemilan ini kurang pas disandingkan dengan rasa kopi Blue Mountain. Yah, kalau lain kali mampir lagi saya harus mencoba pasangan minum kopi yang lain deh.

Pengalaman pertama di Excelso GI yang cukup bagus buat saya. Setidaknya saya punya pilihan tempat kalo ingin meeting di Grand Indonesia sambil ngopi-ngopi. 🙂

 

READ MORE