01 Jan

Kopi Es Tak Kie

By / on Cafe Story

Ada sebuah kedai dengan minuman kopi es sebagai signature drink-nya yang sudah bertahan puluhan tahun di sebuah sudut kota Jakarta. Kedai Kopi Es Tak Kie, barangkali sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang. Entah apakah sudah pernah mengunjunginya langsung, mendengar ceritanya dari teman, membaca di kolom salah satu media massa, atau dari review yang bertebaran di internet.

Terletak di sebuah gang kecil yang disebut gang Gloria, lokasi kedai ini berbaur dengan puluhan penjual makanan lain yang berderet sepanjang gang tersebut. Saya sendiri, beberapa hari lalu, menemukan lokasi Tak Kie dengan bantuan petunjuk dari tukang parkir di Jalan Pancoran, Glodok. Sampai di kedai saya menemukan teman saya, Pak Toni Wahid, sudah sampai lebih dahulu dan sedang asyik jepret sana jepret sini mengabadikan suasana jadul yang begitu kental bagaikan terlempar ke puluhan tahun silam.

Segelas kopi es diantarkan ke meja sesaat setelah saya memesan. Kopi es yang telah ada di menu selama lebih dari 80 tahun tentu punya sesuatu yang istimewa. Memang benar, citarasa kopi dingin ini enak dan menyegarkan. Selain kopi es, Tak Kie juga menyediakan menu minuman lain dan juga makanan.

Jika diperhatikan, cara menyeduh kopi di kedai ini tampaknya sudah berubah. Mungkin karena ramainya pengunjung, untuk menghemat waktu maka kopi diseduh menggunakan percolator, seperti yang biasa kita temukan saat coffee break di tengah-tengah seminar. Tetapi dijamin racikan bubuk kopinya masih menggunakan  warisan pendahulunya.

Tak Kie sendiri saat ini dikelola oleh generasi ketiga. Uniknya, menurut penuturan A Yauw sang pemilik, ada seorang pelanggan setia yang masih rajin datang sejak dirinya masih kecil hingga sekarang ini dan selalu duduk di kursi yang sama. Sebuah kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. Sama seperti kesetiaan A Yauw menjaga kedai Kopi Es Tak Kie untuk terus bertahan supaya tidak hilang ditelan jaman.

 

 

READ MORE
29 Dec

Kopikoe Kopimoe

By / on Cafe Story
Gedung-gedung tua di komplek Blok M adalah daerah yang asing bagi saya. Saya hanya tahu di daerah yang biasa disebut little Tokyo tersebut ada beberapa hotel dan mungkin klab malam atau tempat karaoke. Nah, suatu hari saya tahu dari teman kalau di sekitar komplek tersebut ada tempat ngopi baru namanya Kopikoe Kopimoe.

Beberapa hari lalu saya menyempatkan untuk ngopi di tempat ini. Lokasinya tidak sulit untuk ditemukan. Dari perempatan Melawai – Panglima Polim masuk ke jalur lambat dan belok kiri di jalan kecil sebelah hotel Amos Cozy. Kopikoe Kopimoe tidak jauh dari situ dengan penampakan berupa gedung putih dengan etalase kaca dan beberapa macam mesin kopi merek Gaggia berderet di atas meja kayu. Saya baru tahu kemudian ternyata kafe ini juga menjual mesin-mesin kopi Gaggia tersebut.

Interior Kopikoe Kopimoe ternyata luas, jadi selain ada space untuk ngopi-ngopi juga ada ruang galeri. Sebagai pembuka saya memesan tongseng daging. Hah? Tongseng? Ya karena saya datang saat jam makan siang kok rasanya kasian perut yang sudah keroncongan ini langsung diisi kopi. Hahaha… Rasa tongsengnya OK lah. Setelah menenangkan perut baru lanjut ngopi-ngopi.

Saya memesan secangkir Java Jampit dan tape bakar sebagai temannya. Terus terang ini kali pertama saya merasakan Java Jampit, kopi yang berasal dari pegunungan Ijen. Aroma dan rasanya menurut saya seperti kopi Kapal Api tetapi sedikit lebih asam. Maaf kalo cara saya menjelaskan tidak memberi gambaran, maklum bukan lidah pencicip kopi profesional. Tape bakarnya? Wuah, maknyus. Menurut saya lho ya. Pas banget buat teman kopi.

 

Soal harga nggak mahal lah. Maaf saya lupa membawa pulang bon-nya sehingga tidak bisa memberikan info di sini. Ya kalau Anda sedang mencari kedai kopi di seputaran Blok M, Kopikoe Kopimoe bisa kok dijadikan alternatif pilihan. 🙂

 

 

READ MORE
27 Dec

LIBERICA coffee

By / on Cafe Story

Ketika membaca nama Liberica yang terpampang besar-besar di kafe ini saya bertanya dalam hati, apakah kopi yang disajikan menggunakan biji kopi spesies Liberika? Sayangnya saya belum berkesempatan menanyakannya ke barista Liberica Coffee karena dua kali saya ke kafe ini selalu dalam keadaan ramai sehingga nggak enak rasanya mengganggu kesibukan mereka yang melayani pembeli.

Liberica coffee bisa Anda temukan di dalam mall Pacific Place lantai 4. Interiornya didominasi warna hitam dengan meja dan kursi kayu. Di barnya bertengger sebuah mesin kopi La Marzocco warna putih yang tampak sexy sekali, disandingkan dengan grinder Mazzer yang juga berwarna putih.

 Dua kali ngopi di sini saya cuma memesan cappuccino. Kunjungan pertama kali saya begitu jatuh cinta dengan cappuccino-nya, tetapi entah mengapa di kunjungan saya yang kedua kok rasa kopinya seperti hangus begitu ya? Ah, sayang sekali. Ya tapi saya masih bisa memaklumi karena namanya saja buatan manusia, mungkin tidak bisa konsisten sepanjang waktu. Semoga di kunjungan saya yang berikut-berikutnya saya bisa kembali mendapatkan rasa capuccino yang nikmat untuk teman nongkrong.

READ MORE
16 Oct

Warkop Darmin

By / on Cafe Story

Datanglah ke warkop ini di kala malam, bersama teman-teman, dan katakan: “Saya yang traktir!”. Jangan kuatir dompet jebol, yang penting bisa menikmati kebersamaan.

Kalau Anda sudah sampai di warkop ini dan kebetulan membuka laptop dan terkoneksi ke internet, coba googling nama “Darmin”. Apa yang Anda temukan? Mulai dari Darmin yang orang besar sampai Darmin seorang anak yatim akan Anda lihat di halaman pertama. Apa alasan Alex Komang, pemilik warkop yang juga bintang film, memberi nama Darmin? Silahkan Anda tanya sendiri kalo kebetulan bertemu. :))

 

Warkop Darmin sendiri dideklarasikan sebagai rumah kopi ruang pembebasan. Anda bebas berkumpul, berbicara, berkarya di warung ini, tapi satu yang perlu diingat: Anda tidak bebas pergi lenggang kangkung tanpa membayar.

Kok review saya tidak bermutu seperti ini? Ah, bebas-bebas aja lah. Sebebas Anda menentukan pilihan mau mencoba ngopi di warung ini atau tidak. :p

 

READ MORE
05 Oct

Blumchen Coffee

By / on Cafe Story

Blumchen adalah salah satu kedai kopi terbaik di antara banyaknya kedai kopi yang menjamur di Jakarta Selatan. Dikelola oleh Mas Anto “Ireng” yang sebelumnya merupakan roaster andalan di Bakoel Koffie bersama dengan partnernya yang berkebangsaan Korea Selatan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mampir dan ngopi di sini, tetapi bukan berarti sering juga. Lokasinya yang ada di jalur macet membuat saya harus berpikir seribu kali jika sengaja ingin ke Blumchen. Lebih asyik datang jika memang sedang pulang lewat Fatmawati dari suatu urusan lain. Hahaha..

Beberapa kali ngopi di Blumchen saya selalu memesan menu kopi spesial mereka yang notabene 4 dari 5 menu tersebut adalah kopi campuran, maksudnya resepnya adalah campuran kopi, susu, dan sirup. Biasanya di kedai kopi lain saya tidak pernah memesan minuman kopi yang ada sirupnya, kecuali jika terpaksa. Paling banter kalau tidak ada kopi single origin saya biasanya minum kapucino. Lain dengan di Blumchen, saya sungguh ketagihan dengan yang namanya “Rolo Way” Latte atau “True Love” Latte. Meskipun bukan kopi murni tapi aroma dan rasa kopinya masih nendang, ditambah rasa sirup yang aduhai dan disajikan hangat, sungguh sebuah minuman yang membuat saya jadi melayang. *agak lebay sih* :))

Suasana kedainya sendiri cukup nyaman, tenang walaupun jalanan di depan sering macet. Banyak pernak-pernik kopi dan barang-barang antik dipajang di dalamnya. Oya, Blumchen tampaknya memang fokus pada sajian kopi-nya sehingga tidak banyak menu makanan berat yang ditawarkan. Anda hanya bisa memesan sandwich apabila sedang kelaparan. Jangan kuatir, sandwich-nya juga enak kok.

Soal harga standar saja seperti kedai-kedai kopi kelas menengah ke atas di Jakarta. Dua menu kopi yang ditampilkan di atas harganya 28ribu rupiah. Kalau mau mampir silahkan arahkan kendaraan Anda ke Jl. RS Fatmawati No. 1, Jakarta Selatan dan sapalah Mas Anto “Ireng” di sana. 😀

 

READ MORE
08 Sep

Java Dancer Coffee

By / on Cafe Story
Sebenarnya ini bukan kunjungan pertama saya ke Java Dancer Coffee. Tapi karena saya mengunjungi Malang cuma setahun sekali, jadi baru sempat sekarang mengambil foto di kedai kopi ini. Hehehe…

Soal kopi tidak perlu diragukan lagi kualitas dan rasanya. Saya mengenal ketiga pendiri kedai ini sebagai orang-orang yang memiliki kecintaan mendalam terhadap kopi. Hasilnya? Kopi enak, penyajian memikat, dan suasana buat ngopi mendukung.

Java Dancer Coffee

Ketika kemarin mengunjungi kedai ini selepas lebaran suasananya begitu ramai hingga saya sempat tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya dengan terpaksa saya harus datang keesokan harinya, pagi-pagi supaya belum terlalu penuh.

Peaberry Lintong di daftar menu menarik perhatian saya. Kopi ini termasuk yang paling mahal di deretan menu. Perlu ditebus dengan harga 25ribu rupiah. Rasanya? Enak banget! Cuma karena lidah saya belum terlatih untuk menganalisa rasa kopi, jadi saya tidak bisa membedakan keunggulan rasa kopi peaberry ini dengan kopi enak yang lain. :p

Yang jelas peaberry adalah biji pilihan dari kopi berkualitas tinggi sehingga akan sangat menentukan rasa kopi di cangkir kita, walaupun masih tergantung juga proses pengolahan selanjutnya.

Java Dancer Coffee

Buat yang tidak suka kopi hitam tidak perlu kuatir. Variasi kopi di Java Dancer terbilang lengkap dan tentunya ada juga menu minuman yang lain dan cemilan. Datang saja ke Jl. Kahuripan No. 12, Malang. Nikmati suasananya yang santai dengan kopi yang serius.

 Java Dancer Coffee

 

 

READ MORE
26 Jul

Dante Coffee

By / on Cafe Story

Dante Coffee adalah jaringan kedai kopi yang berasal dari Taiwan dan hadir pertama kali di Indonesia pada tahun 2006. Persinggahan saya di kedai kopi ini beberapa hari lalu sebenarnya lebih karena ingin mencoba alternatif lain selain Starbucks untuk tempat menunggu. 😀

Pengalaman pertama saya tidak mengecewakan. Pilihan saya untuk memesan Vietnam Coffee Drip ternyata tepat. Es kopi susu ini rasanya enak, manis seperti permen Kopiko. Dengan harga sekitar 17 ribu Rupiah (lupa harga tepatnya), tidak mahal untuk ngopi di mall seperti Plaza Indonesia.

Menu lain seperti yang ada di foto di atas rasanya juga enak kok. 🙂

Dante Coffee Plaza Indonesia. Level 4 Extension. Jl. M.H Thamrin Kav. 28 – 30, Jakarta.

 

READ MORE
19 Jul

Kopi dan Roti Srikaya

By / on Cafe Story

Kopi hitam memang teman yang pas buat menikmati roti bakar dengan selai srikaya (kaya toast). Menurut Wikipedia, kaya toast ini adalah salah satu makanan ringan yang populer di Singapura dan Malaysia. Namun saat ini, seiring menjamurnya kopi tiam di Jakarta, kaya toast banyak disajikan untuk berduet dengan kopi.

Antara Sabang 16 dan Ya Kun Kaya. Untuk kopi jelas juaranya adalah Sabang 16, terutama kopi Nabire-nya (kebetulan saya kenal dengan sang roaster). Tapi untuk kaya toast, Ya Kun Kaya adalah yang difavoritkan oleh lidah saya. Jelas ini adalah selera pribadi, jadi Anda bebas untuk berbeda pendapat. 😀

READ MORE
15 Jun

Sebastian coffee shop

By / on Cafe Story

Dinding dari container bekas berwarna hijau menjadi pusat perhatian begitu pertama kali melangkahkan kaki masuk ke halaman Sebastian Coffee. Berlokasi di Jl. Veteran Raya No. 11 A, kafe ini cukup luas dengan 70% berupa ruang terbuka. Desain interior yang memadukan elemen kayu bekas, lantai semen, dan besi container menciptakan atmosfir yang menyenangkan untuk tempat nongkrong.

Sebastian coffee menawarkan ragam minuman dengan kopi dari inhouse blend mereka. Tentu saja bagi yang bukan penyuka kopi juga ada minuman lain yang tidak kalah enaknya, chocolate frappe misalnya. Saya belum sempat menikmati citarasa kopinya karena saat mampir minggu lalu saya kebetulan sudah ngopi di acara lain sebelumnya. Nanti saya cerita kalau mampir lagi. 😀

 

READ MORE
11 Jun

Papua Wamena di Rumakopi

By / on Cafe Story
Blue Mountains coffee adalah salah satu kopi terbaik di dunia yang terkenal dengan karakter good acidity, intense aroma, fairly good body, clean. Ditanam di area perbukitan di bagian timur pulau Jamaika bernama Blue Mountains, perpaduan kondisi tanah, curah hujan, dan temperatur yang sesuai menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan rasa menawan.

Menurut sebuah sumber, Indonesia memiliki daerah penghasil kopi yang kualitasnya setara dengan Blue Mountains Coffee yaitu Wamena di Papua. Hal ini dimungkinkan karena menurut sumber tersebut bibit kopi yang ditanam dari Papua berasal dari Blue Mountains yang dibawa oleh orang Belanda pada jaman kolonial.

Saya tidak begitu peduli pada keabsahan cerita tersebut. Saya sendiri belum pernah mencoba merasakan kopi dari Blue Mountains, namun buat saya kopi Papua Wamena adalah kopi terfavorit. Entah apakah kopi ini bisa mewakili rasa Blue Mountains coffee yang legendaris itu atau tidak.

Salah satu kedai kopi tempat saya mampir untuk menikmati Papua Wamena adalah Rumakopi di Jl. Suryo 20 lt. 2, Jaksel. Beda kedai kopi bisa beda rasa Wamena-nya. Dan Rumakopi menyajikan rasa kopi Papua Wamena yang pas untuk saya.

 

 

READ MORE