Cup Taster
07 Apr

Indonesia Cup Tasters Championship 2014

By / on Coffee Event

Cup tasting atau cupping adalah salah satu proses penting dalam perjalanan kopi dari budidaya hingga tersaji di cangkir dan siap diminum oleh para penikmat. Proses inilah yang menerjemahkan citarasa ke dalam bahasa untuk menjelaskan masing-masing karakter kopi yang berbeda.

Indonesia Cup Tasters Championship 2014 adalah kompetisi pertama yang memberi penghargaan kepada para coffee cupper profesional yang mampu menunjukkan kecepatan, keahlian, dan akurasi dalam menemukan perbedaan citarasa setiap kopi spesial (specialty coffee). Kejuaraan ini diadakan bebarengan dengan Indonesia Latte Art Championship 2014 pada tanggal 6 – 8 Maret 2014 di Nusa Dua Convention Center, Bali.

Cup Taster collage

Dalam kompetisi uji citarasa kopi ini obyektifnya adalah menentukan kopi yang berbeda. Tiga gelas kopi diletakkan berdekatan membentuk segitiga dengan dua gelas berisi kopi yang identik dan satu gelas berisi kopi yang berbeda dengan dua gelas lainnya. Dengan menggunakan kepekaan indera penciuman dan pengecap, juga kemampuan berkonsentrasi dan pengalaman, para cupper akan mengidentifikasi satu gelas yang berbeda dalam segitiga tersebut secepat mungkin. Total ada delapan set segitiga yang diletakkan di depan masing-masing kompetitor di setiap putaran.

Delapan kompetitor dengan jawaban benar paling banyak dan waktu tercepat akan maju ke putaran semifinal. Ketatnya persaingan dan keseruan kompetisi makin terasa di setiap putaran. Apalagi di babak semifinal, semua kompetitor meraih nilai sempurna karena mampu mengidentifikasi semua kopi yang berbeda dari setiap set yang ada. Kompetitor yang berhak maju ke babak final akhirnya hanya ditentukan berdasarkan empat posisi teratas dengan waktu tercepat. Empat kompetitor teratas ini akan bertanding lagi di putaran final untuk menentukan jawara Indonesia Cup Tasters 2014.

ICTC2014 score

Klimaks dari acara yang berlangsung selama tiga hari ini adalah ketika Vito Adi dari Sensa Koffie berhasil mengungguli pesaing-pesaingnya dengan nilai sempurna. Meskipun bukan yang tercepat, tetapi karena Vito bisa menentukan kopi yang berbeda dari setiap set tanpa ada kesalahan sedikitpun, maka gelar juara Indonesia Cup Tasters Championship 2014 pun menjadi miliknya.

Vito Adi dan Uden Banu di final.

Vito Adi dan Uden Banu di final.

Berikut ini adalah hasil final ICTC 2014 secara lengkap:

  1. Vito Adi Tjandra Surja dari Sensa Koffie dengan skor 8
  2. Sugiarto Nenobais dari Independent dengan skor 7
  3. Resianri Triane dari Anomali Coffee dengan skor 7
  4. Uden Banu dari Klasik Benas dengan skor 5
Vito Adi (kiri) dan Sugiarto (kanan) mendapatkan hadiah atas kemenangan di ICTC 2014.

Vito Adi (kiri) dan Sugiarto (kanan) mendapatkan hadiah atas kemenangan di ICTC 2014.

Dengan kemenangannya, selain mendapatkan piala dan hadiah uang tunai dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia sebagai panitia, Vito Adi juga berhak mewakili Indonesia di ajang internasional, World Cup Tasters Championship 2014. Kejuaraan dunia ini akan diselenggarakan pada tanggal 15 – 18 Mei 2014 di Melbourne. Mari kita doakan semoga Vito Adi bisa menjadi juara WCTC 2014! Amin.

READ MORE
ILAC2014stage
17 Mar

Indonesia Latte Art Championship 2014

By / on Coffee Event

Merupakan sebuah momen yang membanggakan ketika pada bulan Oktober tahun 2013 yang lalu, Bali dapat menjadi tuan rumah sebuah pertemuan tingkat tinggi para pemimpin seAsia-Pasifik. Tahun ini, menempati lokasi yang sama dengan pertemuan APEC, tepatnya di Bali Nusa Dua Convention Center, pada tanggal 5 hingga 8 Maret 2013 yang lalu diadakan sebuah kompetisi nasional mempertandingkan keahlian membuat latte art yang pertama di Indonesia. Sebuah gelaran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia.

Mendarat di Bandara Ngurah Rai pagi hari pada tanggal 5 Maret, saya bergegas menuju lokasi acara di Nusa Dua dengan rute melewati tol di atas laut. Sebuah struktur megah yang awalnya dipersiapkan sebagai jalur bebas hambatan bagi para peserta konvensi APEC 2013. Tol Ngurah Rai – Nusa Dua ini merupakan salah satu karya asli Indonesia yang pantas menjadi kebanggaan bangsa.

Setibanya di Bali Nusa Dua Convention Center saya langsung berbaur dengan para sukarelawan dan panitia untuk membantu menyiapkan babak pertama Indonesia Latte Art Championship 2014.

5 Maret 2014 jam 15.00 – 17.00 – ART BAR STAGE

ArtBarILAC2014

Di babak ini, 24 orang kontestan yang sudah disaring dari 60an orang pendaftar berdasarkan video latte art yang diunggah melalui YouTube, memiliki kesempatan sepanjang 10 menit untuk membuat satu cangkir latte art terbaik. Hasil terbaik dari masing-masing kontestan tersebut kemudian difoto untuk kemudian dinilai oleh para juri. Ini bukan babak eliminasi, jadi tidak ada peserta yang tersingkir. Sayangnya pada babak ini ternyata tidak semua kontestan dapat hadir dengan lengkap. Ada satu orang yang tidak hadir dan membatalkan keikutsertaannya sehingga total peserta ILAC 2014 yang bertanding di Bali adalah 23 orang.

6 Maret 2014 jam 11.00 – 15.00 WITA – ELIMINATION STAGE DAY 1

Bezzera Galatea

Panasnya cuaca di Nusa Dua tidak menyurutkan semangat baik panitia maupun peserta untuk menyukseskan gelaran bergengsi ini. Saya menyebut ILAC 2014 ini gelaran bergengsi karena juaranya akan diberangkatkan ke Melbourne, Australia, mewakili Indonesia dalam ajang World Latte Art Championship 2014. ILAC 2014 juga mendapatkan validasi dari WLAC sehingga membuka jalan kontestan Indonesia untuk berpartisipasi di World Latte Art Championship tersebut. Hadir sebagai perwakilan dari WLAC, Emma Markland Webster yang berasal dari New Zealand.

Di tahap eliminasi hari pertama, 12 orang akan beraksi di hadapan juri, menunjukkan kemampuan teknik dan imajinasi mereka dalam seni menuangkan susu di atas espresso. Para kontestan akan dinilai dari segi teknik pembuatan espresso dan visual dari latte art yang dibentuk di atas cangkir.

ILAC 2014 yang diadakan bersamaan dengan acara Food, Hotel, & Tourism expo 2014 ini menarik cukup banyak perhatian pengunjung expo, selain para coffee enthusiast yang memang datang khusus untuk menonton kejuaraan latte art nasional pertama ini. Terlepas dari cuaca yang panas, karena lokasi yang berada di area semi outdoor, para penonton dapat menyaksikan aksi para barista dengan baik, terutama pada saat tangan terampil mereka menari, menuangkan susu di atas espresso. Ini dimungkinkan karena adanya kru video yang merekam secara close-up dan ditayangkan langsung di dua LCD TV yang ditempatkan di bagian kiri dan kanan panggung kompetisi.

Bersamaan dengan kompetisi latte art ini sebenarnya digelar juga Indonesia Cup Taster Championship 2014. Seperti halnya ILAC, ICTC juga merupakan kejuaraan cup taster yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Detil cerita mengenai ICTC 2014 akan saya tuturkan dalam artikel blog berikutnya.

MC yang cantik dan interaktif membawa cair suasana. Ditambah lagi dengan segmen unjuk kemampuan para barista langsung di depan para penonton. Jadi setelah para barista tersebut selesai bertanding di panggung, MC akan meminta mereka untuk turun panggung dan membuat latte art di hadapan penonton. Terkadang penonton juga ditantang untuk ikut membuat latte art dengan iming-iming hadiah merchandise.

7 Maret 2014 jam 10.00 – 15.00 WITA – ELIMINATION STAGE DAY 2

VikiWarkopSruput

Di tahap eliminasi hari kedua hanya ada 11 peserta yang bertanding untuk meraih poin tertinggi. Dibekali dengan mesin Espresso Bezera Galatea dan Anfim sebagai grindernya, masing-masing peserta diberi kesempatan 5 menit untuk persiapan dan kemudian 6 menit untuk membuat 4 cangkir kopi berhiaskan tuangan susu yang dibentuk sedemikian rupa. Empat cangkir tersebut terdiri dari dua pasang cangkir dengan gambar yang identik. Untuk membuat latte art, peserta diperbolehkan menggunakan dua teknik yaitu free pouring dan free design. Untuk menambah tingkat kesulitan, sebelumnya setiap peserta diharuskan menunjukkan foto latte art yang akan dibuat kepada juri. Peserta kemudian harus membuat model latte art yang sama dengan yang ada di foto tersebut.

Kompetisi berjalan seseru hari pertama, dan penampilan pamungkas dari Aga (Tanamera Coffee) berhasil mencuri perhatian banyak penonton termasuk saya.

7 Maret 2014 jam 16.00 WITA – FINALISTS ANNOUNCEMENT 

Bagaimanakah akhirnya peta pertarungan setelah keduapuluhtiga peserta ILAC 2014 usai berlaga di babak eliminasi? Hanya enam kontestan dengan nilai tertinggi yang akan maju ke babak final. Dari atas panggung, ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia mengumumkan keenam finalis tersebut. Inilah nama-namanya:

  1. Arief Rachman dari My Kopi O!, Surabaya.
  2. Fiki Irama Nur Rahardja dari Warung Sruput, Jakarta.
  3. Iqbal Fadilah dari Noah’s Barn, Bandung.
  4. Iwan Setiawan dari Pandava Coffee, Jakarta.
  5. Mimi Alawiyah dari Anomali Coffee, Jakarta.
  6. Muhammad Aga dari Tanamera Coffee, Jakarta.

ILAC 2014 Finalists

8 Maret 2014 jam 10.00 – 15.00 WITA – FINAL STAGE!

ILAC2014Final

Masih dengan prosedur dan aturan yang sama, enam finalis bertarung di hari terakhir ILAC 2014 memperebutkan hadiah uang tunai lima juta rupiah dan tiket ke Melbourne untuk bertanding di World Latte Art Championship 2014. Transportasi dan akomodasi ke WLAC 2014 ditanggung sepenuhnya oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia.

Mungkin karena persiapan yang matang, hampir semua finalis terlihat tampil dengan percaya diri dan tenang, meskipun ada sedikit ketegangan yang tersirat di balik senyum mereka ketika bersalaman dengan para juri.

Dan siapakah yang akhirnya menjadi sang juara?

ILAC2014Champion

Keputusan juri secara mutlak akhirnya menganugerahkan gelar Juara Indonesia Latte Art Championship 2014 kepada Iwan Setiawan dari Pandava Coffee. Iwan mendapatkan nilai total 322, tertinggi dari keenam finalis, dan berhak mewakili Indonesia ke Melbourne pada tanggal 15 – 18 Mei 2014 untuk bertanding di World Latte Art Championship. Berikut ini adalah peringkat akhir di final ILAC 2014

  1. Iwan Setiawan (322 poin)
  2. Muhammad Aga (313 poin)
  3. Iqbal Fadilah (297,5 poin)
  4. Mimi Alawiyah (277 poin)
  5. Fiki Irama Nur Rahardja (256 poin)
  6. Arief Rachman (254,5 poin)

Selamat untuk Iwan Setiawan dan maju terus dunia kopi Indonesia!

[No pictures in galley] READ MORE
01 Nov

1/15 Aeropress Competition

By / on Coffee Event


Mungkin sebelum saya menyajikan liputan mengenai kompetisi ini, ada baiknya Anda mengetahui apa itu Aeropress. Ditemukan pada tahun 2005 oleh Alan Adler, Aeropress merupakan sebuah alat seduh berbentuk seperti alat suntik raksasa. Saat ini Aeropress mulai populer digunakan oleh para penikmat kopi karena sederhana dan mudah digunakan dengan berbagai cara. (more…)

READ MORE
26 Mar

IBC 2013 Jakarta: Kebanggaan Menjadi Seorang Barista

By / on Coffee Event

Enam puluh orang barista terdaftar dan siap berkompetisi di sebuah ajang dua tahunan Indonesian Barista Competition 2013. Tepatnya di IBC 2013 babak eliminasi Jakarta yang dimulai pada tanggal 22 – 24 Maret 2013 di atrium Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Jakarta merupakan kota terakhir dari rangkaian babak eliminasi di berbagai kota, setelah sebelumnya digelar di Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. (more…)

READ MORE
26 Jan

Brewing for Charity (bagian 2)

By / on Coffee Event

Setelah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, dan Body, mari kita lanjutkan membahas:

Balance, didefinisikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek: flavor, aftertaste, acidity, dan body dari sampel kopi. Jika ada komponen yang begitu dominan maka aspek balance akan dinilai lebih rendah.

Sweetness mengacu pada ada tidaknya rasa manis yang muncul dalam kopi. Buat orang awam mungkin agak aneh ya, perasaan rasa kopi tanpa gula itu pahit saja tapi kok bisa ada aspek sweetness yang dinilai? Menurut SCAA, persepsi rasa manis tersebut muncul karena adanya senyawa karbohidrat tertentu di dalam kopi.

Clean Cup, dievaluasi dengan memperhatikan keseluruhan citarasa sejak awal kopi diseruput hingga melewati kerongkongan atau diludahkan. Munculnya rasa atau aroma apapun selain kopi (misalnya aroma apek, rasa sabun, atau minyak) bisa mendiskualifikasi sampel kopi.

Uniformity mengacu pada konsistensi rasa dari cangkir yang berbeda untuk sampel yang sama. Protokol standar SCAA menyebutkan bahwa untuk satu sampel kopi harus dibuat paling tidak sebanyak 5 cangkir. Namun karena di kegiatan cupping kali ini untuk satu sampel hanya dibuat satu cangkir (paper cup) maka penilaian di aspek ini diabaikan.

Selain kedelapan aspek penilaian di atas sebenarnya ada lagi aspek lain yang dinilai yaitu Overall dan Defects. Tapi jujur saya belum mengerti apa maksud dari istilah tersebut dan bagaimana cara mengevaluasi dan memberikan penilaian. Mas Arif hanya menerangkan bahwa nilai di kolom Overall merepresentasikan preferensi kita terhadap masing-masing sampel kopi. Sampel kopi yang kita sukai akan diberi nilai lebih tinggi dibanding sampel kopi lain yang kurang atau tidak kita sukai. Sedangkan untuk aspek Defects sepertinya luput dijelaskan oleh Mas Arif. Namun jika membaca di SCAA Protocols untuk cupping, penjelasan mengenai aspek Overall dan Defects jauh lebih detil daripada itu dan cukup sulit untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Jadi mengenai Overall dan Defects infonya nanti akan saya update lagi kalau sudah berhasil mengerti. 😀

Waktu dua jam yang digunakan untuk belajar cupping di acara Brewing for Charity terasa sangat cepat berlalu. Saya merasa masih belum berhasil dalam memberikan penilaian yang sesuai untuk masing-masing kopi yang saya cicipi, tetapi setidaknya pengetahuan saya dan juga teman-teman yang lain tentang kopi sedikit bertambah. Untuk bisa melakukan cupping dengan benar memang perlu latihan rutin dan percaya dengan indera penciuman dan pengecap kita sendiri.

Oh iya, di akhir sesi semua peserta diminta menebak asal dari kopi berlabel A, B, dan C tersebut. Tebakan saya: A = Sumatera, B = Bali, C = Papua (walaupun kurang yakin rasa kopi Papua seperti itu). Nah, jawaban yang benar adalah: A = Sumatera, B = Bali, dan C = Toraja. 😉

READ MORE
25 Jan

Brewing for Charity (bagian 1)

By / on Coffee Event

Lupakan dulu mengenai cara memberikan nilai yang merepresentasikan kualitas untuk masing-masing kopi yang ada di dalam gelas kertas di atas meja. Buat peserta acara cupping yang sebagian besar awam, mengerti istilah-istilah yang ada di lembar penilaian kopi dengan standar SCAA (Specialty Coffee Association of America) saja sudah sulit. Tapi penjelasan dari Mas Arif, trainer dari Anomali Coffee, bukannya tidak perlu disimak, anggap saja untuk menambah pengetahuan. Hal yang paling penting dari belajar cupping kali ini adalah untuk menyelami keunikan kopi sedikit lebih dalam lagi, lebih dari sekedar memilih kopi mana yang enak dan tidak enak sesuai selera kita.

Tiga gelas kertas yang disajikan di depan masing-masing peserta cupping session berisi bubuk kopi dari tiga daerah penghasil kopi yang berbeda di Indonesia. Dilabeli dengan huruf A, B, dan, C, masing-masing kopi ini punya karakteristik yang berbeda meskipun sama-sama asli Indonesia. Selain itu cupping form dan sebatang pena disediakan agar ketiga kopi tersebut bisa dinilai citarasanya. Komponen-komponen yang ada di dalam cupping form yang mengambil standar SCAA adalah Fragrance/Aroma, Flavor, Aftertaste, Acidity, Body, Balance, Uniformity, Clean Cup, dan Sweetness.

Fragrance/Aroma menilai aspek aromatik kopi. Fragrance didefinisikan sebagai bau dari bubuk kopi saat belum diseduh. Aroma didefinisikan sebagai bau kopi ketika diseduh dengan air panas.

Flavor merepresentasikan karakter utama kopi. Penilaian untuk flavor memperhitungkan intensitas, kualitas, dan kompleksitas dari kombinasi rasa dan aroma yang bisa dinikmati ketika menyeruput kopi . Bahasa mudahnya menurut Mas Arif adalah menilai kekayaan rasa kopi.

Aftertaste didefinisikan sebagai rasa yang tersisa di langit-langit bagian belakang dari rongga mulut setelah kopi diminum. Jika ada rasa yang kurang menyenangkan maka penilaiannya lebih rendah.

Acidity menilai tingkat keasaman kopi. Pada tingkatan yang pas, keasaman bisa membuat kopi terasa menyenangkan, manis, dan berkarakter buah segar. Tingkat keasaman kopi yang terlalu intens akan terasa kurang menyenangkan meskipun kembali lagi pada selera pribadi. Masing-masing kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sendiri punya karakter keasaman yang berbeda. Kopi dengan karakter keasaman yang tinggi seperti kopi Bali bisa saja memiliki skor yang sama tinggi dengan kopi Sumatera dengan karakter keasaman yang rendah. Skor akhir acidity harus menggambarkan kualitas keasaman yang dirasakan penguji relatif terhadap rasa yang diharapkan berdasarkan karakter asal kopi dan atau faktor lainnya.

Body mungkin bisa didefinisikan dengan kelekatan atau viskositas. Karakter ini bisa dirasakan dengan mendiamkan kopi beberapa saat di rongga mulut dan kemudian menggosokkan lidah ke bagian langit-langit rongga mulut. Body memiliki tingkatan dari thin, light, hingga heavy sebagai representasi dari kandungan lemak dalam kopi.

(bersambung…)

READ MORE
07 Jan

Coffee Day di Atamerica

By / on Coffee Event

Saya memperhatikan diskusi tentang kopi makin marak di Jakarta, baik yang diadakan oleh komunitas maupun kedai kopi sendiri dalam rangka mengedukasi pelanggannya. Berbicara tentang kopi memang sangat menarik apalagi jika ditelusuri prosesnya dari kebun hingga ke cangkir. Diskusi kopi yang dibuka untuk umum tentunya akan semakin membuat para penikmat kopi awam (seperti saya) semakin menyadari bahwa apa yang tertuang di cangkir saya adalah sebuah hasil karya kolektif. Selayaknya sebuah hasil karya, penghargaan terhadapnya tentu akan membuat yang berada di balik karya tersebut terpacu untuk terus memberikan yang terbaik.

Salah satu diskusi kopi menarik baru-baru saja diadakan oleh @america, sebuah pusat kebudayaan Amerika yang berlokasi di mall Pacific Place. Mengambil judul Coffee Day, diskusi kopi ini menampilkan sosok yang memiliki passion besar terhadap dunia kopi dan sudah berkutat lama di dalamnya. Dia adalah Mirza Luqman Effendi (@mirzaluqman), Learning Specialist dari Starbucks Coffee Indonesia.

Bahan diskusi yang diangkat Mas Mirza cukup ringan dicerna karena disesuaikan dengan audience. Informasi tentang tanaman kopi, cara panen dan pengolahan, roasting, hingga praktik menyeduh kopi yang mudah dan praktis disajikan dengan menarik.

Audience antusias mengikuti dan banyak pertanyaan menarik dilemparkan. Dari jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut bisa kita ketahui bahwa perlakuan terhadap kopi dari setiap prosesnya akan menentukan hasil akhir di cangkir. Masing-masing metode yang diterapkan bisa menghasilkan rasa kopi yang unik. Hasil akhir yang terbaik pun bisa berbeda-beda bagi tiap orang karena lidah dan selera juga berbeda. 😀

Pada akhirnya kesimpulan yang bisa diambil adalah, mengutip dari kata-kata Mas Mirza, bahwa kopi itu lebih layak untuk dinikmati daripada diperdebatkan. Pastinya tidak sekedar menikmati, tapi juga menghargai kopi Indonesia dan bersama-sama menjaga dan meningkatkan kualitasnya.

 

READ MORE
16 Sep

Starbucks VIA

By / on Coffee Event

 

Instan, siap seduh, ready to brew. Starbucks VIA akhirnya hadir juga di Indonesia, memberikan kemudahan bagi para penggemar kopi berkualitas. Tinggal sediakan air panas, sobek sachetnya, serbuk microground hasil riset selama lebih dari 20 tahun siap memberikan pengalaman ngopi yang mendekati rasa dari fresh brewed coffee. Boleh juga ditambah gula atau susu.

Tersedia dalam dua varian, Colombia (smooth, nutty flavour) dan Italian Roast (rich, roasty sweet flavour). Saya baru mencicipi yang varian Colombia, ditambah susu dan brown sugar. Rasanya enak, mirip Nescafe tetapi dengan rasa kopi yang lebih menonjol.

Soal harga? Starbucks VIA Ready Brew bisa dibeli di seluruh gerai Starbucks Indonesia mulai tanggal 13 September dengan harga Rp 25ribu (3 sachet) dan Rp 88ribu (12 sachet). Harga premium untuk kualitas kopi instan premium.

 

READ MORE
13 Jun

Coffee Talk

By / on Coffee Event
[popeye]Siapa menyangka acara Coffee Talk di Living World, Alam Sutra, hari Sabtu kemarin diadakan di Informa. Pantas saja walaupun sudah mengelilingi mall sampai pusing tidak ketemu juga kedai Starbucks, lha wong memang tidak ada. Salahkan undangan yang kurang jelas. :))

Coffee Talk kali ini memang tidak diadakan di Starbucks, Mas Mirzaluqman (Starbucks) berbagi cerita tentang kopi untuk pengunjung Informa ditemani dengan Pak Toni Wahid. Karena sebagian besar pengunjung adalah orang yang awam tentang kopi (termasuk saya), maka bahasan yang diangkat oleh Mas Mirza dan Pak Toni juga yang ringan-ringan saja.

Pada dasarnya setiap orang memiliki kopi terenaknya masing-masing. Namun setidaknya untuk menyeduh kopi yang enak ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu: proporsi (kopi dan air), gilingan (grind), air, dan kesegaran (biji kopi). Saya tak hendak membahas panjang lebar mengenai empat hal tersebut. Kunjungi saja blog Pak Toni untuk menimba ilmu lebih banyak tentang kopi. 🙂

READ MORE