23 Nov

Episode Braga

By / on Cafe Story , My Imagination

Braga Huis, Bandung. 2012.

READ MORE
05 Apr

Pengertian kita

By / on My Imagination

P1010071-1

Teringat sembab matamu di sore tadi saat kubiarkan saja kamu menampung sedihmu sendiri. Sebab aku tak juga tahu apa yang mestinya kuperbuat. Apa yang sepantasnya diutarakan biar terurai dan sampai padamu, bahwa Cintaku selalu ada dan penuh. Menjadi kafein yang mengalir di buluh nadi malam ini. Menjaga mataku nanar menghitung waktu yang menenggelamkan malam. Menyibukkan isi kepalaku membolak-balik halaman memori. Mencari jawaban di mana letak kesalahpahaman. Pengertian kita bersimpang jalan. kuhela nafas

READ MORE
10 Mar

Cemburu rembulan

By / on My Imagination

vladstudio_thetwoonthemoon_1152x864

Subuh sedang meregang, sebentar lagi hilang.
Semalam bulan yang cemburu merutuki neon, manusia sudah tak peduli lagi, katanya.
Kubilang saja,
Aku masih peduli. Semalam aku tidak ikut merubungi neon itu.
Sang rembulan melengos. Kamu hanya sibuk melamun saja, katanya. Tidak peduli. (more…)

READ MORE
18 Feb

Esok kita…

By / on My Imagination

Dinda..

Dinda bangun!

Dengarkan aku, kita telah berhasil membutakan mata badai yang mengamuk semalam. Kini hanya tersisa ekornya yang membuntuti di buritan, membawa bahtera kita melaju. (more…)

READ MORE
29 Dec

Bayangmu tenggelam di Labuan Bajo

By / on My Imagination

Lontar Palm Trees 2 (Rinca)

Matahari dengan benderangnya menyirami savanna yang menghampar seluas mata memandang. Inilah negeri para Naga. Kerajaan mereka adalah pulau dengan bukit-bukit terjal berwarna hijau yang dipayungi pohon-pohon lontar.

Loh Buaya, gerbang kerajaan Naga. Aku mengikuti jejak Ranger yang bersenjatakan tongkat kayu bercabang dua di ujungnya menyusuri Pulau Rinca. Memasuki hutan, mendaki bukit, dan melintasi savanna yang luas. Sungguh, bentang alam pulau ini adalah mahakarya dari Sang Pencipta. Sebuah kerajaan yang megah untuk Ora, putri buruk rupa yang berwujud Komodo.

View-1

Langit jernih membiru, ada guratan imajiner membentuk wajahmu.

Mengapa baru sekarang mimpiku terwujud? Kenapa tidak waktu kita masih bersama? Tentu kamu bisa mengajakku berlari menjelajah seluruh sudut Rinca dan menggendongku kala kakiku lelah.

Sang Ranger membuyarkan lamunan ketika menghentikan langkahnya tiba-tiba. Sepuluh meter di depan seekor komodo betina terlihat sedang mengerat seekor rusa yang tergeletak bersimbah darah. Kamera langsung beraksi, sebuah adegan langka yang mungkin tidak selalu bisa ditemui oleh wisatawan yang berkunjung ke sini.

images

Real dragons spurt no fire, have no need to fly and cast no magic spells. And still, one look from them might render you speechless.

Ini adalah dunia tersendiri, sempurna untuk melepaskan diri dari pelik masalah yang membebaniku selama setahun terakhir. Setelah sekian lama memasung setia ternyata waktu tak mengijinkan prinsip kita untuk dipertemukan.

Sebutir peluh menetes dari kening, kulihat matahari di atas sana memanjat perlahan tapi pasti. Agak menyesal juga aku memilih jalur panjang untuk trekking. Masih ada perjalanan sekitar satu setengah jam lagi untuk diselesaikan.

Riuh rendah suara binatang liar dan penampakannya menghibur sepanjang perjalanan. Mengundang hasrat untuk terus bermain di balik jendela bidik, selain juga mengamankan dahsyatnya panorama ke dalam imaji digital.

Kembali ke pondok Ranger tengah hari, bersama beberapa anggota rombongan wisata aku menikmati nasi bungkus yang dibawa dari penginapan. Seraya melahap nasi, kami saling mengungkapkan kekaguman akan keindahan surgawi pulau ini. Sempat membahas juga mengenai new seven wonders, dan aku menganggap taman nasional ini layak menang.

dermaga_rinca

Setelah selesai makan siang semua anggota rombongan diminta untuk kembali ke kapal.

Dermaga sederhana dengan air laut sebening kristal di bawahnya mengantarkan aku ke dek kapal. Berlayar ke arah timur laut, tujuan berikut adalah Pulau Bidadari sebelum kembali ke Labuan Bajo.

~~~

Pasir putih di pantai disapu riak-riak ombak kecil, di horizon nampak relief kasar daratan Flores. Anak-anak kecil terjun dari perahu, berenang di jernihnya air laut yang bergradasi dari hijau ke biru.  Riangnya anak-anak itu berkecipak kesana kemari mengungkap bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah hal yang sederhana.

bidadari

Tuhan sudah memberi begitu banyak. Karir yang mapan, penghasilan bagus, teman-teman yang baik… banyak sekali termasuk hadirnya kamu. Lalu aku merasa kebahagiaanku diambil paksa ketika kamu harus pergi.

Angin yang tiba-tiba berhembus kencang menghentikan langkahku menyusuri bibir pantai. Kutengok ke belakang dan kulihat teman-teman rombongan sudah selesai berscubadiving. Sengaja aku tidak bergabung dengan mereka. Berjalan kaki selalu bisa menyembuhkan gundah gelisah. Meninggalkan jejak-jejak kaki di Pulau Rinca dan Bidadari bisa menyembuhkan luka hati.

Aku kembali ke daratan Flores ketika matahari tergelincir di buritan kapal. Semburat warna jingga mewarnai langit Pulau Bidadari yang semakin lama hanya terlihat sebagai siluet hitam. Uh, terbayang sudah sapo tahu La Veria di Pantai Pede, Labuan Bajo. Jalan-jalan membuat perut cepat lapar.

~~~

thiiiskomodoislandnationalpark_1

Aku ingin bayangmu tenggelam seperti matahari yang perlahan padam di Labuan Bajo.

Aku tidak pernah menduga akan bisa memintanya, seperti tidak pernah kurencanakan akan kujejakkan kakiku di teluk yang tenang ini. Merapat di dermaga yang panjang, ada sebuah perasaan damai menyelimuti. Tiba saat mengerti bahwa perjalanan hidup adalah misteri yang indah untuk dikuak. Yang kita perlukan hanya keberanian menghadapi apapun yang terjadi.

Di perjalanan kali ini aku memahami, mensyukuri, dan membebaskan diri bahwa aku pernah mencintaimu sebagai suamiku dengan sepenuh hati. Jika bisa kubingkai kenangan itu mungkin sudah kutenggelamkan di ujung dermaga Labuan Bajo bersama senja hari ini.

Ya, dokumen perceraian itu harus kutandatangani malam ini juga.

Lepaskanlah seluruh dukamu. Waktu pun berganti. Kau akan pahami ~KLa Project~

image source:

http://www.indonesia.travel

http://www.floreskomodo.com

http://baltyra.com/2010/08/07/labuan-bajo-pulau-rinca/

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5960039

http://lombokgilis.com

READ MORE
07 Oct

Pemburu bintang

By / on My Imagination

Position_Alpha_CenAl terpekur di sudut kamarnya, ia biarkan kamarnya benderang tak seperti biasanya, karena malam ini ia memang sedang ada di bumi, tak seperti biasanya. Dia biarkan suara televisi dan radio bersahut-sahutan di sudut lain, memang sengaja ia biarkan menyala dengan volume yang bisa sedikit mengganggu pendengaran tetangga sebelah. Tetapi sepertinya tidak ada yang peduli, karena Al, TV, dan radionya sudah dalam keadaan begitu selama berjam-jam, dan belum ada yang mengetuk pintunya dan memamerkan muka yang jelek karena kesal. Sebenarnya Al tidak bermaksud membuat tetangga sebelah kamarnya kesal. Dia hanya merasa takut, Al takut malam ini dia akan ketahuan orang lain jika sampai menangis tersedu-sedu atau mungkin sampai bergulung-gulung dan meraung-raung. Tapi air mata itu tak sebutir pun ada yang berniat untuk keluar dari kedua matanya, padahal sedari tadi dia sudah meringkuk di sudut kamar dengan wajah tertunduk, harusnya bulir-bulir air itu tunduk pada hukum gravitasi.

Sebenarnya Al memang sama sekali bukan lelaki cengeng. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya menangis sesenggukan adalah jika rindu dengan ibunya di kampung halaman. Tetapi kali ini Al merasa bahwa ia berhak untuk menangis. Mungkin hal itu bisa sedikit mendamaikan perasaannya. Pemburu bintang itu kini telah menyadari bahwa cinta memang tak bisa dipetik sesuka hati, cinta memilih takdirnya sendiri.

Sungguh Al ingin terbang ke Alpha Centaury, bintang favoritnya di langit selatan, menumpahkan galau rindu. Tapi ia baru saja kembali dari sana membawakan segenggam debu bintang paling terang untuk seorang perempuan yang namanya selalu menghentak-hentak dadanya, yang senyumnya selalu menghangatkan hatinya. Perempuan yang juga kemudian membuatnya jadi cengeng sekarang.

Maia membuka kantung katun putih yang Al berikan hingga berpendar cahaya bintang yang diambil dari kaki sang centaurus itu. Tersenyumlah sang gadis dari balik bingkai jendelanya.

“Thanks Al, kantung bintang ini sangat spesial buatku. Kamu memberi aku simbol sebuah pengorbanan manusia biasa yang begitu luar biasa untuk menyanjung cinta….”

Al nanar, cemas menanti Maia menyelesaikan kalimatnya.

Tapi kamu bukan manusia biasa, Al. Kamu pemburu bintang.

“Jadi, aku belum pantas dihadiahi cintamu?”

Maia mengecup kening Al.

“Maaf, Al. Hatiku sudah berlabuh pada karibmu. Dia menghadiahiku saputangan lusuh dari rantau seminggu yang lalu.”

image source

READ MORE
22 Sep

Sampai nanti, tak usah menanti

By / on My Imagination

sosin_leadJakarta yang dilabur hujan, ketika orang-orang sudah terbebas dari kubikel-kubikel. Halte ini dipenuhi mereka, yang dengan rela menjalani garis waktu berulang setiap matahari berganti. Dan petang ini, peluh keikhlasan mereka dihadiahi hujan yang aromanya memadamkan lelah. Aku tersenyum, tak sanggup rasanya bergabung dengan kerumunan itu. Kerumunan yang mengalir pelan menuju pintu bis-bis yang akan mengantarkan hingga tiba di rumah-rumah hangat. Maka berdiamlah aku di satu sudut yang kosong. Mungkin seperti pengecut yang menolak maju berperang. Persetan! Biarlah kamar kos menunggu kepulanganku lebih malam. Sesekali hujan mungkin asyik untuk dikencani dalam halte busway.

Kaca sudut halte yang basah oleh bulir-bulir air. Di sela detik yang malas ku coba menangkapnya tapi, hei…! Tak sopan sekali kaca bening ini jadi penyekat di antara kami! Hujan pun urung bisa kuremas dengan mesra. Kuketuk kaca dengan punggung telunjukku. Sebutir kristal yang melekat padanya luruh.

Seketika aku melihat bayang kristal-kristal yang meluruh di pipinya kemarin malam, ketika hidup mengharuskan kita untuk memilih dan berkompromi.

Sekarang bulan September tahun 2010. Hujan tak jua berhenti menyambangi. Bagaimana bisa dia turun dari langit Jakarta sepanjang tahun ini? Siapa yang meminta? Bisakah aku juga ikut meminta? Meminta supaya tetap bisa menghirup udara Jakarta. Atau meyakinkan hati bahwa jalan ini adalah awalnya?

Sebab hidup yang ada di benakku tak sesederhana ucapanmu dalam kencan malam yang lalu.

“Tidak ada yang perlu dirisaukan. Aku akan menunggu hingga jemariku kamu genggam kembali. Pada-Nya akan kumohonkan keselamatan dan kegemilanganmu selalu.”

Di sempurnanya bulat bola matamu aku berkaca. Ada yang berkecamuk dahsyat memantul sebagai gambar bergerak. Aku tahu itu adalah aku yang memilih diri sendiri sebagai musuh, bertarung melawan pertarungan yang salah. Lalu ketika bening itu pecah berkecai-kecai aku tersadar bahwa kamu juga sedang bertarung, demi aku. Jadi tidak pantas dielu-elukan kalau memang aku harus berjuang demi kita.

Dalam guyuran hujan semua yang ada di jalan terus merangsek maju meski tertinggal oleh lesatan waktu. Detikku masih merambat malas karena dunia lamunan menciptakan rotasinya sendiri. Hingga sebuah pesan cinta tanpa kata cinta sampai di layar Blackberry-ku.

“Jangan pulang terlalu malam. Besok penerbangan pertama bukan?”

Aku tersenyum, tersadar bahwa malam memang terus berjalan. Tiba-tiba aku merasa lupa kalau ada Tuhan di sepanjang waktuku berjibaku. Jodoh kita hadir atas perkenan-Nya. Tak usah menanti, berdoa saja cinta kita tidak disesatkan angin benua agar bisa kembali.

image source: Bill Sosin

READ MORE
07 Jun

Kepadamu, rinduku tak terucap

By / on My Imagination

kopi tubruk“Yem, mau nggak kalo kamu jadi pacarku?” tanyaku di suatu sore di antara gerimis Juni.

“Ya ampun Mas, mintanya kok ya aneh-aneh tho?”

“Bosen, Yem. Tiap kesini mintanya kopi item sama marlboro terus. Padahal yang ditawarin disini nggak cuman itu..”

“Maksudnya apa, Mas. Lha dagangan saya kan emang cuma kopi, sama rokok. Paling juga tambah gorengan.”

“Lha hampir tiap sore kesini aku liatnya bukan cuma itu thok kok, Yem..”

“Ah, Mas ini lho. Emang liat apa lagi?”

“Paras ayu-mu itu lho Yem. Tiap hari menawarkan mimpi. Apa ndak boleh aku pesen yang itu buat dibawa pulang?”

“Ealah Mas. Mbok coba Mas ngaca dulu. Sampeyan ini kurang apa tho? Orangnya baik, ganteng, necis, kerja kantoran, mestinya Mas itu cari pasangan yang sepadan.”

“Sepadan gimana, Yem? Yang tingginya sama maksudnya? Halah Yem, aku tu ndak minta yang aneh-aneh. Pokoknya aku cinta ya wis, langsung aja.”

“Langsung aja gimana? Lha kalo perempuannya ndak menyambut cinta sampeyan piye?”

“Hehe…”, aku cuma bisa nyengir sambil menyeruput hitamnya kopi. Alah Yem, bisa jatuh cinta beneran aku ini sama kamu yang lugas tuntas tanpa tedheng aling-aling. Apa adanya tanpa gagap kata. Aku tidak heran jika kedai kopi di pinggir jalan ini ramai pembeli. Semua obrolan pelanggan ditanggapi dengan ramah dan santai. Kamu selalu melayani mereka setulus hati, penting ataupun tidak penting-nya kedatangan mereka.

“Pelanggan itu rejeki dan rejeki nggak boleh ditolak, Mas.”

“ Yaaa..ya..ya..kamu bener, Yem. Kamu ini sebenernya nggak pantes buka warung kopi di belakang gedung-gedung tinggi ini. Di-makeover dikit kamu udah cocok jadi sekretaris bos.”

“Makeover itu apa tho, Mas?”

“Halah, makeover itu didandanin.”

“Halah, gombalmu, Mas.”

Aku terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang tadinya mengerenyitkan dahi tak mengerti jadi memonyongkan bibir tanda sebal.

Ah, Juni ini Juninya Sapardi. Hujan merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Rahasia sudah menjadi satu paket dengan kehidupan, menjadi pilihan ketika berkata jujur mungkin tidak akan menjadikan keadaan lebih baik. Kepada Iyem aku tidak punya rahasia, tapi aku berbohong waktu bilang ingin menjadikannya pacarku. Pada lain perempuan yang jadi pengisi lamunan, rindu kubiarkan tak terucap, lindap.

Jakarta yang basah, luruh cinta-cinta yang tak kesampaian, mengendap bersama ampas hitam yang terlupakan.

image source

READ MORE
31 May

Juni yang resah

By / on My Imagination

train stationDekat sini dekat denganku. Dekat pipiku, dekat telingaku, dekat rambutku. Dekat dadaku, dengar debar jantungku. Dengar gerimis mericik di luar jendela
Duh, kelabu mengapa masih singgah di awal Juni. Seperti resah yang menggelantungi . Seperti kata yang sudah basi. Hujan menghapus jejak, melarikannya ke selokan-selokan buntu. Membiarkanku kuyup dan bingung kelu. Maka dekatlah sini dekat denganku. Redakan gerimis yang di jiwaku
Asu!  hujan yang tak jua reda menahanku tinggal di Jakarta. Sedang kereta senja itu hanya lewat sekali saja.

image source

READ MORE
25 Apr

Merelakan kehilangan

By / on My Imagination

First Love resize

Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama yang di satu babak membuatmu tertawa namun pada sebuah babak yang lain ia memaksamu tersungkur menangisi kekalahan, coba ceritakan padaku: apa rasanya memeluk mimpimu dalam diam kemudian membiarkannya mati perlahan?
Bre, apa kabarmu sekarang?

Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama seperti katamu, maka anggaplah kabarku juga tak lebih dari sebuah tuntutan untuk berperan seperti orang yang berbahagia.

Apa dariku yang tidak dilihat oleh orang lain sebagai seseorang yang pantas berbahagia? Segalanya berjalan dengan sangat baik seolah dewi fortuna ketagihan setelah kucumbu dan rela memberikan apa saja demi kenikmatan yang tabu itu. Mengingatkan pada kisah kita dulu? Haha..

Ya setelah kejadian yang kacau waktu itu aku memang sempat terseok-seok mengumpulkan bagian-bagian diriku yang sebelumnya kugadaikan pada waktu untuk mendapatkan dirimu. Tidak mudah memang memintanya pada masa lalu, tapi kujanjikan padanya jika aku tidak bisa menjadi seseorang yang lebih baik di masa depan maka aku rela lebur bersamanya. Hilang.

Dan disinilah aku sekarang, dalam hidup yang bahagia seperti yang diucapkan orang-orang, merelakan sebuah kehilangan.

READ MORE