11 Jun

Dua jiwa, dua tahun, satu cinta

By / on My Story
[popeye]

Dua tahun adalah langkah kecil-kecil yang riang dalam satunya kita. Kadang tidak seirama tapi tujuan kita masih sama, memenuhi Janji Hati:

menerima beda dan memberi cinta sampai waktu selesai berlari

Istriku, selamat ulang tahun pernikahan kita yang kedua ya. I love you :*

READ MORE
06 Jun

Sam Po Kong

By / on My Story
[popeye]

Bolehlah kalo saya dibilang kuper, tapi memang baru kali ini saya mengunjungi klenteng Sam Po Kong di Semarang. Tepatnya bulan Mei kemarin saya menyempatkan diri menikmati bangunan megah yang merupakan petilasan seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Cheng Ho.

Cheng Ho beragama Islam tetapi kenapa petilasannya jadi klenteng? Entahlah, karena saya tidak tahu dengan jelas catatan sejarahnya.

READ MORE
04 May

#NIKAHBANGET

By / on My Story
[popeye]

Sang mempelai melangkahkan kaki satu demi satu berdampingan menuju pelaminan. Malam itu, 1 Mei 2011, hujan rintik-rintik di langit Jogja mengantar kebahagiaan mereka berdua. Selamat mengayuh biduk rumah tangga hingga akhir dunia. Pegang erat cinta kalian!

READ MORE
11 Apr

MIE

By / on My Story
[popeye]

Untaian mie yang dijemur di salah satu booth Indonesia Food & Hotel Expo 2011.

READ MORE
06 Apr

LANGIT-LANGIT

By / on My Story
[popeye]

Suatu sore di Pancious Pancake, Pacific Place Mall.

READ MORE
29 May

Tempirai

By / on My Story

Desa Tempirai

Foto ini saya temukan ketika sedang iseng membuka-buka file pekerjaan. Tahun 2009 saya sempat menjadi Geologist di sebuah perusahaan tambang dan ditempatkan di Sumatera Selatan. Suatu hari saya mendapat tugas menemani seorang konsultan dari Australia yang bekerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja untuk melakukan survey rute rencana pembuatan jalan angkutan batubara. Survey awal dilakukan dengan menggunakan helikopter untuk mengetahui alternatif mana yang paling memungkinkan dari beberapa alternatif yang telah dibuat.

Di udara, saya sempat memotret sebuah desa yang kemudian saya ketahui bernama Tempirai. Lihat! Ada yang unik di desa ini. Dari atas, rumah-rumah tampak seperti sebuah pusaran yang memusat pada satu masjid kecil beratap biru muda. Ah, keren…

READ MORE
14 Aug

diam!

By / on My Story

……….aku sedang menikmati senyap…………….

READ MORE
04 Aug

perjalanan

By / on My Story

And the risk that might break you
is the one that would save
A life you don’t live is still lost
So stand on the edge with me
Hold back your fear and see
Nothing is real ’til it’s gone

Sepotong lirik lagu dari Goo Goo Dolls berjudul Before It’s Too Late yang saya tuliskan di halaman pertama sebuah lembaran kertas bergaris yang masih kosong dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang, Semarang, 1 Agustus 2008. Tidak ada suatu benda spesial apapun yang saya bawa untuknya. Hanya sebuah buku catatan kecil dan sebatang pensil yang telah teraut tajam.

.

Dan ujung grafit itupun mulai menggoresi halaman-halaman kosong yang ada di pangkuan saya sesaat setelah gerbong kereta bergerak. Kereta api Argo Sindoro yang berangkat dari Gambir, gerbong 1, kursi dekat jendela. Warna langit ketika itu masih biru yang tak benar-benar biru ketika saya mulai menulis. Ada rasa ragu sebenarnya ketika hendak memulai. Malu apabila diperhatikan oleh penumpang lain yang duduk di sebelah serta guncangan di dalam kereta ini yang terasa cukup membuat tidak nyaman . Tapi tampaknya bapak separuh baya di sebelah saya sedang sibuk sendiri membaca sebuah buku, jadi dengan berusaha keras saya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan guncangan dan mulai konsentrasi mencoretkan kata.

.

Kereta bergerak, masih pelan karena di kiri kanan rel masih penuh dengan pemukiman dan persimpangan yang berpalang. Di atas kursi nomer 5A, Jakarta bagai slide foto yang diputar di layar kaca. Seperti slide foto juga memori yang ada di kepala saya urai. Kejadian demi kejadian saya tumpahkan di atas buku, lembar demi lembar. Tidak lengkap tapi membantu saya menuntun untuk menegaskan alasan perjalanan ini.

.

Buku catatan yang sudah saya beli dari sejak lama namun tak pernah terpakai dan sebatang pencil gratisan dari kantor ini memang sama sekali tampak tidak berharga untuk diberikan kepada seseorang perempuan yang istimewa. Tapi dengan ini saya mencoba untuk mendifinisikan kembali makna sebuah benda berharga. Buku dengan tulisan ceker ayam di dalamnya ini adalah saya. Saya dengan segala ketidaksempurnaan yang akhirnya melihat labuhan setelah sekian lama berlayar. Kalimat-kalimat yang terajut adalah semua keraguan dan pertanyaan yang timbul serta jawaban dan alasan yang saya temukan. Buku ini adalah perasaan saya yang dari jam ke jam semakin disesaki rindu yang terbendung oleh jarak.

.

Lalu roda-roda besi kereta yang setia pada relnya akhirnya sampai juga di Tawang. Dan ketika tatapan mata seorang perempuan jelita memaku langkah saya di depan pintu keluar, buku ini adalah sebuah surat permohonan ijin untuk bisa melangkah dan menetap di hatinya.

READ MORE
01 Aug

keberangkatan

By / on My Story

dalam sebuah rentang waktu yang sangat sempit menuju keberangkatan saya ke kota lain tiba-tiba terbetik satu keinginan untuk membubuhkan kata terlebih dahulu di jurnal online saya ini. satu penanda bahwa hari ini, untuk ke sekian kali dalam hidup saya mencoba untuk tidak berpikir akan sebuah ketakutan yang di hari-hari sebelumnya selalu saya seret dalam tiap langkah.

saat ini saya adalah pemula yang membayangkan begitu banyak kemungkinan di depan sana. antara tersungkur atau bisa menggenggam piala, bisa jadi peluang saya lebih besar pada kemungkinan yang pertama. meski nomer kursi pulang pergi telah saya genggam, tapi pada hakikatnya bagi saya yang akan saya lakukan ini adalah sebuah tiket sekali jalan. yang manapun kemungkinan baik ataupun buruk yang lebih besar, saya akan menjalaninya untuk menguji keberuntungan. karena buat saya keberuntungan tidak akan bersuara tanpa perbuatan.

jadi, inilah titik awal episode lain dari sebuah hidup yang ingin coba saya tuliskan. jika ketakutan ternyata tidak menghasilkan apa-apa, ada baiknya saya mencoba dan melihat bagaimana hasilnya.

READ MORE
22 Jul

Bahkan saya tidak tau harus memilih judul apa

By / on My Story

Hari ini…Sudah lima hari saya tidak menulis. Sama sekali tidak menulis. Padahal lima hari terakhir ini saya sedang menikmati badai rasa. Manis, asem, asin ramai rasanya. Banyak ungkapan-ungkapan baru yang saya temukan dalam lima hari terakhir kehidupan saya yang sepertinya bagus kalo dijadikan bahan tulisan.

.

Tapi…Saya masih belum ingin menulis. Belum ada bisikan yang menyuruh saya untuk melarikan pena di lembar putih. Ya, saya memang masih sering menulis di atas kertas sebelum dipindahkan ke layar monitor. Ada sebuah romantisme antara saya, pena, dan kertas yang belum ingin saya tinggalkan sepenuhnya.

.

Jadi…Ya sudah, seperti biasa. Saya biarkan saja dunia kata saya tidur dulu. Tidak lama nanti juga saya akan merindu. Seperti kalender saya yang sudah dilipat rindu cahaya purnama selanjutnya di kotamu. Bingung? Jangan dipikirkan… 😀

READ MORE