Meracik Signature Drink Dengan Kopi Dolok Sanggul
Menurut Wikipedia, Dolok Sanggul adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Kota ini terletak di dataran tinggi berhawa dingin sejuk. Warganya mayoritas berpenghidupan sebagai petani. Menurut informasi di sini, tanaman andalan di Humbang Hasundutan adalah kopi, sayur mayur, dan kemenyan. Bagi orang awan, kopi Dolok Sanggul mungkin tidak seterkenal kopi Lintong yang juga berasal dari Sumatera Utara. Saya sendiri baru mulai akrab dengan namanya sekitar 4 bulan belakangan. Nah, kopi Dolok Sanggul yang ingin saya ceritakan kali ini adalah dari Morph Coffee, coffee roaster berbasis di Jakarta yang bisa dibilang cukup baru dalam memulai operasinya. Sedikit cerita tentang asal muasal kopinya, Dolok Sanggul yang disangrai oleh Morph ditanam pada ketinggian 1.400 – 1.600 dpl. Proses pengolahannya menggunakan metode fully washed dan wet hulled. Setelah buah kopi dipetik, kulitnya dikupas dan difermentasikan selama kurang lebih 16 jam dalam kantung plastik tertutup dengan kondisi tidak terkena cahaya. Setelah proses fermentasi, biji kopi dicuci dan dikeringkan selama sehari untuk kemudian dikupas kulit kopi tanduknya ketika kandungan air dalam kopi tinggal sekitar 36%. Proses dilanjutkan dengan mengeringkan biji kopi hingga benar-benar kering dan kandungan air hanya tinggal 12% – 13%. Biji kopi kemudian diistirahatkan selama beberapa hari sebelum dilakukan sorting menggunakan mesin maupun manual dengan tangan lalu …
READ MORE
Lentera jiwa Hideo Gunawan
Saya teringat ketika itu kali pertama saya berkunjung ke Pasar Santa dan singgah di toko kopi milik Christine Tandibua. Saat itu ada seorang pria yang sedang tidur-tiduran di dekat tumpukan karung kopi Toraja Sapan. Saya pikir dia adalah saudaranya karena bentuk wajah yang mirip, yang baru saya ketahui kemudian bahwa sang pria tersebut juga berasal dari Makassar, sama dengan daerah asal Christine. Setelah berkenalan, saya tahu namanya adalah Hideo Gunawan. Seingat saya, ketika kenal di bulan Januari tahun 2012 itu, dia masih bekerja di sebuah perusahaan yang berhubungan dengan audio. Hideo ternyata juga seorang alumni ITB, sama seperti saya, hanya saja angkatannya lebih muda dan berbeda jurusan. Saya lulus dari jurusan Geologi sedangkan Hideo dari Fisika Teknik.
READ MORE
Toko Peralatan Kopi Philocoffee
Buat sebagian orang, ngopi mungkin tidak hanya menjadi bagian dari rutinitas harian. Lebih dari itu, ngopi merupakan sebuah kegiatan eksplorasi citarasa yang menyenangkan dan seringkali mengundang rasa penasaran. Seorang coffee explorer tentu membutuhkan peralatan yang dapat mendukung petualangan kopinya tersebut. Philocoffee project adalah salah satu dari beberapa toko peralatan kopi yang saya tahu. Bermula dari sebuah online store, Philocoffee memiliki misi untuk meningkatkan kualitas pengalaman menikmati kopi bagi para peminum kopi. Jika Anda masuk ke laman www.philocoffeeproject.com, ada begitu banyak jenis barang yang dijual mulai dari grinder, alat seduh manual, espresso maker, bahkan coffee roaster. Selain dari itu Philocoffee juga menjual biji kopi dari beberapa roaster lokal yang sudah memiliki nama baik.
READ MORE
Morning Glory
Salah satu tujuan warga Jakarta melepaskan penat adalah kota Bandung, dan waktu yang pas buat meluncur ke kota tersebut adalah di hari Sabtu pagi. Berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi, badan masih segar, cuaca tidak panas, dan lalu lintas tidak terlalu ramai. Kalau tidak sempat ngopi di pagi hari tidak perlu kuatir. Dua setengah jam kemudian ketika Anda sudah melewati gerbang tol Pasteur, di perempatan pertama belokkan kemudi kendaraan Anda ke kiri ke arah Jalan Suria Sumantri. Ikuti saja jalan menuju arah Setrasari Mall, atau jika Anda buta daerah ini, tanya saja ke tukang jualan rokok di pinggir jalan. Ada apa di Setrasari Mall? Di sini Anda bisa menemukan tempat ngopi dengan suasana nyaman dan kualitas kopi yang tidak main-main. Cari signboard dengan nama Morning Glory. Dari depan mungkin kafe yang berada di deretan ruko ini tampak kecil, tapi masuklah ke dalam dan terus saja masuk hingga sampai ke halaman belakangnya dimana Anda bisa menikmati kopi pagi dengan suasana berbeda. Akhir pekan yang lalu, ada sesuatu yang menarik perhatian saya begitu pertama kali memasuki kafe ini. Di atas sebuah mesin kopi La Marzocco berwarna putih terpampang tawaran menu kopi spesial, Geisha. Wow! Geisha adalah varietas kopi yang berasal dari kota …
READ MORE
Kedai kopi mungil bernama Javva
Letaknya agak tersembunyi di sudut sebuah showroom yang menjual berbagai perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kaca dan porselein. Ukurannya mungil, tidak seperti sosok pemiliknya yang berbadan besar, tetapi menyajikan menu kopi yang berkualitas. Setidaknya nama Adi W. Taroepratjeka, yang wajahnya bisa dilihat di acara Coffee Story yang tayang di Kompas TV setiap hari Rabu jam 9 malam, adalah jaminan Anda mendapatkan pengalaman ngopi yang memuaskan. Dinamakan Javva, kedai kopi ini mendiferensiasikan dirinya sebagai pourover & syphon bar. Anda tidak akan menemukan mesin espresso di sini, jadi jangan mencari cappuccino ataupun latte di daftar menu. Untuk metode pourover, mungkin bisa dibilang Javva termasuk salah satu kedai kopi pelopor di Jakarta. Ada yang baru yang dijual di Javva ketika saya singgah di hari Kamis kemarin, yaitu kopi Papua dari Ontel Coffee. Ini adalah kopi yang diambil dari perkebunan kopi di Lembah Baliem dan di-roast oleh Ephram Angga Adipura dan diberi merek Ontel Coffee. Saya sendiri belum mengenal sosok sang roaster, hanya mengetahui namanya dari label di bagian belakang kemasan Ontel Coffee. Penasaran dengan “barang baru” ini, saya langsung meminta Mbak Rista (soalnya baristanya perempuan) untuk menyeduhnya menggunakan pourover. Hmmm.. Saya suka citarasanya, ada rasa coklat yang bisa didapatkan saat kopi memenuhi …
READ MORE
Christine dan Sapan Coffee
Christine Tandibua, perempuan kelahiran Toraja ini datang ke Jakarta pertama kali di tahun 2006. Sempat bekerja di beberapa perusahaan swasta sebelum akhirnya memutuskan untuk banting stir menjadi seorang pengusaha. Christine memilih berdagang biji kopi yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri, Sapan Minanga, Toraja. Meskipun latar belakang pendidikannya sebagai seorang sarjana elektro mungkin nggak nyambung dengan dunia kopi tetapi Christine tidak gentar. Kebetulan ayahnya adalah pensiunan dari Dinas Perkebunan dan pernah bekerja untuk sebuah perusahaan pengekspor kopi terbesar di Toraja, sehingga Christine sebenarnya tidak benar-benar asing di industri kopi meskipun mengaku masih terus belajar untuk meningkatkan dan menjaga kualitas kopi yang dijualnya. Di Toraja sana, ayahnya membantu mengumpulkan dan menyortir biji kopi dari para petani di desa Sapan sebelum dikirim ke Jakarta. Dimulai dengan berjualan dari rumah kontrakan di tahun 2008, saat ini Christine sudah menyewa sebuah kios di pasar modern dan diberi nama Dapoer Kopi. Saya pertama kali mengetahui sosok Christine dari artikel di blog cikopi dan kemudian berkenalan di sebuah acara bincang kopi pada bulan Oktober tahun lalu, tetapi baru minggu kemarin saya bisa meluangkan waktu untuk singgah di kios kopinya. Menurut saya, Christine adalah orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol dan diskusi. Saya rasa hal ini juga bisa dirasakan oleh …
READ MORE