Sama Tapi Tak Serupa: One Fifteenth & Pandava
Jakarta Selatan mungkin masih menjadi surga bagi penikmat kopi, setidaknya ini menurut pengalaman pribadi saya. Jualan kopi tidak sekedar menjual kafein dalam cangkir, tetapi juga idealisme, semangat, suasana, bahkan sebuah pengalaman yang paripurna. Setiap kedai kopi punya sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan kepada pengunjung. Diferensiasi yang dapat diterima dengan baik oleh konsumen tentunya akan mampu membuat bisnis terus berjalan.
READ MORE
Djournal Coffee, Pemain Baru Muka Lama
Geliat dunia kopi Indonesia yang pelan-pelan bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup membuat Ismaya group tampaknya tidak ingin ketinggalan. Seperti juga resto-resto miliknya yang lebih dahulu lahir, kafe baru ini juga didesain dengan konsep yang kuat. Tidak hanya desain interior yang ciamik dan nyaman, bayi yang diberi nama Djournal Coffee ini juga menampilkan mesin kopi cantik yang berkelas dan tawaran metode seduh alternatif dari biji kopi pilihan.
READ MORE
Getback Coffee: ngopi hangat bersahaja
Saya sering berkhayal ada sebuah coffee shop yang menghilangkan batas antara sang peracik kopi dan pelanggannya. Batas yang saya masuk di sini adalah batas fisik yang biasa disebut bar. Ya, saya membayangkan bagaimana jika di sebuah coffee shop, seorang peminum kopi memiliki sudut pandang yang sama dengan tukang kopi. Berbaur tanpa jarak dan pembatas sehingga tercipta suasana yang cair, tanpa rahasia. Khayalan ini belum menemukan bentuk nyatanya hingga saya menjajal sebuah coffee shop pendatang baru di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Getback Coffee, walaupun saya tidak mengerti arti di balik nama itu, tetapi coffee shop satu ini menerjemahkan dengan baik khayalan saya tentang keakraban sebuah kedai kopi modern. Tampilan luar coffee shop ini mungkin tidak mengesankan, tetapi luangkanlah waktu untuk masuk dan langkahkan terus kaki Anda hingga tiba di ruangan yang ada di balik mesin kopi La Cimbali dan rak yang memajang berbagai peralatan seduh kopi. Sebuah meja panjang dari kayu solid menjadi pusat semesta yang dikeliling oleh segala macam peralatan dan bahan untuk membuat secangkir kopi dan rak yang penuh dengan buku arsitektur dan desain. Duduk di “dapur” Getback Coffee, saya mendapatkan sensasi serasa ngopi di rumah dengan mesin kopi dan barista pribadi. Hal lain yang bisa menambah nikmatnya ritual ngopi tentu saja jika sambil ngumpul bareng teman-teman atau …
READ MORE
Pengalaman masuk daftar hitam
Satu lagi coffeehouse di Jakarta yang memiliki mesin roasting komersial sendiri untuk menyangrai kopi yang disajikannya. Sebuah Diedrich roaster IR series berwarna oranye yang cantik tampak seperti sengaja dipamerkan di koridor mall Puri Indah, Jakarta Barat. Berkapasitas 12 kilogram dan berteknologi infrared burner, mesin ini digunakan untuk menyangrai biji-biji kopi andalan Blacklisted Coffee. Tiga kali seminggu, roaster Blacklisted Coffee menyangrai kopi Brazil, Ethiopia, Honduras, dan juga house blend secara bergantian. Saya sempat berbicang dengan Pak Ong, seorang pastry chef yang juga memiliki pengalaman roasting selama 10 tahun. Menurut cerita Beliau, kafe ini menyangrai kopinya dengan profil city roast. Menurut definisi Sweet Maria, biji kopi yang disangrai dengan profil city roast akan dipanggang hingga akhir bunyi first crack terdengar, tanpa dilanjutkan hingga proses second crack. Hasilnya adalah biji kopi dengan warna coklat terang yang mampu menghantarkan aroma dan citarasa khas masing-masing varietal. Gambaran fisik biji kopi dari berbagai degree of roast dapat dibaca di sini. Selain mesin roasting yang “nongkrong” di depan kafe, hal lain yang menarik perhatian saya ketika mengunjungi Blacklisted adalah sederet peralatan seduh manual yang dipajang di atas chiller. Ada Hario V60, syphon, cold drip, bahkan aeropress. Tapi saya berani bertaruh bahwa alat-alat ini pasti jarang sekali digunakan. Ada kejadian lucu ketika saya ingin memesan kopi Ethiopia dengan french press. Saat itu sang barista tampak agak kebingungan menerjemahkan pesanan saya. Saya sendiri juga jadi …
READ MORE
Go local coffee di my Kopi-O!
Selama ini saya tidak pernah datang khusus untuk ngopi di tempat kuliner yang berlabel atau mengusung konsep kopitiam. Biasanya saya datang ke kopitiam justru untuk mencari makanan dan memesan minuman selain kopi. Namun ketika mendengar kabar bahwa pembeli kopi dengan harga tertinggi di acara Lelang Kopi Spesial Indonesia 2012 yang lalu adalah seorang pemilik jaringan salah satu kopitiam, saya segera saja tertarik untuk mampir mencoba. My Kopi-O! bukanlah nama yang asing karena saya sering melihat logonya ketika mengunjungi beberapa mall. Nah, gerai my Kopi-O! yang akan saya ceritakan di tulisan ini lokasinya ada di mall Living World, Alam Sutera. Jujur saja menurut saya desain interior my Kopi-O! tidak istimewa. Bukan desain yang bisa mengundang ketertarikan dan rasa penasaran saya untuk singgah ketika sedang jalan-jalan di mall Living World ini. Didominasi warna putih yang dikontraskan dengan langit-langit hitam, jika Anda sudah berada di dalamnya, suasana kopitiam ini sebenarnya terasa nyaman, apalagi kalo mendapatkan posisi di kursi panjang berlapis busa. Ketika kita memilih menu di meja, akan terlihat seperti sedang membaca koran karena ukuran yang dibuat menyerupai koran namun dengan layout dan foto makanan yang menarik. Dengan menunya yang sangat variatif, my Kopi-O! memang tidak sekedar kopi. Namun begitu, kopitiam ini tetap …
READ MORE