Tag Archive | "hujan"

Sampai nanti, tak usah menanti

Sampai nanti, tak usah menanti

sosin_leadJakarta yang dilabur hujan, ketika orang-orang sudah terbebas dari kubikel-kubikel. Halte ini dipenuhi mereka, yang dengan rela menjalani garis waktu berulang setiap matahari berganti. Dan petang ini, peluh keikhlasan mereka dihadiahi hujan yang aromanya memadamkan lelah. Aku tersenyum, tak sanggup rasanya bergabung dengan kerumunan itu. Kerumunan yang mengalir pelan menuju pintu bis-bis yang akan mengantarkan hingga tiba di rumah-rumah hangat. Maka berdiamlah aku di satu sudut yang kosong. Mungkin seperti pengecut yang menolak maju berperang. Persetan! Biarlah kamar kos menunggu kepulanganku lebih malam. Sesekali hujan mungkin asyik untuk dikencani dalam halte busway.

Kaca sudut halte yang basah oleh bulir-bulir air. Di sela detik yang malas ku coba menangkapnya tapi, hei…! Tak sopan sekali kaca bening ini jadi penyekat di antara kami! Hujan pun urung bisa kuremas dengan mesra. Kuketuk kaca dengan punggung telunjukku. Sebutir kristal yang melekat padanya luruh.

Seketika aku melihat bayang kristal-kristal yang meluruh di pipinya kemarin malam, ketika hidup mengharuskan kita untuk memilih dan berkompromi.

Sekarang bulan September tahun 2010. Hujan tak jua berhenti menyambangi. Bagaimana bisa dia turun dari langit Jakarta sepanjang tahun ini? Siapa yang meminta? Bisakah aku juga ikut meminta? Meminta supaya tetap bisa menghirup udara Jakarta. Atau meyakinkan hati bahwa jalan ini adalah awalnya?

Sebab hidup yang ada di benakku tak sesederhana ucapanmu dalam kencan malam yang lalu.

“Tidak ada yang perlu dirisaukan. Aku akan menunggu hingga jemariku kamu genggam kembali. Pada-Nya akan kumohonkan keselamatan dan kegemilanganmu selalu.”

Di sempurnanya bulat bola matamu aku berkaca. Ada yang berkecamuk dahsyat memantul sebagai gambar bergerak. Aku tahu itu adalah aku yang memilih diri sendiri sebagai musuh, bertarung melawan pertarungan yang salah. Lalu ketika bening itu pecah berkecai-kecai aku tersadar bahwa kamu juga sedang bertarung, demi aku. Jadi tidak pantas dielu-elukan kalau memang aku harus berjuang demi kita.

Dalam guyuran hujan semua yang ada di jalan terus merangsek maju meski tertinggal oleh lesatan waktu. Detikku masih merambat malas karena dunia lamunan menciptakan rotasinya sendiri. Hingga sebuah pesan cinta tanpa kata cinta sampai di layar Blackberry-ku.

“Jangan pulang terlalu malam. Besok penerbangan pertama bukan?”

Aku tersenyum, tersadar bahwa malam memang terus berjalan. Tiba-tiba aku merasa lupa kalau ada Tuhan di sepanjang waktuku berjibaku. Jodoh kita hadir atas perkenan-Nya. Tak usah menanti, berdoa saja cinta kita tidak disesatkan angin benua agar bisa kembali.

image source: Bill Sosin

Posted in My ImaginationComments (20)

Kepadamu, rinduku tak terucap

Kepadamu, rinduku tak terucap

kopi tubruk“Yem, mau nggak kalo kamu jadi pacarku?” tanyaku di suatu sore di antara gerimis Juni.

“Ya ampun Mas, mintanya kok ya aneh-aneh tho?”

“Bosen, Yem. Tiap kesini mintanya kopi item sama marlboro terus. Padahal yang ditawarin disini nggak cuman itu..”

“Maksudnya apa, Mas. Lha dagangan saya kan emang cuma kopi, sama rokok. Paling juga tambah gorengan.”

“Lha hampir tiap sore kesini aku liatnya bukan cuma itu thok kok, Yem..”

“Ah, Mas ini lho. Emang liat apa lagi?”

“Paras ayu-mu itu lho Yem. Tiap hari menawarkan mimpi. Apa ndak boleh aku pesen yang itu buat dibawa pulang?”

“Ealah Mas. Mbok coba Mas ngaca dulu. Sampeyan ini kurang apa tho? Orangnya baik, ganteng, necis, kerja kantoran, mestinya Mas itu cari pasangan yang sepadan.”

“Sepadan gimana, Yem? Yang tingginya sama maksudnya? Halah Yem, aku tu ndak minta yang aneh-aneh. Pokoknya aku cinta ya wis, langsung aja.”

“Langsung aja gimana? Lha kalo perempuannya ndak menyambut cinta sampeyan piye?”

“Hehe…”, aku cuma bisa nyengir sambil menyeruput hitamnya kopi. Alah Yem, bisa jatuh cinta beneran aku ini sama kamu yang lugas tuntas tanpa tedheng aling-aling. Apa adanya tanpa gagap kata. Aku tidak heran jika kedai kopi di pinggir jalan ini ramai pembeli. Semua obrolan pelanggan ditanggapi dengan ramah dan santai. Kamu selalu melayani mereka setulus hati, penting ataupun tidak penting-nya kedatangan mereka.

“Pelanggan itu rejeki dan rejeki nggak boleh ditolak, Mas.”

“ Yaaa..ya..ya..kamu bener, Yem. Kamu ini sebenernya nggak pantes buka warung kopi di belakang gedung-gedung tinggi ini. Di-makeover dikit kamu udah cocok jadi sekretaris bos.”

“Makeover itu apa tho, Mas?”

“Halah, makeover itu didandanin.”

“Halah, gombalmu, Mas.”

Aku terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang tadinya mengerenyitkan dahi tak mengerti jadi memonyongkan bibir tanda sebal.

Ah, Juni ini Juninya Sapardi. Hujan merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Rahasia sudah menjadi satu paket dengan kehidupan, menjadi pilihan ketika berkata jujur mungkin tidak akan menjadikan keadaan lebih baik. Kepada Iyem aku tidak punya rahasia, tapi aku berbohong waktu bilang ingin menjadikannya pacarku. Pada lain perempuan yang jadi pengisi lamunan, rindu kubiarkan tak terucap, lindap.

Jakarta yang basah, luruh cinta-cinta yang tak kesampaian, mengendap bersama ampas hitam yang terlupakan.

image source

Posted in My ImaginationComments (14)

Juni yang resah

Juni yang resah

train stationDekat sini dekat denganku. Dekat pipiku, dekat telingaku, dekat rambutku. Dekat dadaku, dengar debar jantungku. Dengar gerimis mericik di luar jendela
Duh, kelabu mengapa masih singgah di awal Juni. Seperti resah yang menggelantungi . Seperti kata yang sudah basi. Hujan menghapus jejak, melarikannya ke selokan-selokan buntu. Membiarkanku kuyup dan bingung kelu. Maka dekatlah sini dekat denganku. Redakan gerimis yang di jiwaku
Asu!  hujan yang tak jua reda menahanku tinggal di Jakarta. Sedang kereta senja itu hanya lewat sekali saja.

image source

Posted in My ImaginationComments (3)

Random thoughts

Random thoughts

random_thoughtsKali ini saya mencoba menulis tanpa tujuan, tanpa mempedulikan mood, mengalir saja seperti hendak membuang kata-kata yang tersisa di kepala. Sore ini hujan masih saja mendera Jakarta, entah mengapa ia masih saja betah menyambangi kami yang selalu berharap jam pulang kantor semua berjalan dengan wajar-wajar saja. Hujan seringkali membuat sebuah rencana berantakan bahkan gagal. Menghabiskan waktu yang semestinya dihadiahkan kepada orang-orang terdekat, terhalang deras hujan membuat kita akhirnya berselingkuh dengan jalanan. Lalu kita meminta maaf, atas sesuatu yang di luar dugaan membuat janji kita tak tertepati. Seberapa sering hal-hal tak terduga mampir dalam kehidupan kita? Apakah kita memang bisa membuat rencana?

image source

Posted in My ThoughtComments (4)


PHOTO BLOG

cangkir.tukangkopi.com

Kabar Twitter