Cemburu rembulan
Subuh sedang meregang, sebentar lagi hilang. Semalam bulan yang cemburu merutuki neon, manusia sudah tak peduli lagi, katanya. Kubilang saja, Aku masih peduli. Semalam aku tidak ikut merubungi neon itu. Sang rembulan melengos. Kamu hanya sibuk melamun saja, katanya. Tidak peduli.
READ MOREKepadamu, rinduku tak terucap
“Yem, mau nggak kalo kamu jadi pacarku?” tanyaku di suatu sore di antara gerimis Juni. “Ya ampun Mas, mintanya kok ya aneh-aneh tho?” “Bosen, Yem. Tiap kesini mintanya kopi item sama marlboro terus. Padahal yang ditawarin disini nggak cuman itu..” “Maksudnya apa, Mas. Lha dagangan saya kan emang cuma kopi, sama rokok. Paling juga tambah gorengan.” “Lha hampir tiap sore kesini aku liatnya bukan cuma itu thok kok, Yem..” “Ah, Mas ini lho. Emang liat apa lagi?” “Paras ayu-mu itu lho Yem. Tiap hari menawarkan mimpi. Apa ndak boleh aku pesen yang itu buat dibawa pulang?” “Ealah Mas. Mbok coba Mas ngaca dulu. Sampeyan ini kurang apa tho? Orangnya baik, ganteng, necis, kerja kantoran, mestinya Mas itu cari pasangan yang sepadan.” “Sepadan gimana, Yem? Yang tingginya sama maksudnya? Halah Yem, aku tu ndak minta yang aneh-aneh. Pokoknya aku cinta ya wis, langsung aja.” “Langsung aja gimana? Lha kalo perempuannya ndak menyambut cinta sampeyan piye?” “Hehe…”, aku cuma bisa nyengir sambil menyeruput hitamnya kopi. Alah Yem, bisa jatuh cinta beneran aku ini sama kamu yang lugas tuntas tanpa tedheng aling-aling. Apa adanya tanpa gagap kata. Aku tidak heran jika kedai kopi di pinggir jalan ini ramai pembeli. Semua obrolan pelanggan ditanggapi …
READ MOREJuni yang resah
Dekat sini dekat denganku. Dekat pipiku, dekat telingaku, dekat rambutku. Dekat dadaku, dengar debar jantungku. Dengar gerimis mericik di luar jendela Duh, kelabu mengapa masih singgah di awal Juni. Seperti resah yang menggelantungi . Seperti kata yang sudah basi. Hujan menghapus jejak, melarikannya ke selokan-selokan buntu. Membiarkanku kuyup dan bingung kelu. Maka dekatlah sini dekat denganku. Redakan gerimis yang di jiwaku Asu! hujan yang tak jua reda menahanku tinggal di Jakarta. Sedang kereta senja itu hanya lewat sekali saja. image source
READ MORE