Kepadamu, rinduku tak terucap
“Yem, mau nggak kalo kamu jadi pacarku?” tanyaku di suatu sore di antara gerimis Juni. “Ya ampun Mas, mintanya kok ya aneh-aneh tho?” “Bosen, Yem. Tiap kesini mintanya kopi item sama marlboro terus. Padahal yang ditawarin disini nggak cuman itu..” “Maksudnya apa, Mas. Lha dagangan saya kan emang cuma kopi, sama rokok. Paling juga tambah gorengan.” “Lha hampir tiap sore kesini aku liatnya bukan cuma itu thok kok, Yem..” “Ah, Mas ini lho. Emang liat apa lagi?” “Paras ayu-mu itu lho Yem. Tiap hari menawarkan mimpi. Apa ndak boleh aku pesen yang itu buat dibawa pulang?” “Ealah Mas. Mbok coba Mas ngaca dulu. Sampeyan ini kurang apa tho? Orangnya baik, ganteng, necis, kerja kantoran, mestinya Mas itu cari pasangan yang sepadan.” “Sepadan gimana, Yem? Yang tingginya sama maksudnya? Halah Yem, aku tu ndak minta yang aneh-aneh. Pokoknya aku cinta ya wis, langsung aja.” “Langsung aja gimana? Lha kalo perempuannya ndak menyambut cinta sampeyan piye?” “Hehe…”, aku cuma bisa nyengir sambil menyeruput hitamnya kopi. Alah Yem, bisa jatuh cinta beneran aku ini sama kamu yang lugas tuntas tanpa tedheng aling-aling. Apa adanya tanpa gagap kata. Aku tidak heran jika kedai kopi di pinggir jalan ini ramai pembeli. Semua obrolan pelanggan ditanggapi …
READ MORE